Jumaat, 24 Julai 2026

Riwayat Singkat Gerakan Aceh Merdeka


RIWAYAT SINGKAT
ACEH BANGUN SESUDAH TIDUR
BEBERAPA PULUH TAHUN YANG LALU

Sebelum Belanda melancarkan kekuasaanya di Aceh dengan sangat kejamnya. Negara/Kerajaan Aceh adalah demikian aman dan tentram, apabila Negara/Kerajaan Aceh adalah Negara yang kelima dengan rakyat paling banyak beragama Islam didunia sesudah ‘Arab, Persia, Turki dan Maroko.

Negara Aceh banyak ssekali menghasilkan rempah-rempah, seperti lada, rotan, damar, Kemenyan dan lain-lain.

Oleh sebab itu saudagar-saudagar Eropa banyak berdatangan ke Aceh untuk memperoleh bahan-bahan tersebut, yaitu Portugis, Inggris dan Belanda.

Mereka membuat hubungan dagang dengan Aceh hanya di laut saja yaitu Selat Malaka, sedang mereka tidak pernah menginjak Negara Aceh dalam urusan perdagangan barang-barang tersebut.

Semasa Sulthan ‘Alaiddin Ri’ajah Syah memerintah Negara/Kerajaan Aceh sejak tahun 1589 sampai dengan tahun 1607, banyak pedagang-dagang asing yang kunjung ke Aceh. Diantara orang-orang asing itu terdapat orang-orang Belanda, antara lain :
1. Cornelis de Houtman.
2. Fredriek de Houtman.
Atas propokasi Portugis, Cornelis de Houtman di bunuh, sedang adiknya Fredriek de Houtman dipenjarakan. Dalam penjara ia menulis kamus Melayu yang pertama.

Prins Maurits yang memerintah Bataafsche Republik di Negeri Belanda mengirim sepucuk surat kepada Sulthan ‘Alaiddin Ri’ajah Syah tanggal 11 Desember 1600 meminta diadakan hubungan persahabatan dan perdagangan dengan Negara/Kerajaan Aceh.

Permintaan itu disetujui oleh Sulthan ‘Alaiddin Ri’ajat Syah serta mengirim Dutanya yang terdiri dari :
1. Abdoel Hamid.
2. Laksamana Seri Moehammad.
3. Mir Hasan.
Abdoel Hamid

Abdoel Hamid meninggal di Negeri Belanda, dimakamkan di Niddelburg Zeeland. Ketika itu datang pula ke Aceh Sir James Lancaster dari Inggris. Sulthan ‘Alaiddin Ri’ajah Syah manggkat pada tahun 1607 diganti oleh Darmawangsa alias Tun Pangkat alias Seri Perkasa Alam atau lebih terkenal dengan dengan nama :
Soelthan Iskandar Muda Memerintah dari tahun 1607 sampai dengan 1636.

Semasa Soelthan Iskandar Muda dapat menaklukkan :
1. Aru takluk dari Johor tahun 1612
2. Pahang tahun 1618
3. Tahun 1619 dapat direbut :
1. Kedah
2. Patani
3. Deli sampai Palembang
4. Soematra Barat sampai ke Bengkulu.

Pedagang yang datang ke Aceh dengan armada yang lengkap, oleh sebab itu maka Negara Aceh pun harus mempersiapkan armadanya menurut kesanggupannya dan siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Pada ketika itu terbentuk Armada Inong Balee dengan Laksamananya seorang perempuan yang bernama Keumala Hayati.

Pernah terjadi pertempuran dengan Belanda.

Belanda merasa dirinya sudah kuat, hampir seluruh daerah-daerah dan Pulau-pulau sudah dikuasainya, terutama Pulau Djawa sudah dikuasainya pada penghabisan abad XVI.

Jenderal Van Swieten membuat perjanjian dagang, perdamaian dan persahabatan dengan Sulthan ‘Alaiddin Mansoer Sjah pada tanggal 30 Maret 1857.

Di antara daerah-daerah yang belum dikuasai oleh Belanda ialah Aceh. Oleh sebab itu, Belanda berusaha mencari hubungan dengan orang-orang yang simpati kepada Belanda.

Dengan perantaraan orang yang berkuasa di daerah Meuraksa Aceh Rayeek mengirim seorang Panglima Perangnya menjemput Belanda untuk didaratkan kedaratan Negara Aceh.

Pada tanggal 4 April 1873 Belanda mulai mendarat kedaratan Negara Aceh......

Pada tanggal 4 April 1873 Belanda mulai mendarat kedaratan Negara Aceh yang dipimpin oleh Jenderal J.H.R. Kohler.
Armada Negara Aceh mempertahankan Masjid Baiturrahman dan Keraton Kerajaan Aceh.

Karena Belanda bermaksud untuk menguasai Masjid Baiturrahman dan Keraton Kerajaan Aceh, maka terjadi pertempuran mulai tanggal 6 April 1873.

Dalam pertempuran itu bala tentara Negara Aceh berhasil menembak Jenderal Kohler dibawah Masjid Baiturrahman pada tanggal 10 April 1873.

Belanda menamakan batang kayu itu “Kohler Bom” artinya batang kayu Kohler.
Pada batang kayu itu Belanda menulis “Kohler Bom”.

Nama Kohler Bom yang tertulis pada batang kayu itu sampai pada tahun 1919 masih dapat dibaca oleh orang yang datang ke Koeta Radja.

Karena pertempuran itu terjadi di halaman Masjid Baiturrahman, maka Masjid itu dibakar oleh Belanda.

Untuk melembutkan hati orang Aceh, Masjid Baiturrahman yang sudah dibakar itu dibangun kembali oleh Gubernur  General Van Der Heiden pada tanggal 9 Oktober 1879 dengan 1 (satu) Kubah, berbentuk Palang Salib. Ini Gubernur Belanda pertama untuk aceh kemudian beralih kepada gubernur hindia belanda hingga sekarang gubernur Indonesia untuk wilayah pendudukan di aceh.

Banyak Masjid berbentuk Palang Salib dibangun oleh Belanda di Aceh. Selain dari Masjid Baiturrahman di Koeta Radja, Masjid Alue Batee di Bereuneun pun berbentuk Palang Salib. Masjid Alue Batee sekarang diberi nama Masdjid Baitoel ‘Azma.

Pada tahun 1935 oleh Gubernur General Van Aken Masjid Baiturrahman dibuat 3 kubah.

Untuk memperluas halaman Masjid Baiturrahman, Kohler Bom itu di potong pada tahun 1936.

Bentuk Palang Salib Masjid Raya Baiturrahman, pada tahun 1948 diubah ketika Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-eh menjadi Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo.

Tahun 1967 ketika A. Hasyimi menjadi Gubernur Indonesia untuk Aceh, kubah Masjid Baiturrahman ditambah menjadi 5 kubah.

Tahun 1993 ketika......

Tahun 1993 ketika Ibrahim Hasan menjadi Gubernur Indonesia untuk wilayah pendudukan di Aceh, Masjid Baiturrahman diperindah lagi, dibangun 5 menara dan 7 kubah.

Belanda menyerang Aceh terdiri dari Serdadu Belanda sendiri dibantu oleh Sedadu Djawa, Madura, Ambon dan Manado. Karena seluruh daerah-daerah itu sudah dijajah oleh Belanda.

Karena persejataan Belanda lebih ampuh dari persenjataan Bala Tentara Negara/Kerajaan Aceh, maka pasukan Negara Aceh tidak lagi berperang secara Spontan tetapi berubah secara gerilya, mundur kedaerah pedalaman Negara Aceh yaitu ke daerah Aneuk Galong diseberang Krueeng Aceh, disebelah Timur Lam Baro.

Bala Tentara Kerajaan Aceh dipimpin oleh Panglima Tertingginya Soelthan Moehammad Dawoed.

Dalam pertahanan Kota Aneuk Galong, Tgk.Tjhik Moehammad Amin syahid pada tahun 1896. 

Tangal 3 Desember 1910 Tgk.Tjhik Ma’ad putra Tgk.Tjhik Moehammad Amin syahid.

Tanggal 19 Mei 1910 Jenderal Sehmiedt di Tanggse mencari jejak Tgk. di Bukit.

Tanggal 21 Mei 1910 Tgk.di Bukit syahid sesudah mempertahankan diri beberapa hari lamanya.

Tanggal 31 Agustus 1910 Jenderal Sehmiedt berangkat dari Tanggse mencari jejak Tgk.Mat Jed.

Sebelum itu Keuchik Ben Bajan membawa seekor sapi untuk diserahkan kepada Tgk.Mat Jed.

Ketika Jenderal Sehmiedt sampai ketempat Tgk.Mat Jed terjadi pertempuran antara pasukan Tgk. Mat Jed dengan pasukan Jenderal Schmiedt, menjebak Tgk. Mat Jed syahid pada tanggal 5 September 1910.

Hal ini semua terjadi disekitar Gunung Halimun.

Untuk mempertahankan Kerajaan Aceh dari dijajah oleh Belanda, seluruh Rakyat Aceh dengan dipimpin oleh Ulama dimasing-masing tempat menjadi tentara MOESLIMIN.

Tgk.Tjhik di Tiro yaitu Tgk.Tjhik Moehammad Saman serta dengan........

Tgk.Tjhik di Tiro yaitu Tgk. Tjhik Moehammad Saman serta dengan pengikut-pengikutnya berangkat dari Tiro ke Aceh Rayeek menggabungkan diri dengan Bala Tentara Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Soelthan Moehammad Dawoed sebagai Radja Kerajaan Aceh yang penghabisan sejak penghabisan Abad XIX(19) permulaan Abad ke XX(20).

Oleh Panglima Tertinggi mengangkat beberapa orang Panglimanya akan memimpin peperangan melawan tentara Belanda. Karena Permaisuri Soelthan Moehammad Dawoed Potjoet di Tjot Moerong sudah ditangkap oleh Belanda dibawa ke Sigli, Soelthan patah semangatnya untuk melanjutkan peperangan melawan Belanda.

Oleh sebab itu maka pimpinan perang diserahkan kepada Tgk.Tjhik di Tiro oleh Panglima Tertinggi dengan dibantu oleh T.Umar Meulaboh.

T. Umar Meulaboh kemudian Belot bersatu dengan bala tentara Belanda.

Sesudah beberapa lama T. Umar Meulaboh bersatu dengan tentara Belanda. Kemudian kembali bersatu dengan Tgk. Tjhik di Tiro dengan membawa lari senjata-senjata yang direbut dari tentara Belanda.

Menurut filsafah T. Umar Meulaboh dalam saboh seuriweuen "hana dua boh manok agam", artinya dalam satu kandang tidak ada dua ekor ayam jantan.

Maka T.Umar mencari jalan untuk menyingkirkan Tgk.Tjhik di Tiro supaya tidak lagi menjadi Panglima Perang memimpin pasukan Bala Tentara Aceh.
Rencana itu diperoleh dengan mencari seekor burung Beureukiek. Burung itu disembelih oleh T.Umar, sesudah dibersihkan daging burung itu diserahkan kepada seorang perempuan yang biasa memasak nasi untuk pasukan Tgk.Tjhik di Tiro. Sesudah daging burung itu dimasak diserahkan kembali pada T.Umar.

Oleh T.Umar daging Beureukiek yang sudah masak itu diserahkan kepada Pang Aboe orang yang sangat akrab dengan Tgk.Tjhik di Tiro.

Dengan tak ada usul periksa, daging burung itu dimakan oleh Tgk. Tjhik di Tiro, menyebabkan Tgk.Tjhik di Tiro mangkat karena makan daging burung Beureukiek yang sudah dibumbui racun oleh T.Umar.
(Perawi dari Kuffar Snouk Hergrogne)

Menurut Snouk Hergrogne Tgk.Tjhik di Tiro mangkat pada bulan Januari 1891. Mayat Tgk.Tjhik di Tiro dikuburkan di Moereue daerah sebelah Utara Indra Puri.

Perjuangan melawan Belanda langsung dipimpin oleh T. Umar bersama dengan Istrinya Tjoet Njak Dhien.

Karena T.Umar tak sanggup berperang melawan Belanda maka beliau melarikan diri.

Tentara Belanda terus mengejar dari belakang.

Sampai diujung Kalak Meulaboh T.Umar ditembak oleh Tentara Belanda, ia jatuh tersungkur, mayatnya dibawa lari oleh pasukannya kedalam hutan TOETOET untuk dikebumikan.

Isteri T.Umar, Tjoet Njak Dhien melanjutkan perjuangan suaminya tetapi kemudian dapat ditangkap Belanda, diasingkan ke Pulau Jawa, meninggal di Sumedang Jawa Barat pada tanggal 6 November 1908.

Ketika pimpinan Perang Aceh diserahkan oleh Soelthan Moehammad Dawoed kepada Tgk.Tjhik di Tiro, Soelthan mengasingkan diri.

Pada tahun 1903 Soelthan Moehammad Dawoed beserta putranya Tuanku Ibrahim ditangkap Belanda, diasingkan ke Pulau Ambon kemudian dipindahkan ke Betawi atau Jakarta sekarang.

Di Jakarta Soelthan Moehammad Dawoed mangkat.

Teukoe Oemar Djohan Pahlawan bukan gelar yang diberikan oleh orang Aceh, bukan pula gelar yang diberikan oleh Indonesia karena ciri-ciri Indonesia baru lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 ketika adanya Sumpah Pemuda di Surabaya pada tanggal tersebut, tetapi gelar itu diberikan oleh Belanda.

Untuk melancarkan peperangan melawan gerilyawan Aceh yang sudah berserak seluruh Aceh. Belanda berusaha membuat Rel Kereta Api dari Koeta Radja ke Seulimum.

Dari Seulimum denan melalui Gunung Seulawah, Rel Kereta Api dibuat sampai ke Sigli.

Dari Sigli disambung terus sampai ke Samalanga, dari Samalanga di diteruskan ke Bireuen dan Lhokseumawe, terus ke Besitang Sumatera Utara melalui Langsa dan Kuala Simpang.

Menurut catatan yang dapat dibaca pada Rel Kereta Api. Kereta Api Aceh dibangun pada tahun 1901 dengan diberi nama Aceh Tram.

Jalan Raya dari Kota Raja ke Sigli baru siap dikerjakan

Jalan Raya dari Kota Raja ke Sigli baru siap dikerjakan dan diresmikan pada tahun 1924.

Dengan demikian Belanda maju setapak demi setapak sambil mengangkat orang-orang yang kepercayaannya ditiap-tiap daerah seorang UleeBalang atau Zelbestuurder yang memerintah dalam satu-satu Landschap atau kecamatan sekarang.

Dengan Zelbestuurder itu Belanda membuat Korte Verkelaring atau perjanjian pendek, yang Isinya :
1. Bersedia dengan Seri Maharaja Belanda.
2. Musuh Belanda adalah musuh Zelfbestuurder sebaliknya sahabat Belanda adalah sahabat Zelbestuurder.

Sesudah Belanda mengangkat Zelbestuurder- Zelbestuurder ditiap-tiap Landschap, umumnya Rakyat Aceh sudah tidur nyenyak tidak lagi berperang melawan Belanda.

Oleh sebab itu maka dengan mudah Belanda melancarkan kekuasaanya dengan mengeluarkan peraturan-peraturan.

Peraturan-peraturan itu disuruh jalankan pada Ulee Balang-Ulee Balang ditiap-tiap daerah kekuasaannya masing-masing.
Antara lain-lain :
1. Tiap-tiap penduduk dalam tiap-tiap kampung diwajibkan mengambilkan Gampong Kaart sekarang dinamai kartu penduduk.
2. Penduduk yang sudah berumur diatas 15 tahun dan tak ada harta dikenakan Belasting sebanyak F 1.50,-(satu rupiah lima puluh sen) sekarang dinamai Pajak.
3. Kalau sudah sampai 3 tahun Belasting itu tidak dibayar oleh penduduk, maka hartanya dijual oleh Ulee Balang atau ditahan dikantor Ulee Balang selama 15 hari. Makan diantar oleh istrinya tiap-tiap hari 2 atau 3 kali.

Sekalipun demikian Belanda merasa tidak aman, karena pada satu-satu daerah ada terjadi pertempuran dengan orang-orang Aceh secara kecil-kecilan.

Pada tahun 1913 T.Ben Titeue, Zelbestuurder Kecamatan Titeue menikam Letnan Kolonel W.B.J.A.Scheepens, Komandan Marechouse di Lam Meulo.

Pada tahun 1913 T.Ben Titeue, Zelbestuurder Kecamatan Titeue menikam Letnan Kolonel W.B.J.A.Scheepens, Komandan Marechouse di Lam Meulo.

Tahun 1927 terjadi peperangan antara Tentara Belanda dengan pasukan T.Tjoet Ali di Bakongan Aceh Selatan, Menyebabkan Kolonel Gousenzon Panglima Tentara Belanda dibacok mukanya oleh pasukan T.Tjoet Ali sehingga, orang Aceh menamai Kolonel Irot artinya Kolonel Sumbing dan Kapten Paris Komandan Marechouse Tanggse dibunuh oleh pasukan T.Tjoet Ali.

Pada tahun 1927 Partai Komunis Indonesia (P.K.I.) sudah berkembang di Samalanga, oleh sebab itu banyak pemuda-pemuda Samalanga masuk angota P.K.I. antara lain termasuk seorang putra dari TGK.HAJI MALEM seorang Ulama Besar di Tanjongan Barat bernama Tgk.Abdoel Hamid. Karena Tgk.Abdoel Hamid sudah masuk P.K.I. maka ia selalu diintip intip oleh Pemerintahan Belanda untuk ditangkap.

Pada tahun itu (1927) T.Tjhik Moehammad Ali Basjah Zelbestuurder Samalanga berhenti dari jabatannya diganti oleh puteranya T.Moehammad menjadi Ulee Balang Samalanga. T.Tjhik Moehammad Ali Basjah bermaksud untuk pergi menunaikan Rukun Islam ke lima ke Tanah Suci Makkah, bersama dengan 40 orang pengiringnya. 

Oleh sebab itu maka T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mencharter kapal K.P.M. (Koningkelijke Pakkat Vaar Maataschappij) dan sudah berlabuh di Kuala Samalanga.

T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mengetahui bahwa Tgk.Abdoel Hamid mau ditangkap oleh Pemerintah Belanda karena masuk P.K.I. maka dipanggilnya Tgk.Abdoel Hamid.

Sesudah Tgk.Abdoel Hamid tiba, T.Tjhik Moehammad Ali Basjah mengatakan, bahwa Tengku akan ditangkap oleh Pemerintah Belanda karena Tengku sudah menjadi anggota P.K.I.

Untuk menghindari supaya Tengku tidak ditangkap oleh Pemerintah Belanda ada lebih baik Tengku berangkat dengan saya ke Makkah untuk menunaikan Rukun Islam yang Kelima, yang disertai juga oleh 40 orang yang sudah siap-siap untuk berangkat.

Kapal K.P.M. (Koningkelijke Pakkat Vaar Maataschappij) sudah saya charter dan sedang berlabuh ke Kuala Samalanga.
Kalau Tengku setuju harus bersiap-siap dari sekarang karena besok pagi kita berangkat.

Anjuran T.Tjhik Moehammad Ali Basjah diterima baik oleh Tgk.Abdoel Hamid dan besoknya terus berangkat bersama dengan rombongan 40 orang itu.

Sesudah menunaikan Rukun Islam ke Lima, Tgk.Abdoel Hamid tidak pulang bersama T.Tjhik Moehammad Ali Basjah, hanya tinggal di Makkah menjadi penampung jama’ah Haji yang baru datang dari Aceh. Dengan sebab itu ia bergelar Tgk.Sjech Abdoel Hamid. Selama di Makkah Tgk.Abdoel Hamid memperhatikan perkembangan-perkembangan dan kemajuan Ulama-ulama di Makkah.

Berhubung dengan itu ia mengirim surat ke Aceh dialamatkan kepada Tgk.Hadji Abdoellah udjong Rimba, meminta supaya Ulama-ulama di Aceh mengubah cara bergerak untuk mencapai kemajuan, tidak lagi sebagai keadaan sekarang.

Sesudah surat diterima dan diperhatikan oleh T.Hadji Abdoellah Oedjong Rimba dibawa ke Garot untuk diperlihatkan kepada Tgk.Yan Garot yaitu Tgk.Moehammad Amin seorang Ulama tua yang berpengaruh didaerah Pidie. Tgk.Yan memperhatikan isi dan maksud surat tersebut tak ada sambutanya, karena bersamaan dengan rencana Komunist.

Karena surat itu tak ada sambutan dari Tgk.Yan Garot, Maka Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh meminta surat itu dari Tgk.H.Abdoellah Oedjong Rimba.

Sesudah diperhatikan dan ditelaah, Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh bermaksud akan membawa surat itu untuk diperlihatkan kepada Tgk.Hoesin Pulo Pandjoe, seorang Ulama yang berpengaruh didaerah Poelo Pandjoe.

Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh mengirim utusan untuk menjumpai Tgk.Hoesin Poelo Pandjoe sambil mengirim pesan, bahwa beliau akan berbuka puasa di Masjid Poelo Pandjou, dengan sebab itu beliau miminta supaya segala Ulama-ulama didaerah Poelo Panjdjoe turut berbuka puasa di Masjid Poelo Pandjoe karena pada hari tersebut adalah tanggal 1 bulan Ramadhan tahun itu.

Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh berangkat ke Poelo Pandjoe berbuka puasa dengan Ulama-ulama yang hadir.

Sesudah shalat tarawih, surat yang dikirim oleh Tgk.Abdoel Hamid di Mekkah diperlihatkan kepada Ulama-ulama tersebut.

Sesudah dibaca dan diperhatikan isi dan maksud surat tersebut, Ulama yang hadir menerima baik dan menjujung gagasan yang dikemukan oleh Tgk.Abdoel Hamid.

Besoknya surat itu dibawa kembali oleh Tgk.Moehammad Dawoed Beureu-eh diserahkan kepada Tgk.Yan Garot, sambil memberi penjelasan-penjelasan dari Ulama-Ulama di Poelo Pandjoe sangat setuju sebagai yang dimaksud dan yang dikehendaki oleh Tgk.Abdoel Hamid.

Beberapa orang Ulee Balang sudah mengetahui dan sudah memberi persetujuannya, terutama :
1. T. Pakeh Mahmoed
2. T. Bentara Pineueng
3. T. Moeda Dalam
4. T. Ahmad Aree
5. T. Tjhik Peusangan
Wakil-wakil Tuanku Raja Keumala yang dikirim untuk menyertai permusyawaratan itu terdiri dari :
1. Tgk. H. Ahmad Hasballah Indrapuri.
2. Tgk. Sjech Ibrahim
3. Dan lain-lain.
Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan, seluruh Ulama-Ulama yang dihubungi dan diundang turut hadir semua.
Dalam musyawarah itu surat yang dikirim oleh Tgk. Abdoel Hamid di Makkah dirumuskan bersama-sama.
Semua memberi pendapat dan menyetujui apa yang dianjurkan.

Keputusan musyawarah Ulama-Ulama yang berlangsung di Garot pada tahun 1928 Membentuk Jam’ijatuddiniyah dengan gagasanya mendirikan sekolah-sekolah yang akan diajarkan Ilmu Agama dan Ilmu Umum.

Djam’ijatuddijah yang terbentuk di Garot itu mulai membuka sekolahnya di Peukan Pidie pada sebuah gedung pendidikan yang terbuat dari batu.

Kemudian di pindahkan ke Blang Paseh suatu tempat yang terletak di sebelah Timur Kota Sigli.

Masdjid,Gedung Sekolah dan Asrama-asrama dibangun diatas sebidang tanah yang dihadiahkan oleh Tgk. Bentara Pineueng Zelfbestuurder Landchap Pineung. Selain dari tanah kebun itu dihadiahkan satu neuheun (Tebat Ikan).
Rumah pendidikan itu dinamai Madrasah Adabijah. Murid yang diterima terdiri dari.
1. Lulusan Gouvernement Inlandsche School
2. VolksSchool
3. Dari Dayah-dayah.

Tgk. di Yan Garot sesudah mendengar penjelasan-penjelasan dari Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-Eh, menyatakan bahwa beliau pun setuju sebagai yang dimaksud.

Berhubung dengan itu Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-Eh mengemukakan pendapat bahwa untuk menlanjutkan dan melaksanakan anjuran Tgk. Abdoel Hamid lebih baik diadakan permusyawaratan dengan Ulama-Ulama disekitar Pidie ini dan Ulama-Ulama didaerah Aceh seluruhnya. Untuk itu memerlukan persiapan-persiapan, beras dan lauk pauk serta lain-lain yang dirasa perlu untuk menyambut Ulama-Ulama tersebut.

Selain dari itu untuk menyemarakkan itu nanti ada lebih baik kita hadirkan Tuanku Raja Keumala di Kota Raja serta kawan-kawan beliau dan harus ada orang untuk menjemput beliau. Untuk menjemput Tuanku Raja Keumala pun jatuh kepada Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-Eh juga.
Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-Eh pergi ke Kota Raja langsung ketempat peristirahatan Tuanku Raja Keumala di Pelangkahan.

Kebetulan Tuanku Raja Keumala pada waktu itu dalam keadaan kurang sehat menurut keterangan orang yang menjaga Tuanku Raja Keumala dan merawat beliau.
Dengan sebab demikian Tgk. Moehammad Dawoed Beureu-Eh meminta supaya menyampaikan salamnya kepada Tuanku Raja Keumala.

Mendengar nama Tgk. Moehammad

Saudagar Aceh Yang Mendanai Indonesia Kemudian Di Khianat.

Penulis : Iskandar Norman.

Meski rakyat Aceh sudah menyumbang dua pesawat Dakota, Seulawah RI 001 dan Seulawan RI 002, untuk Republik Indonesia pada tahun 1948. 


Namun, negara yang baru berusia tiga tahun, tak punya dana untuk menjalankan diplomasi ke luar negeri.

Residen Aceh mencetak uang kertas sendiri untuk perdagangan ke Malaysia dan Singapura. Uang itu dikenal dengan nama Rupiah Oripsu.


Sebagaimana dijelaskan dalam buku Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh, terbitan Djabatan Penerangan Atjeh, Djoeli 1948. 

Ketika Presiden Soekarno datang ke Aceh pada tanggal 15 Juni 1948, ia menggunakan pesawat Seulawah RI 002, sementara pesawat Seulawah RI 001 digunakan Menteri Luar Negeri (Mendagri) H Agus Salim untuk misi diplomasi ke berbagai negara di Asia.

Masalahnya adalah, meski dua pesawat sumbangan rakyat Aceh itu sudah beroperasi, namun negara tak punya dana untuk membiayai diplomasi ke luar negeri. Lagi-lagi rakyat Aceh yang harus menanggung beban ini.

M Nur El Ibrahimy dalam buku Tgk Daud Beureueh Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, terbitan Gunung Agung, tahun 1982 menjelaskan, untuk mendalangi dana diplomasi Mendagri tersebut.

Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia saat itu Mr Ali Budiardjo, memerintahkan Jhon Lie untuk menyeludupkan karet milik saudagar Aceh ke Malaysia, hasil perdagangannya akan digunakan untuk biaya diplomasi Mendagri ke berbagai negara di Asia.

Para saudagar Aceh yang terkenal pada masa itu adalah Abdul Gani Mutiara, Muhammad Saman dari PT Puspa, Muhammad Hasan dari asosiasi Perdagangan Indonesia Muda (PIM), Nyak Neh dari perusahaan Lho’ Nga Co, serta saudagar dari perusahaan exspor impor NV Permai.

Pengusaha Aceh menyelundupkan karet ke Semenanjung Malaysia. Penyelundupan itu dikoordinir oleh Oesman Adamy di Aceh Timur.

Di Malaysia penjualan barang-barang komoditi dari Aceh itu diurus oleh para pengusaha Aceh di sana yang tergabung dalam Gabungan Saudagar Aceh (Gasida), diantaranya adalah pengusaha Ali Basyah Tawi, Teuku Manyak, dan Ja’far Hanafiah.

Ironisnya, ketika perekonomian dalam negeri sudah berangsur berjalan dengan baik. Pemerintah melarang ekspor impor dari Sumatera Utara. 

Nasib pedagang Aceh yang mati-matian berjuang mendanai Republik Indonesia kemudian terpuruk. 

Larangan ekspor impor dari Sumatera Utara itu dikeluarkan oleh Syarifuddin Prawira Negara melalui Peraturan Wakil Perdana Menteri Nomor. 02/1949/WPM tanggal 22 September 1949. 

Kemudian diperparah lagi dengan Peraturan Wakil Perdana Mentri Nomor.01/1949/WPM tanggal 17 Oktober 1949 yang melarang pengutipan bea ekspor impor di Sumatera Utara.

Lebih ironis lagi kemudian negara mengingkari dan menolak pembayaran hutang saudagar Aceh. 

Hanya Muhammad Saman yang berhasil memperoleh pembayaran dari negara, itu pun setelah digugat ke pengadilan. 

Hutang getah saudagar Aceh untuk mendanai operasional negara dan perjalanan diplomasi Mendagri H Agus Salim ke luar negeri, hingga kini masih menjadi ironi sejarah yang terlupakan.[]