Sabtu, 20 Jun 2026

Aceh bukan warisan belanda.


[SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN: INDONESIA SEBENARNYA BERUTANG NYAWA PADA ACEH!] 

Buku cetak sejarah di sekolah selama ini ternyata bohong besar? Ratusan juta orang Indonesia sengaja dinina-bobokan oleh satu mitos: bahwa pada 17 Agustus 1945, wilayah dari Sabang sampai Merauke otomatis sah jadi milik Republik.

Padahal, fakta hukum internasional berkata sebaliknya. Indonesia merdeka di atas tanah yang klaim penjajahnya cacat hukum sejak awal! Wilayah itu bernama: ACEH.
Gak percaya? Ini bukti data internasional yang gak bakal bisa dibantah oleh siapapun di kolom komentar:
1. Tipuan Sejarah Tahun 1903 

Buku sejarah bilang Perang Aceh selesai tahun 1903 karena Sultan Muhammad Daud Syah menyerah.

* Faktanya: Sultan cuma menyerah secara personal karena permaisuri dan anak bayinya disandera Belanda.
* Buktinya: Di Arsip Nasional Belanda (Den Haag), Surat Penyerahan Kedaulatan Negara (Akte van Afstand) yang pakai Cap Sikureung Kesultanan Aceh itu KOSONG! Gak pernah ada tanda tangan Sultan! Belanda cuma pegang tanda tangan paksaan dari bupati-bupati lokal (uleebalang). Secara hukum internasional, dokumen itu BATAL DEMI HUKUM! Belanda gak pernah sah menjajah Aceh secara penuh!

2. Belanda Main Curang Lewat "Traktat Sumatra 1871" 
Dunia Barat itu sudah mengakui Aceh negara merdeka sejak Traktat London 1824. Tapi tahun 1871, Inggris dan Belanda kongkalikong bikin Traktat Sumatra untuk serang Aceh.

* Hukum Internasional Menolak: Ada asas global berbunyi Pacta tertiis nec nocent nec prosunt. Artinya: Perjanjian gak boleh merugikan pihak ketiga yang gak ikutan tanda tangan. Aceh gak pernah diundang! Jadi, agresi Belanda ke Aceh itu ilegal. Hukum perdatanya jelas: Belanda gak bisa mewariskan tanah Aceh ke Indonesia, karena Belanda sendiri gak pernah punya surat tanah yang sah atas Aceh!

3. Aceh Bukan "Tanah Kosong" Warisan Belanda 
Dalam hukum perang dunia, negara dianggap runtuh kalau kena Debellatio (ditaklukkan total sampai hukum baru tegak merata). Di Aceh, Belanda GAGAL total! Sampai tahun 1942, Belanda cuma berani sembunyi di dalam benteng (konsentrasi stelsel).

* Status 1945: Lewat asas State Continuity, kedaulatan Aceh gak pernah mati. Otoritasnya pindah ke lembaga Wali Nanggroe dan para Ulama. Jadi pas Jepang kalah tahun 1945, Aceh itu berdiri sebagai negara merdeka de facto, bukan tanah kosong sisa jajahan!

 4. "Prank" Administratif Jakarta Tahun 1950 
Jakarta tahu posisi hukum dan militer Aceh terlalu kuat. Makanya, mereka gak pakai jalur hukum, tapi pakai jalur "air mata".

* Sumpah di Hotel Atjeh (1948): Presiden Soekarno menangis di depan Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Minta modal beli pesawat pertama (RI-001 Seulawah) dan janjiin otonomi syariat Islam secara lisan.

* Janji Tinggal Janji: Begitu Indonesia diakui dunia lewat KMB 1949 dan posisi Jakarta sudah aman, modal dari Aceh langsung dikunci. Tahun 1950, Jakarta sepihak mengeluarkan PP Nomor 5 Tahun 1950 yang MEMBUBARKAN Provinsi Aceh dan melemparnya jadi bawahan Sumatera Utara (Medan). Status Aceh langsung diturunkan dari "Mitra Setara" menjadi "Daerah Bawahan".

Edukasi untuk Anak Muda Aceh: Kalian Gak Ditolong, Kalian yang Menolong! 💡
Buat anak muda Aceh, jangan pernah merasa inferior. Tahun 1945, Aceh bergabung dengan Indonesia BUKAN karena Aceh daerah miskin yang diselamatkan oleh proklamasi Jakarta.
Aceh adalah negara berdaulat yang secara sadar menghibahkan kedaulatan, menyumbang emas, membelikan pesawat, dan menyediakan Radio Rimba Raya demi tegaknya negara baru bernama Republik Indonesia.

Lahu kenapa Kesultanan Aceh gak bangkit lagi tahun 1945? Karena elite lokalnya waktu itu pecah fokus dalam perang saudara (Perang Cumbok). Celah perpecahan internal inilah yang dimanfaatkan dengan sangat rapi oleh birokrasi Jakarta untuk mengunci kontrol mereka sampai hari ini.

Kesimpulan: Integrasi Aceh ke NKRI itu adalah produk kecerdikan politik Jakarta yang memanfaatkan keluguan sosiologis rakyat Aceh. Tanpa kerelaan rakyat Aceh melupakan cacat hukum Pax Nederlandica demi solidaritas, klaim Indonesia atas ujung barat Nusantara ini cuma di atas kertas kosong!
Silakan disalin, dibagikan, dan tag temanmu yang suka debat sejarah! Mari pintar berbasis data, bukan sekadar katanya! 📢👇

REFERENSI & DATA ARSIP INTERNASIONAL (SIAPKAN JARI UNTUK SCREENSHOT):

   1. Ketiadaan Tanda Tangan Sultan Aceh / Dokumen Kosong:
   * Nationaal Archief Den Haag (Arsip Nasional Belanda), Inventaris Arsip Algemeene Secretarie & Korte Verklaringen (Plakat Pendek) Sumatra Barat/Aceh (1903–1910). Tidak ditemukan Akte van Afstand (Surat Penyerahan Wilayah Resmi) bertanda tangan Sultan Muhammad Daud Syah.
   2. Bukti Pengakuan Kemerdekaan Aceh oleh Dunia Barat:
   * Treaty of London 1824 (Traktat London 1824), Pasal yang menjamin independensi kedaulatan Kesultanan Aceh dari agresi asing.
   3. Bukti Pelanggaran Hukum Internasional oleh Eropa:
   * Sumatra Treaty 1871 (Traktat Sumatra 1871), Dokumen kesepakatan sepihak Inggris-Belanda yang melanggar asas hukum global Pacta tertiis nec nocent nec prosunt (Perjanjian tidak mengikat pihak ketiga). Dokumen resmi diterbitkan oleh Her Majesty's Stationery Office (HMSO), London.
   4. Bukti Pembubaran Provinsi Aceh secara Sepihak oleh Jakarta:
   * Lembaran Negara Republik Indonesia: Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Utara dan Peleburan Wilayah Administratif Aceh.
   
------------------------------

Isnin, 1 Jun 2026

Wang Keresidenan Aceh.

Mengapa Pemerintah Republik Indonesia mengizinkan Aceh mengeluarkan mata uang sendiri pada awal kemerdekaan?

Oleh Iskandar Norman.

Menarik untuk mengetahui mengapa Pemerintah Republik Indonesia mengizinkan Aceh mengeluarkan mata uang sendiri pada awak kemerdekaan?

Dari beberapa referensi yang saya baca, salah satunya dari buku Aceh Daerah Modal, kemudian buku Sekali Republiken Tetap Republiken, dan buku Batu Karang di Tengah Lautan, ketiga buku ini ditulis oleh Kepala Seksi Publikasi Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Teuku Alibasjah Talsya dan diterbitka pada tahun 1990 oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA) atas bantuan Menteri Koperasi Bustanil Arifin. 

Kuduanya, Teuku Alibsjah Talsya dan Bustanil Arifin merupakan mantan perwira militer yang terlibat aktif dalam perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh.

Teuku Alibsjah Talsya menjelaskan, pada awal-awal kemerdekaan, Republik Indonesia belum memiliki mata uang sendiri, transaksi keuangan masih diakukan dengan beberapa jenis mata uang, baik mata uang pemerintah kolonial Belanda keluaran Javashe Bank yang masih beredar, maupun mata uang keluaran Jepang yang sering disebut sebagai uang Nipon.

Paca bom Hiroshima dan Nagasaki, kekuatan Jepang dilucuti Sekutu yang diboncengi Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration (NICA).

Dalam bidang ekonomi, NICA yang ingin mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia melakukan penukaran mata uang. Mata uang yang beredar di Indonesia, terutama mata uang yang dikeluarkan oleh Jepang ditarik dan ditukar dengan mata uang baru yang dinamai Nederlands-Indische Gulden) yang juga dikeluaran Javashe Bank, bank milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia.

Kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi ingin digerogoti. Mencermati hal itu Wakil Presiden Muhammad Hatta mengirim surat ke Komite Nasional Aceh, memberitahukan persoalan tersebut, ia berpesan agar Aceh yang tidak bisa dimasuki oleh tentara Sekutu/NICA mengeluarkan mata uang sendiri. 

Bagi Wakil Presiden Muhammad Hatta, Aceh adalah modal untuk membangkitkan kedaulatan ekonomi Republik Indonesia yang sedang pincang.

Menanggapi hal tersebut, para pemuda Aceh pada 17 Oktober 1945 merebut percetakan Hodoka milik Jepang di Kota Banda Aceh, Residen Aceh Teuku Nyak Arief juga berhasil menekan Jepang, sehingga petinggi Jepang di Aceh (Aceh Syu-Tyokan) S Iono menyerahkan 600 pucuk senjata untuk rakyat Aceh dengan syarat tantara Jepang di Aceh tidak diganggu.

Perebutan senjata Jepang kemudian menjalar ke berbagai daerah, jumlah senjata yang dilucuti puluhan ribu pucuk dari berbagai jenis, cukup untuk kebutuhan beberapa Batalyon pasukan bersenjata.

Selain itu Resdien Aceh juga merebut secara paksa lima pabrik senjata Jepang di Aceh, yakni pabrik senjata di Pangkalan Militer Lhonga (Aceh Besar), pabrik senjata di Lameulo/Kota Bakti (Pidie), pabrik senjata di Peureulak (Aceh Timur), pabrik senjata di Redelong (Gayo), dan pabrik senjata di Macan Kumbang (Aceh Tenggara). 

Tank-tank dan meriam milik Jepang dilucuti, dengan perbekalan senjata itu pula, rakyat Aceh kemudian menghalau Sekutu/NICA di Front Medan Area (Sumatera Utara). Tentang ini bisa dibaca dalam buku Aceh Daerah Modal, Long March ke Medan Area terbitan Yayasan Seulawah RI 001, Jakarta, 1992.

Preside Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta paham betul bahwa Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh Sekutu/NICA merupakan modal besar. Dana dan dokumen perjuanga LN Palar dan diplomat Indonesia di luar negeri dikirim dari Aceh. 

Untuk memudahkan ekspor impor dari Aceh demi menghimpun dana perjuangan, maka Aceh diberi kewenangan untuk menerbitkan mata uang sendiri, mata uang itu dinamai Oeang Republik Indonesia Daerah Atjeh (Oerida).

Uang Oerida dicetak dipercetakan Hodoka milik Jepang yang sudah diambil alih oleh Residen Aceh. Oerida dikeluarkan di Aceh juga dikarenakan Residen Aceh Teuku Nyak Arief menerima pemberitahuan dari Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia untuk seluruh Sumatera, MR Teuku Muhammad Hasan, bahwa Sekutu/NICA telah membagi-bagikan uang keluaran baru di Jawa dan beberapa daerah lain di Sumatera.

Dalam kawatnya MR Teuku Muhammad Hasan menjelaskan, Belanda telah mengeluarkan uang kerta dengan tulisan Nederlansch Indiche Gouverements. Sisi kiri uang tersebut bergambar dua singa dengan kroon (mahkota) dan sebelah kanan gambar Ratu Wilhelmina.

Mata uang baru keluaran NICA tersebut ditandatangani oleh Hubertus Johanes van Mook selaku Waarnemend Gouverneur Generaal van Nederlansch Indie dan Direkteur Secretaris de Javasche Bank.

Selain uang kertas NICA juga mengeluar uang koin dari logam tembaga bernilai satu sen dan uang ketip yang dibuat dari timah. 

Bentuk uang baru NICA tersebut hampir sama dengan uang yang dikeluarkan VOC Belanda sebelum perang. Pemerintah Residen Aceh melarang uang keluaran Sekutu/NICA tersebut beredar di Aceh. Segala transaksi keuangan di wilayah Residen Aceh harus dilakukan dengan mata uang Oerida.[]>

***
Uang Oerida bernilai 50 sen dari beberapa jenis Oerida yang dikeluarkan Residen Aceh [foto:Repro: Teuku Alibajah Talsya]

Laras meriam dari pabrik senjata Lhoknga yang digunakan pejuang Aceh dari Pasukan Meriam Nukum Sanany untuk menggempur Belanda/Sekutu di Fron Medan Area [foto: Repro: Teuku Alibasjah Talsya]

Khamis, 14 Mei 2026

Tiga Benteng Islam di jazirah melayu.


Aceh, Pattani, Melaka: Tiga Benteng Islam Nusantara
----------------------

Dulu…

Kalau mahu melihat kekuatan Islam di Nusantara, lihat tiga nama ini...Kesultanan,

Melaka.
Aceh.
Pattani.

Tiga benteng.
Tiga pelabuhan ilmu.

Tiga dunia Melayu-Islam yang pernah menguasai laluan laut Asia Tenggara.

Melaka menjadi jantung perdagangan dunia abad ke-15.

Pedagang Arab, Gujarat, China dan Nusantara bertemu di sana.

Bahasa Melayu menjadi lingua franca.
Jawi berkembang.

Islam tersebar bukan dengan pedang semata-mata… tetapi melalui akhlak, perdagangan dan ilmu.

Kemudian datang Portugis pada 1511.

Melaka jatuh.
Tetapi Islam Nusantara tidak mati.

Aceh bangkit.

Kesultanan Aceh menjadi kuasa besar yang menentang Portugis habis-habisan.

Ulama dari seluruh Nusantara datang belajar di sana.

Sebab itu Aceh digelar “Serambi Mekah”.

Dalam masa sama, Pattani di utara Semenanjung berkembang sebagai pusat ilmu Islam Melayu.

Kitab-kitab Jawi lahir dari pondok Pattani.

Ramai ulama Pattani mengajar sampai ke Mekah.

Ironinya…

Hari ini ramai orang Melayu sendiri tidak sedar bahawa dunia Melayu pernah mempunyai rangkaian tamadun Islam yang sangat besar dan tersusun.

Mereka sangka Melayu cuma bangsa kecil yang dijajah sana sini.

Padahal suatu ketika dahulu…
Laut Nusantara dipenuhi kapal Melayu-Muslim.

Pelabuhan Melayu menjadi rebutan dunia.

Dan kuasa Barat datang bukan kerana Nusantara lemah…

Tetapi kerana Nusantara terlalu kaya dan strategik.

Namun sejarah juga mengajar sesuatu yang pahit...

Benteng yang hebat boleh runtuh apabila dunia Melayu mula berpecah.

Melaka jatuh.
Pattani dipisahkan.
Aceh dilemahkan.

Dan akhirnya kuasa asing mula menguasai satu demi satu wilayah Nusantara.

⁉️ Soalan...

Kalau Aceh, Pattani dan Melaka masih kuat dan bersatu hari ini, bagaimana rupa dunia Melayu-Islam sekarang?

Rujukan Ringkas

Anthony Reid — Southeast Asia in the Age of Commerce
Azyumardi Azra — jaringan ulama Nusantara
Tome Pires — Suma Oriental
Denys Lombard — sejarah Aceh
Sejarah Melayu / Sulalatus Salatin

#Aceh #Pattani #Melaka #SejarahMelayu #MalayDiscovery

Sumber : Malay Discovery

Khamis, 22 Januari 2026

Mengenang 24 tahun syahidnya Abdullaah Syafi'i

Untuk hal-hal baik yang sudah diberikan oleh Tgk Lah, mari kita hadiahkan Al Fatihah. Semoga #BangsaAceh selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.