Selasa, 1 September 2026

Menyelamatkan tokoh pejuang aceh di malaysia hingga ke swedia.


SUATU HARI BERSAMA TAN SRI DATO' SANUSI JUNID DI HOTEL DHARMAWANGSA JAKARTA.

TAN SRI DATO' SANUSI JUNID adalah tokoh Malaysia keturunan Aceh, pernah menjabat sebagai Menteri Pembangunan Nasional & Pedesaan Malaysia, Menteri Pertanian, Menteri Besar Kedah, Sekretaris Jenderal Partai UMNO & Presiden Universiti Islam Antar Bangsa, beliau juga pernah menjadi Ketua Perkumpulan orang Aceh sedunia yg banyak berperan saat musibah tsunami Aceh tahun 2004.

Sekitar pertengahan September tahun 1980, Tan Sri Dato' Sanusi Junid dipanggil oleh Perdana Menteri Malaysia, Tun Sri Mahatir Muhammad, beliau mengatakan kalau ada warga Aceh, yang waktu itu dalam perlindungan UNHCR akan dibawa kenegara ketiga, UNHCR hanya bisa membawa mereka dengan seizin pemerintah Malaysia.

Sedangkan Menteri Dalam Negeri Dan Luar Negeri Malaysia waktu itu berbeda sikap soal ini, Perdana Menteri diminta untuk memutuskan atas nasib para pelarian dari Aceh ini, yang diberitakan terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka, dan mereka adalah tokoh-tokoh aceh yang sedang diburu oleh Pemerintah Indonesia, foto-foto mereka sudah disebarkan oleh Intelijen dan Militer Indonesia sebagai orang-orang yang paling dicari, dalam istilah internasional mereka disebut sebagai 'wanted pictures', menyembunyikan atau melindungi mereka adalah tindakan yang sangat berbahaya.

Menteri Dalam Negeri Malaysia, yang waktu itu dijabat oleh Tan Sri Ghazali Syafei, dengan tegas menyatakan tidak setuju merestui pelarian dari Aceh ini diserahkan ke UNHCR, dia menyarankan agar di kembalikan saja ke Indonesia melalui Kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur, agar tidak menimbulkan permasalahan dengan Pemerintah Indonesia yang sudah mengetahui keberadaan mereka di Malaysia & Singapura.

Sedangkan Menteri Luar Negeri, Datuk Sri Tengku Ahmad Rithauddin Ismail , atas nama kemanusiaan menyarankan kepada Perdana Menteri, agar permintaan UNHCR tersebut dikabulkan saja, karena kalau orang-orang Aceh yang mengaku dirinya sebagai proklamator dan pejuang Aceh Merdeka ini dipulangkan ke Indonesia, pasti sesampai di sana akan dibunuh atau dihukum mati.

Atas polemik kedua menterinya itu, Tun Sri Mahatir Muhammad memanggil dan meminta saran kepada Tan Sri Dato' Sanusi Junid, yang waktu itu sebagai pejabat tinggi UMNO, yg kemudian menjabat sebagai Setia Usaha Agung Partai UMNO (Sekretaris Jenderal Partai), yg juga menjabat sebagai Menteri Pembangunan Nasional & Pedesaan Malaysia.

Dan alasan yang paling kuat kenapa Tan Sri Mahatir Muhammad meminta pertimbangan dari Tun Sri Sanusi Juned, karena beliau adalah Tokoh berpengaruh di Malaysia keturunan Aceh.

Ayahnya Teungku Junid bin Cut Ali dan Ibunya Juariah binti Nyak Oesman dikabarkan berasal dari Beurawe Banda Aceh, bahkan istrinya adalah anak kandung dari Teungku Hasballah Daud yang merupakan anak pertama dari Tgk Muhammad Daud Bereuh, artinya istri beliau adalah cucu kandung dari Teungku Muhammad Daud Beureu-èh, tokoh yang sangat berpengaruh dalam menyatukan Aceh ke Indonesia dalam masa-masa awal kemerdekaan, walau akhirnya pada sekitar tahun 1950-an bergabung ke gerakan DI/TII pimpinan Imam Kartosuwiryo yang berpusat di Jawa Barat atas sebab Pengkhianatan sukarno meleburkan aceh dalam sumatra.

Perdana Menteri Mahatir sangat khawatir apabila masalah ini menjadi berlarut-larut, bagaimanapun dia harus menjaga hubungan baik dengan Jakarta, khususnya dengan Presiden Suharto, Mahatir tidak mau urusan pelarian dari Aceh ini akan membuat masalah hubungan Malaysia dan Indonesia terganggu, peran dan posisi Suharto saat itu sangat strategis serta menentukan untuk kawasan Asia Tenggara.

Perdana Menteri Mahatir menunjukan selembar surat yang diajukan oleh kepala perwakilan UNHCR di Kuala Lumpur, ditanda tangani oleh Mr. Ali Muhammad, kalau beberapa pelarian dari Aceh sudah diterima suaka oleh Pemerintah Swedia, tinggal menunggu persetujuan dari Kerajaan Malaysia untuk dikeluarkan melalui Bandara Kuala Lumpur.

"Tun Sri Syafei dan Datuk Ritauddin (Mendagri & Menlu Malaysia) berbeda pendapat soal ini, bagaiamana pendapat Tun Sri Sanusi Junid?" tanya PM Mahatir.

"Sebaiknya atas nama kemanusiaan saya sependapat dengan Datuk Rithauddin, sebaiknya pelarian dari Aceh tersebut kita serahkan ke UNHCR untuk diserahkan kepada negara ketiga" jawab Tun Sri Sanusi Junid, hal-hal yang dibutuhkan kita permudah, agar interpol dan intelijen Indonesia tidak bisa mengambil mereka hingga berada dalam wilayah suaka, kebetulan saat itu banyak pelarian dari Vietnam yang sedang diurus keberangkatannya ke Eropa dan Amerika Serikat, sebaiknya keberangkatan mereka disamarkan dengan keberangkatan pengungsi yang lain.

Saran dan masukan dari Tun Sri Sanusi Junid ini didengar dan diaminkan oleh Perdana Menteri Mahatir, seketika itu juga Perdana Menteri menghubungi Menteri Luar Negeri untuk mengabulkan surat permohonan dari UNHCR, agar mereka yang dalam perlindungan UN bisa diterbangkan ke negara ketiga secepatnya. Tidak lama kemudian rombongan pertama bisa diberangkatkan dengan bendera UN ke Swedia oleh UNHCR dengan menggunakan pasport International Red Cross.

Kisah ini saya peroleh langsung dari Tun Sri Dato' Sanusi Junid, pada bulan Agustus tahun 2002 di Hotel Dharmawangsa Jakarta. Saya catat dengan rapi dalam buku catatan kecil, kebetulan waktu itu hp masih jadul, dan belum bisa digunakan sebagai catatan. Saya beruntung mendapat cerita ini dari sumber asal. Komunikasi saya dengan Tun Sri berjalan baik, terutama saat saya duduk di parlemen sampai beliau meninggal dunia.

Kebetulan adik istri Tun Sri Sanusi Junid menikah dengan Pon Riza, Pon Riza Singajuru adalah abang kandung dari Bang Erwin Moeslimin Singajuru, Sekjen GM FKPPI sebelum saya yang sudah seperti keluarga sendiri.

Istri Tun Sri bernama Nila Inangda Hasballah, anak Tgk Hasballah Daud, cucu kandung dari Tgk Muhammad Daud Bereu-èh.

Saat resepsi pernikahan Pon Riza di Hotel Dharmawangsa Jakarta, mungkin saya satu-satunya orang Aceh yang hadir yang kemudian diperkenalkan secara pribadi dengan Tun Sri, yang namanya sudah lama saya dengar.

Karena pembicaraan malam itu menarik dan waktu terbatas, saya diminta kembali lagi besok paginya, mulai dari sarapan pagi sekitar jam 8.00 pagi sampai sekitar pukul 11.30 siang. Tun Sri berbicara panjang lebar soal kisah-kisah pelarian orang Aceh di Malaysia, Tun bicara secara detil bagaimana Wali Tgk Hasan Tiro selama di Malaysia dalam catatan pemerintah Malaysia, dan siapa sebenarnya Teungku Malik Mahmud, dan apa pekerjaan sebenarnya beliau di Singapura. Data-data intelijen Malaysia yang dia dapatkan waktu itu sangat akurat.

Kisah-kisah itu mungkin akan saya ceritakan di hari dan waktu yang tepat.

Allahyarham Tun Sri Dato' Sanusi Junid meninggal dunia pada usia 74 tahun, hari Jum'at, 9 Maret 2018 dikediamannya di Pantai Dalam, Kuala Lumpur, Malaysia Sedangkan mantan Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Dato' Mahatir Muhammad masih hidup sampai hari dalam usia 101 tahun.

Demikian di tulis oleh Bang Sayed

Tiada ulasan:

Catat Ulasan