Memaparkan catatan dengan label Gerakan Aceh Merdeka. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Gerakan Aceh Merdeka. Papar semua catatan

Khamis, 26 Ogos 2021

Andaikan GAM Kalah dan Berhasil Ditumpas


Sepanjang era 1992 hingga 1995, setidaknya ada enam orang lelaki dewasa yang tidak saya kenali, singgah di rangkang kami yang dibangun oleh almarhum Bapak di tengah ladang. Saya tidak mengenali satupun di antara mereka. Bapak juga tidak pernah bercerita.

Jikalau saya tidak salah ingat, setiap kali tamu-tamu itu beranjak pergi, seusai makan siang, mata tetamu itu sembab. Bahkan saya sempat mendengar isak yang luar biasa dari dalam rangkang gle. Bila tamu-tamu itu datang, Bapak melarang kami berteduh di bawah rangkang yang terbuka itu. Otomatis, aksi “spionase” tidak bisa saya lakukan. Karena harus berteduh di bawah pohon kelapa yang masih berusia muda, kala itu.

“Mereka pengikut Hasan Tiro. Kalau kata Pak Camat, mereka itu adalah GPK,” terang Bapak kepada Ibu.

“Lalu kenapa Bapak terima? Apakah itu tidak berbahaya bagi kita dan anak-anak?” Sergah Ibu, kala itu.

“Entahlah. Yang Bapak tahu mereka tidak seperti yang dicitrakan oleh Pemerintah di koran-koran. Bahkan tiga dari tamu kita itu bukan GPK, cuma korban fitnah dan kini diburu oleh Kopassus,” imbuh Bapak.

Saya mendengar itu kala Bapak dan ibu terlibat perbincangan serius pada suatu malam. Dialog suami istri itu sembari berbisik. Beruntung, karena penasaran dengan kehadiran “orang asing” ke kebun, jiwa spionase saya telah memberikan keuntungan.
***
Tidak mudah menjadi anggota Gerakan Aceh merdeka (GaM) atau kala itu dikenal dengan Aceh Merdeka (AM) atau oleh Pemerintah Indonesia menyebutnya Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Foto-foto pentolan AM disebar di berbagai sudut kota kabupaten hingga kecamatan. Dicari hidup atau mati, demikian tulisan di pamflet itu. Wajah-wajah itu adalah Hasan Tiro dan kabinetnya.

Hasil propaganda pemerintah kala itu, telah berhasil membangun image bahwa GPK adalah kelompok penjahat yang kejam, tidak berperi kemanusiaan, pemerkosa, ekstrimis dan setara dengan komunis. Dalam tiap HUT RI yang dipusatkan di ibukota kecamatan atau kantor pembantunya, pembina upacara selalu membacakan pidato tentang betapa berbahayanya GPK bagi stabilitas daerah. Seruan-seruan agar GPK segera turun gunung dan bertaubat gencar dilakukan dalam rangka memperkuat indoktrinasi terhadap penduduk.

Pada dekade itu, sudah seringkali ditemukan jenazah tanpa kepala, atau jenazah utuh yang tidak bisa lagi dikenali. Setiap ABRI datang, selalu disebutkan, bahwa jenazah itu adalah korban GPK atau GPK itu sendiri.
***
Bagi saya GPK adalah hantu yang membuat penasaran. Saya dalam kapasitas sebagai bocah SD penyuka ilmu sejarah, mencoba mencari tahu. Namun, karena terbatasnya informasi, GPK kemudian menjadi tanya besar di benak saya. Bertanya kepada Bapak, beliau malah marahi saya “Aneuk mit bek Jak meupolitek. Jak sipak anoe keudeh u bineh krueng.” Saya masih terngiang kalimat itu. Serasa legend untuk “membunuh” rasa ingin tahu yang saya miliki.

Saya mulai melek tentang GPK, kala di Jakarta meledak reformasi 1998. Begitu dominasi Orde Baru runtuh, saya terkaget dengan fakta bahwa selama Operasi Jaring Merah atau lebih dikenal dengan Daerah Operasi Militer (DOM) (1989-1998) telah banyak terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh ABRI (Sekarang TNI dan Polri). Laporan tentang bumi hangus, pemerkosaan, pembunuhan, penculikan, bertubi-tubi mengisi indera dengar. Informasi-informasi itu pelan-prlan mulai maujud sebagai hantu yang mengerikan.

Pamflet dari Aceh Merdeka (AM) dengan mudah ditemukan, demikian juga yang dirilis oleh mahasiswa dari ragam buffer aksi. Di sisi lain, kala itu ABRI tidak lagi terlihat agresif. Mereka sudah seumpama anak manja yang tertangkap tangan sedang mencuri mangga.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, gelombang kebencian terhadap Jakarta pun menemukan puncaknya. Bukan hanya AM, tapi hampir semua elemen kemudian memberikan ruang bagi GAM untuk memainkan perannya di lapangan. Seolah telah hadir Ratu Adil atau Imam Mahdi, GAM kala itu menjelma menjadi harapan baru bagi rakyat yang telah sekian puluh tahun dibungkam dengan ketakutan.

***
Perlawanan GAM yang didukung oleh rakyat Aceh, kemudian secara berangsur-angsur pun kembali bisa dipatahkan oleh serdadu republik. Penerapan sejumlah operasi militer seperti Operasi Dadar Rencong, Operasi Cinta Meunasah, Operasi Pemulihan Keamanan hingga Darurat Militer dan Darurat Sipil, membuat GAM remuk redam. Eskalasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh serdadu pemerintah semakin gencar. Bumi hangus pemukiman warga, teror, sweeping, pemerkosaan, penculikan, pembantaian dan penangkapan secara sewenang-wenang, membuat rakyat terpojok dan takut.

Kita tentu belum lupa dengan tragedi Beutong Ateuh (pembantaian Teungku Bantaqiyah), Tragedi Simpang KKA, pembantaian Arakundo, penyiksaan di Rumoh Geudong Pidie, penyiksaan di Gedung KNPI Aceh Utara, peristiwa Cot Pulot Jeumpa, tragedi bumi hangus Juli Keude Dua, dan ratusan hingga ribuan tragedi kemanusiaan lainnya di Aceh.

Serdadu pun memainkan politik adu domba. Elit GAM dicitrakan sebagai perampok.Panglima AGAM seperti Abdullah Syafei dikabarkan sebagai pengumpul harta yang hidup mewah di Jakarta. Bahkan ada serdadu yang mengaku bila Teungku Lah adalah TNI yang disusupkan ke tubuh AGAM.

“Istri Abdullah Syafi’i itu bergelimang emas di seluruh tubuhnya. Iya kaya raya dan sombong,” kata seorang serdadu berstrip dua balok merah.

Hingga akhirnya tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 memaksa kedua belah pihak untuk berunding yang kesekian kalinya, yang kemudian melahirkan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Kedua belah pihak bersepakat berhenti bermusuhan dengan sejumlah syarat.

***
Di luar Aceh, GAM atau GPK mendapatkan kesan merupakan sebuah gerakan separatis yang sangat jahat. Citra GAM sebagai gerombolan perampok, ekstrimis dan teroris begitu melekat di benak orang-orang Indonesia. Hal ini bahkan masih saya temukan kala empat tahun usai perdamaian, ketika saya sedang melakukan perjalanan ke beberapa daerah di luar Aceh.

Sebagai orang Aceh yang tidak buta politik, saya tentu menyadari bahwa propaganda Penguasa berjalan sistematis. Jangankan orang luar, sebagian orang Aceh juga percaya bila GAM adalah organisasi penjahat setara teroris yang hendak melawan pemerintah yang sah. Maka tidak heran bila Tengku Hasan di Tiro dicitrakan serba negatif. Tak ada sedikitpun kebaikan di dirinya.

Sebagai penikmat sejarah, dengan latar belakang perjuangan GAM, saya pun mengulik sejumlah pemberontakan di Indonesia. Baik itu Permesta, PRRI, DI/TII, dan lainnya, rata-rata dilatarbelakangi oleh ketidakadilan Pemerintah Pusat, baik di era Orla maupun Orba. Namun karena mereka berhasil dikalahkan, maka buku-buku sejarah yang dibuat oleh penguasa, menceritakan semua perlawanan itu sebagai sesuatu yang sangat jahat.

Saya kira Allah masih sayang kepada GAM. Tsunami adalah bentuk ketegasan Allah agar konflik yang berkepanjangan tersebut segera redam. Beberapa waktu sebelumnya tsunami, GAM sudah terisolir. Mereka kalah karena Darurat Militer sangat ketat mempersempit ruang gerak GAM. Semua gerilyawan tersudut ke gunung, logistik mereka sekarat. Tidak sedikit yang menyerahkan diri.

Dapat Anda bayangkan bila GAM benar-benar kalah dan tsunami tak pernah ada. Maka hari ini kita takkan pernah memuji Hasan Tiro, kita takkan pernah tabik kepada Muzakkir Manaf dan lainnya. Bahkan kita takkan mau berteman dengan mantan GAM dan keluarganya. Karena apa? Bila kalah maka GAM akan menjadi pesakitan politik yang gerakannya akan difatwakan haram (bughah) karena melawan pemerintah yang sah. Perihal betapa kejamnya republik terhadap Aceh, takkan pernah dibicarakan dalam literatur. Akhirnya, hanya butuh dua puluh tahun untuk mengindokrinasi kepala generasi muda Aceh (generasi unyu-unyu) yang malas membaca tapi gemar berkomentar, agar mereka sukses membenci GAM.

Bila pelabelan negatif itu sukses, maka GAM tidak akan pernah lagi berani peh-peh dada seperti hari ini. Mari iktibar!

Sumber : AcehTrend
Penulis : Muhajir Juli

Sabtu, 24 Julai 2021

43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka

43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka
Tgk Hasan Muhammad Di Tiro, saat berada di Aceh setelah damai, foto diambil Februari 2010. Dok: pribadi
Hari Ulang Tahun (HUT) atau Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke-43 tak lagi diperingati dengan upacara bendera bulan bintang di hutan-hutan. Tapi, sebagian mantan kombatan GAM memperingatinya dengan doa bersama di makam Deklarator GAM, Tgk Hasan Muhammad Di Tiro, Gampong Manggra, Kecamatan Indrapuri Aceh Besar, Rabu (4/12).

Aceh telah damai, sejak kesepakatan menghentikan konflik ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam.

Bagaimana Tgk Hasan Tiro memulai pemberontakan? Apa pemicunya? Dan bagaimana kisah akhir hayatnya? acehkini merangkumnya, diperkaya dengan dokumen foto-foto beliau. Berikut kisahnya, sebagian diceritakan Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haythar, karib seperjuangannya dulu.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (1)
Tgk Daud Beureueh, saat turun gunung. Dok. istimewa/acehmagazine
Bermula dari konflik Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada 21 September 1953, setelah Tgk Daud Beureueh menyatakan Aceh menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia, mengikuti jejak Kartosoewirjo di Jawa Barat. Perlawanan bersenjata dimulai.

Teungku Mahmud, Ayahnya Tgk Malik Mahmud yang tinggal di Singapura, terlibat langsung mendukung Daud Beureueh, jabatannya sebagai duta. Rumahnya menjadi tempat singgah bagi tokoh-tokoh yang ke luar negeri mencari perbekalan perang dan membangun diplomasi dengan negara luar. Kerap menjadi tempat mengadakan rapat-rapat. Tak heran, rumah selalu ramai dan jadi terminal bagi orang Aceh yang ke sana. “Rumoh di Singapura lagee meunasah (seperti meunasah),” kisah Tgk Malik.

Kala itu, Tgk Malik masih berusia 14 tahun, anak sekolahan. Banyak merekam perbincangan rekan ayahnya, membuat Malik muda paham mendalam tentang Aceh dalam perjuangan dan politiknya. Perlahan dia tertarik, dan karena masih muda, menyimpan hasratnya untuk ikut serta.

Malik muda sering mendapat tugas membaca surat yang datang dari para tokoh gerakan. Dia disuruh baca oleh ayahnya, setelah itu dia juga menulis balasan, sesuai dengan perintah sang Ayah. Juga bertugas sebagai pencuci foto kegiatan DI/TII di Aceh. Dia banyak melihat gambar ketika foto sudah jadi.

Tgk Hasan Di Tiro dikenal Tgk Malik pertama kali lewat surat menyurat dengan ayahnya. Tgk Hasan Tiro, saat itu kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Columbia, Amerika Serikat. Sambil belajar, dia juga bekerja pada dinas penerangan delegasi Indonesia di PBB.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (2)
Hasan Tiro muda bersama Ummi Potjut Fatimah. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Sebuah kejadian pembunuhan ratusan masyarakat Aceh dalam perang DI/TII di Aceh mengubah hidupnya, pada 1954. Insiden itu dikenal sebagai tragedi Pulot Cot Jeumpa, di kawasan Leupung Aceh Besar. Saat itu, ratusan warga dibunuh tentara pemerintah karena dikaitkan dengan pemberontakan DI/TII. Peristiwa diberitakan beberapa media nasional seperti Indonesia Raya. Lalu ditulis kembali oleh media terbitan luar negeri sepeti New York Times, Washington Post yang terbit di Amerika Serikat.

Hasan Tiro menilai pembunuhan massal itu sebagai bentuk genosida. Dia melancarkan protes ke pemerintah Indonesia, mengirim ultimatum kepada Perdana Menteri (PM) Indonesia, Ali Sastroamidjojo, yang dianggapnya telah bertindak fasis. Surat terbuka tersebut kemudian membuat heboh Indonesia, apalagi surat itu disiarkan oleh beberapa surat kabar Amerika dan beberapa surat kabar di Indonesia terbitan Jakarta, seperti Abadi, Indonesia Raya, dan Keng Po.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (3)
Tgk Hasan Tiro (tengah), Oktober 2008. Foto: Suparta
Dalam surat itu, secara terang-terangan Hasan Tiro mengatakan bahwa kabinet Ali sastroamidjojo, telah menyeret bangsa Indonesia ke dalam lembah reruntuhan ekonomi, politik, perpecahan, dan perang saudara. Bahkan Hasan Tiro melaporkan kejadian itu ke agenda PBB.

Pemerintah Indonesia kemudian mencabut kuasa diplomat Tgk Hasan Tiro. Tak lama kemudian beliau balik arah, mendukung DI/TII, lalu menjadi Menteri Berkuasa Penuh dan Duta Besar Republik Islam Indonesia/Negara Islam Indonesia di PBB dan Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia pernah meminta agar Tgk Hasan Tiro diekstradisi, tapi beliau mendapat jaminan dari pemerintah Amerika Serikat.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (4)
Tgk Hasan Tiro (tengah). Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Pemerontakan DI/TII berakhir dengan damai, tatkala Daud Beureueh bersedia turun gunung, pada 9 Mei 1962, beserta pasukan setianya yang dipimpin oleh Teungku Ilyas Leube. Daerah Aceh kembali seperti semula, bahkan berstatus Istimewa.

Sejak itu, Tgk Hasan Tiro makin intens mengkaji sejarah Aceh. Beliau hidup mapan di New York sebagai pengusaha, bahagia bersama istrinya Dora dan anak semata wayangnya, Karim Tiro. Seperti ditulis dalam catatan hariannya, The Price of Freedom: The Unfinished Diary, meski menjadi incaran Pemerintah Indonesia, dia merasa menjadi pebisnis sukses yang berhasil masuk lingkaran pemerintahan di banyak negara, seperti AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Perusahaannya bergerak di bidang petrokimia, pengapalan, konstruksi, manufaktur, industri pengolahan makanan, dan penerbangan.
***
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (5)
Milad GAM diperingati di Libya. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Tgk Malik Mahmud bertemu muka pertama kali dengan Tgk Hasan Tiro, pada 1963, saat Hasan Tiro ke Singapura dan menginap di rumah. Mereka banyak berdiskusi soal Aceh. Malik sudah tahu semua sebelumnya, membuat diskusi semakin hangat saja. “Saya tertarik penampilannya, sopan, wibawa, kharismatik. Saya banyak belajar dari dia,” kata Malik.

Selepas konflik DI/TII di Aceh, Tgk Malik sibuk membantu ayahnya mengembangkan bisnis. Begitu juga Tgk Hasan Tiro yang membangun bisnis di Amerika Serikat. Tapi hubungan keduanya tetap lanjut dalam surat menyurat.

Tgk Hasan Tiro yang tidak bisa pulang ke Aceh karena masih dianggap bermasalah. Beliau terus berusaha untuk pulang ke Aceh, sampai menemukan jalan lewat jalur bisnis. Tokoh Aceh saat itu, Hadi Thayeb dan Raman Ramli (dubes Indonesia untuk AS) mencoba memfasilitasi. Lalu pada awal tahun 1969, Tgk Hasan Tiro pulang ditemani oleh Tgk Amir Mahmud, abang kandung Tgk Malik. Mereka pulang dengan jalur resmi dan formal, sampai menjumpai Presiden Soeharto.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (6)
Tgk Hasan Tiro saat pulang ke Aceh, 1969. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Setelah itu, Tgk Hasan Tiro kembali ke Amerika Serikat. Setahun kemudian mau kembali lagi ke Aceh, tapi tak mendapat izin pemerintah Indonesia. “Saya bilang, kalau tak dikasih pulang dengan legal, pulang dengan illegal,” kenang Tgk Malik.

Sampai kemudian pada 1974, saat Tgk Zainal Abidin, abang Tgk Hasan Tiro meninggal dunia. Dengan alasan itu, beliau mendapat izin membezuk, asal tak menyentuh sisi politik. Dari Amerika, Tgk Hasan Tiro menuju ke Kuala Lumpur dan di sana Tgk Malik sudah menunggu.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (7)
Tgk Hasan Tiro di Swedia. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Dari Kuala Lumpur mereka menuju Medan, Sumatera Utara. Di sana, Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe sudah menunggu dengan dua mobil. Mereka kemudian menuju ke rumah Zaini Abdullah di Kuala Simpang. Saat itu, Zaini berprofesi sebagai dokter di Puskesmas setempat. Malam itu mereka berbagi cerita, diselingi canda tawa sampai pagi. Banyak warga berkumpul, semua bicara perang, semua menginginkan kembali adanya gerakan kemerdekaan. “Nyoe woe ken untuk meu prang (ini kembali bukan untuk berperang),” kata Tgk Hasan Tiro kala itu.

Dalam perjalanan sepanjang Medan-Pidie, mereka kerap singgah di warung-warung. Tgk Malik mengingat, Tgk Hasan Tiro saat itu memakai peci dengan baju safari kuning. Juga memegang tongkat. Di mana pun mereka singgah selalu ramai disambut warga.

Di Pidie mereka diikuti intel pemerintah. Di sela-sela senda gurau, banyak orang bertanya, “Teungku, pajan ta meu prang lom (kapan kita perang lagi),” kenang Tgk Malik.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (8)
Dalam sebuah upacara Milad GAM. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Setelah kepulangan itu, mereka kerap bertemu di Singapura dan membahas politik Aceh. Beberapa tokoh dari Aceh juga datang. Sampai kemudian sebuah kesimpulan diambil, bahwa gerakan kemerdekaan harus dideklarasikan. Persoalan ketidakadilan dan kesejahteraan yang belum didapat warga Aceh menjadi dasar utama, berbanding terbalik dengan kekayaan alam Aceh.

Tgk Hasan Tiro terus mencoba pulang kembali ke Aceh, tapi belum berhasil. Baru pada 30 Oktober 1976, beliau berhasil masuk Aceh dengan sebuah kapal motor kecil melalui perairan Pasi Lhok, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Sejak itu, Tgk Hasan Tiro naik gunung, hingga akhirnya mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976. Beliau juga membentuk kabinet yang terdiri dari Muchtar Hasbi, Zaini Abdullah, Husaini Hasan, Zubir Mahmud, Amir Ishak, Tengku Ilyas Leubè, Tengku Muhammad Usman Lampoih Awe, Malik Mahmud, Amir Rasyid Mahmud, dan komandan tentara Daud Husin alias Daud Paneuk serta Keuchik Umar.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (9)
Seusai Deklarasi Aceh Merdeka di Pidie. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Walhasil, Tgk Hasan Tiro menjadi buruan kelas wahid pasukan keamanan pemerintah. Dia dicap pemberontak yang merongrong stabilitas keamanan Indonesia. Tiga tahun lamanya, Tgk Hasan Tiro bergerilya, memimpin pasukannya di belantara Aceh. Pada 28 Maret 1979, beliau meninggalkan Aceh melalui sebuah pelabuhan kecil di pesisir Jeunieb, Bireuen. Ia kembali ke Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Alby, Norsborg, Swedia. Beliau memimpin pemberontakan dari sana.

Sebagai salah seorang Menteri atau Meuntro dalam kabinet GAM, Tgk Malik Mahmud mendapat tugas berat. Keberadaannya di Singapura yang berbatas langsung dengan Indonesia membuatnya jadi penghubung antara Wali Nanggroe Tgk Hasan Tiro dan para gerilyawan. “Jika Wali berhalangan, saya yang menjalankan tugas,” jelasnya.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (10)
Kegiatan di Maktabah Tazzura, Libya. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
Tugas Tgk Malik mulai dari memasok senjata sampai merekrut pasukan untuk dilatih. Beliau bertugas mengirim pasukan untuk belajar militer di Maktabah Tazzura, Libya. Bersama Tgk Hasan Tiro, beliau pun sering ke sana.

Konflik terus terjadi di Aceh, 29 tahun lamanya setelah GAM dideklarasikan. Damai kemudian diraih dalam perundingan di Helsinki, Finlandia.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (11)
Tgk Hasan Tiro bersama rekan-rekannya. Foto repro: Suparta dari dokumen pribadi
***
Usai Damai Aceh disepakati. Tgk Malik lebih dulu pulang ke Aceh pada 19 April 2006. Tgk Hasan Tiro kemudian menyusul pada 11 Oktober 2008. Saat itu puluhan ribu orang dari berbagai kabupaten//kota berbondong-bondong datang ke Banda Aceh, memenuhi Bandara Sultan Iskandar Muda dan Masjid Raya Baiturrahman. Wali Hasan Tiro pulang melalui Malaysia, dijemput sejumlah sahabatnya.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (12)
Tgk Hasan Tiro saat pulang ke Aceh usai konflik, 11 Oktober 2008. Foto: Suparta
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (13)
Suparta, kini fotografer acehkini, turut menjemput Tgk Hasan Tiro di Malaysia. Dok. Pribadi
Di Masjid Raya Baiturrahman, Wali Hasan Tiro menyampaikan amanahnya, dibacakan Tgk Malik Mahmud. “Biaya perang mahal, biaya memelihara perdamaian juga lebih mahal. Maka dari itu, peliharalah damai untuk kesejahteraan kita semua.”

Bagi Tgk Hasan Tiro, kepulangannya ke Aceh adalah janji yang ditunaikan sekaligus menumpahkan kerinduan pada tanah leluhur. “Saya akan segera kembali begitu misi terlaksana dengan sempurna,” tulis Tgk Hasan Tiro dalam The Price of Freedom: the Unfinished Diary.

Beliau sempat tinggal selama dua minggu di Aceh, mengunjungi sejumlah kawasan sejarah dan makam leluhurnya. Selanjutnya, kembali lagi ke Swedia. Setahun kemudian, Tgk Hasan Tiro pulang lagi ke Aceh dan menetap, tinggal di sebuah rumah kawasan Lamteumen, Banda Aceh.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (14)
Tgk Hasan Tiro bersama Karim Tiro dan Meuthia. Foto: Suparta
Usia lanjut dan faktor kesehatan, Tgk Hasan Tiro mangkat pada 3 Juni 2010, setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin, Banda Aceh. Ribuan pelayat mengantar Hasan Tiro ke tempat peristirahatan terakhirnya, di Gampong Manggra, Indrapuri, Aceh Besar. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam leluhurnya, Pahlawan Nasional dari Aceh, Tgk Thik Di Tiro atau Wali Nanggroe pertama.
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (15)
Tgk Hasan Tiro dan Tgk Amir Maumud (duduk) saat pulang ke Aceh. Foto: Suparta
Dalam ceramah yang sendu melepas jenazah Hasan Tiro, ulama Aceh Tengku Muhibuddin Waly berkata, "Semoga kita semua menjaga amanah Wali untuk terus menjaga perdamaian abadi di Aceh.”

Sampai 14 tahun lebih lahirnya damai di Aceh, semua sepakat mengenang Milad GAM dengan doa-doa, bukan lagi senjata. []
43 Tahun Lalu, Kisah Tgk Hasan Tiro Deklarasikan Aceh Merdeka  (16)
Tgk Hasan Tiro wafat 3 Juni 2010, jenazahnya disalatkan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Foto: Suparta 


Sumber Kumparan