Selasa, 9 Disember 2025

Coretan dari Seberang untuk Bencana Aceh


HANYA OPINI BUKAN UNTUK REFERENSI

Saya ingin jujur ​​di depan kalian semua sekarang.

Banyak relawan Kita lagi berdiri di atas tanah Aceh yang separo udah jadi kolam ikan, tapi bukan milik warga, bukan sawah warga, bukan rezeki warga. Ini banjir yang datang bukan kayak dulu-dulu. Ini bukan air deras biasa yang datang karena musim hujan. Ini banjir yang datang sambil ketawa, karena yang mukulin kita bukan cuaca, tapi manusia-manusia bejat yang ngumpet di balik hutan, pabrik, dan merek-merek yang lo pake tiap hari.

Lo pikir ini air hujan? Nggak, bang. Ini air hasil dari kerakusan.

Dan gue mau bilang sekarang, di depan muka lo, biar lo nggak dibodohin lagi. Aceh tenggelam karena Rawa Singkil dirusak. Dirusak sama tangan-tangan yang selama ini ngaku-ngaku peduli lingkungan, padahal mereka yang paling rakus. Dirusak sama orang-orang yang duitnya nggak habis tujuh turunan, tapi masih aja mau makan tanah orang lain.

Lo lihat sendiri kan sekarang?

Anak-anak tidur di kursi panjang, nenek-nenek naik kasur ngambang, bapak-bapak dorong motor kayak ngedorong bangkai. Ada yang kehilangan beras, ada yang kehilangan ternak, ada yang ngungsi sambil bawa baju dua lembar. Rumah lo penuh air, tapi kantong mereka penuh duit. Itu bedanya.

Dan saya ingin Anda mengerti, banjir ini tidak datang "tiba-tiba".

Ini terjadi karena lebih dari 4.000 hektar hutan gambut di Rawa Singkil telah hancur. Bukan 4 hektar, bukan 40 hektar, melainkan 4 RIBU hektar. Bayangkan sebuah buldoser mengaduk tanah seperti donat, menciptakan kanal sepanjang 253 kilometer bagaikan ular raksasa yang menyedot semua air di dalam tanah.

Gambut itu spons.

Tugasnya nyerap air. Tapi kalau sponsnya digunting? Ya air langsung tumpah ke kampung lo. Itu yang terjadi.

Ada orang-orang kaya yang ngerti banget cara ngerusak hutan tapi tetap keliatan "rapi". Mereka biayain warga untuk buka lahan. Bukan karena mereka sayang warga-NGGAK. Itu cuma kedok. Mereka cuma butuh wajah rakyat kecil supaya kalau aparat datang, yang kelihatan cuma warga, bukan pemodalnya. Orang-orang ini licik, bang. Mereka nggak mau tangannya kelihatan kotor. Mereka tinggal duduk di kursi empuk, ngatur uang, sambil ketawa. 

Yang kerja siapa ? Warga miskin yang disuruh motong hutan.

Yang kena dampak siapa? Warga lain yang rumahnya kebanjiran.

Yang kaya siapa ? Pemodal yang nggak pernah kelihatan batang hidungnya.

Mau tahu rangkaiannya? Akan kuberi tahu sekarang.

Ada yang namanya CV Buana Indah.

Kalau di dunia kriminal kita nyebutnya "penadah", tapi ini versi sawit. Kerjanya ngumpulin TBS (buah sawit) dari kebun-kebun ilegal dalam Rawa Singkil. Kebun yang dibuka pakai uang cukong, pakai tenaga warga, pakai alat berat, pakai cara-cara kotor yang kalau lo lihat langsung lo pasti nyumpah sehari semalam.

Buahnya dikumpulin. Lalu dilempar ke pabrik.

Dan pabrik yang makan sawit ilegal ini bukan satu dua. Bukan pabrik kecil-kecilan yang atapnya seng bocor. Ini pabrik besar yang punya nama.

Dua nama ini gue sebut jelas: 
PT Global Sawit Semesta (GSS)

 PT Samudera Sawit Nabati (SSN)  Ini pabrik yang kerjaannya ngeolah sawit ilegal jadi minyak. PT SSN diduga langgar 16 regulasi

Dan lo tau apa yang lebih busuk ? Sawit ilegal itu dicampur sama sawit legal. Jadi begitu dicampur, asal-usulnya hilang.

TBS ilegal yang dari hutan konservasi berubah jadi minyak "bersih" yang bisa dijual ke mana-mana.

Habis itu minyaknya dilempar ke pedagang besar. Dan disinilah bejatnya semakin keliatan.

Pedagangnya siapa ?

Gue sebut juga :
Wilmar (Singapore)
Golden (Singapore)

Lo pikir itu nama kecil ? Nggak, bang. Itu raksasa.

Itu perusahaan yang suaranya lebih gede dari banyak pejabat. Mereka yang ngontrol aliran sawit ke seluruh dunia.

Dan setelah itu ?

Setelah minyak ilegal itu lewat tangan trader besar, dia masuk ke brand-brand yang lo temui di minimarket.

Ini poin paling bikin muntah:

Produk-produk yang lo beli, yang lo pakai, yang lo taruh di rumah lo setiap hari - bisa jadi itu minyak sawit dari hutan tempat air banjir ini keluar. (Banjir Aceh)

Gue sebutin ya, Biar jelas :

Sabun lo ?
Sampo lo?
Margarin lo?
Biskuit yang anak lo makan?
kopi sachet yang sedut apa?
Minuman yang lo beli pas panas?
Bedak, deterjen, sabun cuci piring, semuanya?

Kemungkinan besar kena minyak sawit dari:

- Unilever
- Nestle
-PepsiCo
- P&G
- Mondelēz
- Mars
-Kellogg's
- General Mill'S
- Nissin Foods

Bayangin:

Lo beli produk itu tiap hari. Lo makan, lo minum, lo oles, lo pakai buat mandi. Tapi lo nggak tau kalau minyak sawit di dalamnya itu hasil nyedot hutan lo sendiri sampai kering. Dan sekarang airnya nyedot balik ke rumah lo.

Gue nggak bilang semua produknya haram.

Apa yang saya katakan:

Rantai mereka kotor.

Dan bejatnya, mereka udah tau ini dari dulu.

Lo kira perusahaan-perusahaan besar itu nggak punya data satelit?

Nggak punya tim audit?

Nggak punya tim sustainability?

Nggak tahu pabrik mana yang nakal?

Nggak tau asal sawitnya dari mana?

Mereka TAHU.

Tapi mereka pura-pura tutup mata.

Karena kalau minyaknya diputus, untung mereka turun.

Dan mereka nggak mau rugi.

Bejat kan?

Mereka bikin kampanye "ramah lingkungan", "no deforestation", "green commitment", tapi di belakang layar mereka makan sawit ilegal yang hari ini bikin Aceh jadi kolam renang paksa.

Sekarang gue tanya sama lo:

Masih mau percaya sama kampanye hijau-hijauan mereka? Masih mau percaya sama label "eco friendly"? Masih mau percaya sama iklan-iklan keluarga bahagia di televisi?

Inilah kenyataannya:

Yang bikin banjir bukan hujan. Yang bikin banjir bukan alam. Yang bikin banjir orang kaya yang makan untung dari minyak sawit ilegal yang disedot dari tanah lo sendiri.

Makanya jangan heran kenapa Teluk Rumbia sekarang tenggelam tiap tahun. Jangan heran kenapa intensitas banjir naik gila-gilaan. Jangan heran kenapa jalan putus, jembatan hilang, sawah punah. Ini bukan perubahan cuaca. Ini bukan faktor alam. Ini faktor kejahatan.

Dan yang lebih bikin emosi: Yang kena dampaknya itu orang yang nggak pernah dapat sepeserpun dari sawit haram itu. Yang bangun rumah dari hasil nyadap karet.

Yang sekolahin anak dengan jual ikan.

Yang nyari nafkah di laut.

Yang kerja keras dari pagi sampai malam.

Lo pikir pemodal sawit peduli?

Mereka peduli cuma kalau pabrik mereka berhenti bergerak. Sisanya? Hilang dari radar.

Lo mau bukti?

Sekarang banjir.

Mana suara mereka?

Mana bantuan mereka?

Mana rasa bersalah mereka?

Nggak ada.

Yang turun ya warga.

Yang nolong ya warga.

Yang dorong perahu ya warga.

Yang masak mie instan buat tetangga ya warga.

Yang bikin dapur umum ya warga.

Sementara yang kaya?

Mereka ngopi di ruangan AC.

Banjir cuma jadi artikel berita buat mereka.

Bukan tragedi.

Bukan luka.

Bukan kenyataan.

Cuma konten.

Itulah bejatnya permainan ini.

Jadi lo harus tau:

Setiap kali lo lihat banjir Aceh, yang lo lihat itu bukan sekedar air.

Itu darah alam.

Itu bukti tanah kita disiksa.

Itu bukti hutan kita diperkosa.

Itu bukti bahwa sungai kita terpaksa menelan lebih banyak air daripada yang dapat ditampungnya.

Dan selama mereka ngacak-ngacak Rawa Singkil, selama mereka buka hutan konservasi, selama mereka gali kanal, selama mereka campur sawit ilegal ke pabrik, selama itu banjir ini bakal datang lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Sampai Aceh cuma tinggal nama di peta.

Karena sekali gambut rusak, nggak ada tombol undo.

Nggak ada perbaikan cepat.

Nggak ada jalan pintas.

Yang bisa dilakukan cuma nunggu puluhan tahun sampai alam pulih sendiri-kalau masih bisa pulih.

Itulah sebabnya saya mengatakan:

Ini banjir bukan bencana.

Ini pesan.

Pesan kalau ada yang sudah kelewatan dan harus dihentikan.

Karena kalau lo biarin, kalau lo diam, kalau lo anggap ini normal, lo bakal lihat banjir yang lebih gede. Bukan cuma genangan 1 meter. Mungkin nanti 3 meter. Bisa 5 meter. Bisa habisin satu kecamatan dalam semalam.

Saya mengatakan ini karena saya peduli.

Karena gue lihat sendiri kebusukan rantainya.

Karena gue tahu siapa pemainnya.

Karena gue tahu rakyat kecil selalu jadi korban yang paling pertama dan paling terakhir.

Dan gue mau lo semua tahu dan sadar:

Banjir Aceh hari ini bukan air murka Tuhan.

Ini air muntahan dari keserakahan manusia.

Manusia yang pakai sawit ilegal sebagai sumber kekayaannya.

Manusia yang mungkin lo dukung tanpa sadar lewat produk yang lo beli.

Jika Anda bertanya kepada saya apa langkah pertama, saya hanya akan menjawab:

Sadar dulu.

Marah kemudian.

Lalu tentukan arah.

Karena lo nggak bakal bisa lawan banjir kalau lo nggak tau siapa musuhnya.

Dan musuh kita jelas:

Yang buka hutan.

Yang beli buah ilegal.

Yang olah jadi minyak.

Yang lempar ke luar negeri.

Yang jual ke brand besar.

Yang brand-nya akhirnya masuk ke rumah lo lewat iklan.

Itulah rantai kejahatan yang bikin Aceh tenggelam.

Saya telah membuka semuanya.

Sekarang terserah lo.

Mau diem, atau mau bener-bener sadar kalau ini semua bukan kebetulan.

Ini semua bukan alam.

Ini ulah mereka.

Mereka yang bejat.

Mereka yang rakus.

Dan kalau lo nggak terima, bagus.

Mereka yang bikin Aceh menangis banjir setiap tahun. Berarti hati lo masih hidup. Berarti lo belum kalah. Berarti lo siap melawan-setidaknya dengan suara, dengan pengetahuan, dengan keberanian, dengan memilih di mana lo berdiri. Karena tanah Aceh nggak boleh terus jadi korban.  Nggak boleh terus di jarah.

Kita tidak bisa terus menerus kebanjiran, hanya demi orang yang tahu cuma hitung uang. Gie sudah bilang semua, sekarang giliran lo.

Sumber 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan