Sumber Gambar : wikipedia
Gini ya.
Begitu kalimat “Aceh siap berdiri sendiri” keluar, banyak orang langsung lompat ke satu kesimpulan: pemberontakan. Padahal kalau mau jujur dikit sama akal sehat, ini bukan soal Aceh pengen pisah. Ini soal Aceh capek ngomong pelan-pelan tapi nggak didengar.
Ini pola lama. Dan negara ini sering pura-pura lupa.
Aceh itu bukan daerah baru kemarin sore yang tiba-tiba sok keras. Aceh punya sejarah berdarah dengan pusat. Janji damai, janji keadilan, janji otonomi, janji kesejahteraan—semuanya pernah diucapkan dengan suara lantang. Masalahnya? Banyak yang nggak ditepati dengan lantang yang sama.
Jadi jangan kaget kalau suatu hari bahasanya naik level.
Orang yang terus dipinggirkan itu bukan tiba-tiba radikal.
Dia frustrasi.
Tapi di sisi lain, gue juga nggak mau ikut-ikutan mengamini ancaman pisah dari NKRI. Karena jujur aja, kalimat kayak gitu tuh bahaya. Bukan buat elite, tapi buat rakyat biasa. Begitu kata “pisah” dilempar ke publik, yang kena imbas pertama itu bukan DPR, bukan pejabat—tapi warga. Stigma, tekanan, aparat, chaos. Selalu begitu.
Yang bikin gue kesel justru satu hal:
kenapa negara ini baru refleks kalau diancam?
Kenapa waktu Aceh minta keadilan dengan data, pusat santai?
Kenapa waktu Aceh ngomong soal hak, pusat lemot?
Tapi begitu bahasanya keras, baru ribut, baru panik, baru sok nasionalis?
Ini bukan soal NKRI harga mati atau nggak.
Ini soal rasa keadilan yang terus dikempesin.
Kalau DPR Aceh bener-bener berpihak ke rakyat, perjuangannya jangan berhenti di kalimat bombastis. Jangan cuma bikin headline. Dorong substansi: kewenangan yang dipreteli, dana yang nggak adil, kebijakan pusat yang sering ngeremehin konteks Aceh.
Dan kalau pemerintah pusat masih waras, berhenti baca ini sebagai ancaman. Baca ini sebagai alarm. Karena daerah yang teriak itu bukan yang mau kabur—tapi yang udah terlalu lama disuruh sabar.
Negara kuat itu bukan yang cepat marah tiap dikritik.
Negara kuat itu yang nggak bikin daerahnya merasa asing di rumah sendiri.
Kalau Aceh terus merasa dipinggirkan, jangan salahkan siapa-siapa ketika suaranya makin keras.
Dan jangan juga buru-buru nuding “pengkhianatan”
padahal yang sering terjadi cuma satu: janji pusat yang bolong-bolong.
Ini bukan soal memisahkan diri.
Ini soal dipisahkan secara perlahan oleh ketidakadilan. Dan itu jauh lebih berbahaya.
Penulis : Balqis Humaira
Tiada ulasan:
Catat Ulasan