Memaparkan catatan dengan label Biografi Ulama Aceh. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Biografi Ulama Aceh. Papar semua catatan

Jumaat, 30 September 2022

Biografi Abu Kruet Lintang


Abu Kruet Lintang: 
Ulama Kharismatik Aceh yang Istiqamah dan Prinsipil.

Nama aslinya Teungku Muhammad Yusuf bin Teungku Ibrahim bin Teungku Mahmud. Beliau lahir dari keturunan ulama dan pimpinan dayah di wilayah Aceh Timur. Beliau masih keturunan ulama Timur Tengah yang bernama Teungku Syekh Salahuddin yang dikenal dengan sebutan Teungku Chik Keurukon berasal dari Yaman. Selain dari jalur ayahnya yang ulama, ibunya juga anak dari seorang ulama dan tokoh masyarakat yang disebut dengan Teungku Chik Mud Julok. 

Mengawali masa belajarnya, Abu Kruet Lintang belajar langsung kepada ayahnya yang juga ulama, namun kebersamaan dengan ayahnya tidak lama karena dalam usianya sepuluh tahun wafatlah ayah dari Abu Kruet Lintang. Setelah wafat ayahnya, beliau kemudian dibimbing oleh pamannya Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang juga seorang ulama dan pimpinan dayah. 

Setelah beberapa tahun belajar kepada pamannya, Abu Kruet Lintang kemudian belajar pada Dayah Cot Plieng Bayu yang dipimpin oleh Teungku Cut Ahmad, namun tidak lama beliau di dayah ini, karena beberapa bulan setelahnya wafatlah pimpinan Dayah Cot Plieng.

Merasa ilmunya masih minim, Abu Kruet Lintang berangkat menuju ke Dayah Krueng Kalee yang dipimpin oleh Teungku Haji Hasan Krueng Kalee yang dikenal dengan Abu Krueng Kalee. Abu Krueng Kalee merupakan ulama lulusan Yan Kedah Malaysia murid dari Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan, dan juga belajar selama tujuh tahun di Mekkah. Kepada Abu Krueng Kalee, beliau memperdalam ilmu yang telah beliau pelajari sebelumnya dari almarhum ayah dan pamannya. 

Selain Abu Kruet Lintang, Dayah Krueng Kalee juga telah mengorbit banyak ulama terpandang Aceh. Sebut saja beberapa di antara mereka ialah Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abu Sulaiman Lhoksukon, Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abu Abdullah Ujong Rimba, Abu Wahab Seulimum, Abu Ishaq Ulee Titi, Abu Marhaban Krueng Kalee dan banyak ulama lainnya yang merupakan tokoh-tokoh berpengaruh. Bahkan Abu Ali Lampisang pendiri Madrasah Khairiyah dan Abu Syech Mud Blangpidie disebutkan juga pernah lama belajar kepada Abu Hasan Krueng Kalee.

Dalam tiga tahun kebersamaan Abu Kruet Lintang dengan Abu Krueng Kalee telah mengantarkan beliau menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Karena sebelum tiba di Krueng Kalee beliau memang telah menguasai berbagai cabang ilmu. Pada tahun 1939 dalam usianya 22 tahun, Abu Kruet Lintang pulang kampung untuk mengajarkan ilmu yang telah dimilikinya. Setelah mengajar beberapa tahun di dayah yang dipimpin oleh Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang merupakan paman dari Abu Kruet Lintang, pada tahun 1942 beliau kembali belajar kepada seorang ulama terpandang lainnya yang benama Teungku Muhammad Ali pimpinan Dayah Darul Muta’alimin masih di kawasan Aceh Timur.

Tidak lama beliau belajar kepada ulama tersebut, Abu Kruet Lintang telah diberikan "peneutoeh" oleh Teungku Muhammad Ali untuk melanjutkan kepemimpinan dayah pamannya setelah beliau wafat. Maka semenjak tahun 1943 mulailah Abu Kruet Lintang memimpin Dayah Darul Muta’alimin. Beliau dengan segenap kesungguhan memimpin dayah tersebut sehingga menjadi salah satu dayah yang diminati oleh para penuntut ilmu. 

Sebagai ulama yang luas cakrawala berpikir, Abu Kruet Lintang merupakan ulama yang santun dan sederhana dalam kehidupannya. Beliau memiliki pandangan-pandangan hukum yang kuat dan kokoh, walaupun demikian beliau tidak memaksakan pandangannya kepada yang lain. Disebutkan beliau pernah diundang pada sebuah tempat yang berbeda dengan pemahaman beliau untuk memberikan ceramah atau semacam tausiyah. Setelah memberikan tausiah sebagai wujud silaturahmi, kemudian beliau mohon diri untuk melaksanakan kebiasaan shalat tarawihnya di tempat lain sebagaimana kebiasaan yang beliau laksanakan.

Pada tahun tahun 1963, salah satu gurunya yaitu Abu Hasan Krueng Kalee mengirim surat kepada beliau untuk memajukan PERTI di kawasan Aceh Timur, maka beliau menginisiasi berdirinya organisasi PERTI di wilayah Aceh Timur, setelah musyawarah, beliau dipilih secara aklamasi oleh forum sebagai Ketua Umum PERTI di Aceh Timur.

Sebagai ulama Ahlussunnah Waljama’ah, tentunya kiprah Abu Kruet Lintang sangat di perhitungkan di wilayah Timur Aceh. Dimana beliau dianggap sebagai figur yang menjadi guru bagi masyarakatnya, mengayomi mereka dengan fatwa keagamaan yang bijak dan bertanggungjawab. Setelah kiprah yang besar, maka wafatlah ulama tersebut pada tahun 1985 dalam usia 68 tahun. 

Ditulis Oleh :

Biografi Abu Imam Syamsyuddin Sangkalan


Abu Imam Syamsuddin Sangkalan: 
Ulama Kharismatik dan Pendiri Babussalam Sangkalan. 

Beliau berasal dari Desa Blang Poroh Labuhan Haji Aceh Selatan. Semenjak kecil sudah ditanamkan dalam dirinya semangat mencintai ilmu pengetahuan. Setelah menjalani pendidikan dasarnya di kampung halamannya Blang Poroh, Teungku Imam Syamsuddin tertarik memfokuskan kajian keilmuannya dalam bidang agama. 

Teungku Imam Syamsuddin mulai belajar di Dayah Bustanul Huda yang didirikan oleh ulama lulusan Yan Kedah Abu Syekh T. Mahmud bin T. Ahmad Lhoknga yang dikenal dengan Abu Syech Mud Blangpidie.
Pesantren Bustanul Huda didirikan pada tahun 1928 sepulangnya Abu Syech Mud belajar dari Yan Kedah Malaysia atas permintaan Teuku Sabi Ulee Balang Kuta Batee (Blangpidie) pada masa itu. 

Bustanul Huda juga merupakan Dayah yang telah mengorbit banyak para lulusan yang menjadi ulama kharismatik Aceh. Sebut saja di antara mereka adalah: Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy, Abu Calang Lamno, Abuya Haji Abdul Hamid Kamal, Syekh Muhammad Bilal Yatim, Abuya Jailani Kota Fajar, Syekh Adnan Mahmud Bakongan, Abu Ibrahim Woyla, Abu Abdul Ghafar Lhoknga, dan banyak ulama lainnya. 

Abu Imam Syamsuddin belajar di Bustanul Huda dalam beberapa tahun, sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang yang alim dan memahami secara baik seluk-beluk agama. Setelah menjadi seorang Teungku, beliau pulang ke kampungnya Blang Poroh Labuhan Haji Aceh Selatan. Beliau juga mulai membuka usaha kecil-kecilan berniaga dan lain-lain. 

Walaupun telah sampai di kampung halaman, semangatnya dalam menimba ilmu belum berkurang sedikitpun. Sehingga pada tahun 1940 pulang dari Padang seorang ulama muda yang sangat masyhur namanya yaitu Abuya Muda Waly al-Khalidy yang telah mengembara mencari ilmu di berbagai tempat, dan mendirikan sebuah dayah yang bernama Dayah Darussalam di Labuhan Haji.

Kepulangan Abuya Muda Waly dari Padang Sumatera Barat tidak disia-siakan oleh Teungku Imam Syamsuddin. Abu Imam Syamsuddin belajar dan mendalami kembali kajian keilmuannya yang pernah di pelajari dari Abu Syech Mud Blangpidie. Dengan segenap kesungguhan Abu Imam Syamsuddin belajar di Darussalam yang kemudian mengantarkan beliau sebagai seorang ulama yang rasikh ilmunya. 

Kemungkinan besar Abu Imam Syamsuddin merupakan murid Abuya Syekh Muda Waly periode awal, dimana pada periode ini terdiri dari para ulama yang umumnya telah alim-alim seperti Abu Yusuf ‘Alamy menantu Abuya Syekh Muda Waly, Abuya Haji Aidarus Kampari anak dari Syekh Abdul Ghani Kampari guru Tarekat Abuya Syekh, Abuya Jailani Kota Fajar, Syekh Marhaban Krueng Kalee anak Abu Syekh Hasan Krueng Kalee, Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abu Keumala dan para ulama lainnya.

Di antara sekian banyak murid Abuya yang cerdas-cerdas dan alim-alim, maka Abu Imam Syamsuddin salah satu yang muncul dari mereka selain Abu Yusuf Alamy yang juga dikenal alim. Kepakaran Abu Imam Syamsuddin dalam bidang ilmu logika melebihi santri-santri lainya. Sehingga banyak pertanyaan dari Abuya Syekh Muda Waly sering Abu Imam Syamsuddin yang menjawabnya.

Bahkan disebutkan Abu Imam Syamsuddin ini pernah menguji para murid yang diajarkannya dalam beberapa pertanyaan yang membutuhkan jawaban berhari-hari dan di antara muridnya yang mewarisi ilmu logika tersebut adalah Abu Syam Marfaly Blangpidie, pelanjut kepemimpinan Dayah Bustanul Huda setelah Abuya Hamid Kamal Blangpidie.

Setelah melihat perkembangan keilmuan yang mendalam pada diri Abu Imam Syamsuddin, pada tahun 1956 datanglah ke Dayah Darussalam Labuhan Haji beberapa tokoh masyarakat Sangkalan Abdya ke Abuya, untuk meminta seorang ulama yang akan mengayomi dan menjadi guru bagi masyarakat Sangkalan. Maka diutus Abu Imam Syamsuddin oleh Abuya Syekh Muda Waly. 

Sesampai di Sangkalan Abdya, Abu Imam Syamsuddin membina masyarakat dan membangun sebuah lembaga pesantren yang beliau namakan pada awalnya dengan Dayah Darul Aman. Mendengar telah berdiri pesantren baru di sangkalan, maka datanglah para santri dari berbagai wilayah Aceh Selatan, Blangpidie dan wilaayah sekitarnya.
Pada periode ini, Abu Imam Syamsuddin berhasil mendidik murid-muridnya untuk mengajarkan ilmu agama ke masyarakat ketika mereka kembali kelak. 

Berkat kesungguhan dan kesabaran dalam mendidik masyarakat, Dayah yang dibangun oleh beliau telah mulai mengepakkan sayap menuju kemajuan. Santrinya sudah mulai banyak, antusiasme masyarakat yang semakin tinggi, terlebih lagi pimpinan Dayahnya merupakan ulama yang dikenal luas ilmunya.

Setelah beberapa tahun memimpin Dayah Darul Aman Sangkalan, pada tahun 1961 wafatlah guru Abu Imam Syamsuddin yaitu Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy. Waktu itu Abu Imam Syamsuddin sedang berada di kampung halamannya Blang Poroh Labuhan Haji. Sehingga datanglah perwakilan dari Dayah Darussalam yaitu Abu Jailani Kota Fajar sebagai alumni yang dituakan meminta kepada Abu Imam Syamsuddin untuk memimpin Dayah Darussalam setelah wafatnya Abuya Syekh Muda Waly. 

Karena anak pertama Abuya Syekh Muda Waly sedang di Jakarta untuk mempersiapkan diri belajar ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Maka setelah musyawarah mufakat dari seluruh perwakilan masyarakat dan keluarga Abuya Muda Waky, maka ditunjuklah Abu Imam Syamsuddin sebagai Pimpinan Dayah Darussalam Labuhan Haji.

Pada masa kepemimpinan Abu Imam Syamsuddin, umumnya murid-murid Abuya sudah banyak yang pulang kampung dan menjadi pimpinan pesantren di wilayah masing-masing. Pada masa itu juga anak-anak Abuya Syekh Muda Waly belajar langsung kepada Abu Imam Syamsuddin. Sebut saja misalnya: Abuya Jamaluddin Waly yang kemudian memimpin Darussalam setelah Abu Imam Syamsuddin di tahun 1968. Murid lainnya ialah Abu Muhammad Syam Marfaly, seorang ulama teguh dan tegas dari Blangpidie, pimpinan Bustanul Huda Blangpidie. Dan adik dari Abuya Jamaluddin Waly yaitu Abuya Amran Waly juga murid dari Abu Imam Syamsuddin Sangkalan. Bahkan disebutkan Abuya Muhibbuddin Waly juga pernah belajar kepada Abu Imam Syamsuddin Sangkalan.

Setelah selesai masa pengabdian beliau di Darussalam Labuhan Haji, estafet selanjutnya Darussalam dipimpin oleh Abuya Jamaluddin Waly. Maka pulanglah Abu Imam Syamsuddin ke Sangkalan untuk kali kedua, dan membenahi kembali dayahnya yang sudah empat tahun beliau tinggalkan, dan beliau merubah nama dayah dari Darul Aman ke Babussalam Sangkalan. Nama yang terakhir ini yang terus dipakai sampai sekarang. 

Selesai memimpin Dayah Darussalam, beliau melaksanakan ibadah haji dan memiliki banyak pengalaman menarik ketika disana, dan beliau tidak sempat memperdalam ilmunya di Mekkah. Pada fase kedua masa kepemimpinan beliau di Dayah Babussalam Sangkalan, para  santri umunya telah mulai terbagi-bagi, karena telah banyak muncul dayah yang lain, selain Bustanul Huda Blangpidie yang ketika itu dipimpin oleh Abuya Hamid Kamal setelah wafatnya Abu Syech Mud, juga ada Dayah lain yaitu Dayah Darul Ulum Diniyah Suak yang dibangun oleh Syekh Haji Bilal Yatim murid dari Syekh Muhammad Yasin Padang. Setelah perjalanan yang panjang dan kontribusi yang besar bagi masyarakat Sangkalan dan sekitarnya, wafatlah Abu Imam Syamsuddin pada tahun 1971.

Ditulis Oleh :

Biografi Syaikh Muhammad Yatim


Syekh Bilal Yatim Al Khalidy:
Ulama, Mursyid, dan Pendiri Darul Ulumudiniyah.

Nama asli beliau adalah Teungku Muhammad Yatim, namun setelah menjadi seorang yang alim masyarakat mengenalnya dengan sebutan Syekh Bilal Yatim. Mengawali pengembaraan keilmuannya, Teungku Muhammad Yatim dalam usia 7 tahun mulai belajar di sekolah umum selama tiga tahun. Genap usia sepuluh tahun Teungku Muhammad Yatim mulai mempelajari Kitab-kitab Jawi seperti: Masailal Muhtadi, Bidayatul Mubtadi dan kitab-kitab lainnya. 

Selain belajar dengan tekun, beliau juga dikenal sebagai anak yang penurut, dan suka membantu ibunya. Karena semenjak kecil beliau telah dilahirkan dalam keadaan yatim.
Walaupun beliau anak yatim, namun semangat belajarnya tidak pernah pudar dan terhenti. Karena kesungguhan dan ketaatan dalam beragama, semenjak kecil masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Teungku Bilal yang kemudian sebutan Teungku Bilal terus melekat pada nama aslinya Teungku Bilal Muhammad Yatim. Padahal nama beliau aslinya Muhammad Yatim saja. Bilal dimungkinkan karena senang dengan ilmu agama dan senang dengan azan.

Sekitar tahun 1924, mulailah beliau merantau untuk menimba ilmu di luar desanya. Tempat pertama yang beliau kunjungi adalah Labuhan Haji, belajar kepada seorang ulama yang berasal dari Siem Aceh Besar yang bernama Abu Muhammad Ali Lampisang pendiri Madrasah Khairiyah rentang waktu 1921-1930. Abu Muhammad Ali Lampisang merupakan ulama lulusan Lampisang Aceh Besar, dan lama belajar di Kedah Malaysia kepada Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan. 

Abu Lampisang juga adik sepupu Abu Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee. Abu Lampisang lebih tua dari Abu Syekh Mud Blangpidie dan Lebih Muda dari Abu Haji Hasan Krueng Kalee. Dan  ketiga Ulama besar tersebut lama belajar di Yan Kedah Malaysia dibawah asuhan Teungku Chik Arsyad di Yan. 

Kehadiran Abu Muhammad Ali Lampisang dengan Madrasah Khairiahnya memiliki arti penting, karena banyak murid-muridnya yang menjadi ulama terpandang salah satunya adalah Teungku Bilal Yatim yang sedang dibahas. Maka Abu Bilal Yatim mulai belajar kepada Abu Lampisang tersebut, kemudian diikuti oleh teman-teman seangkatannya seperti Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abuya Syekh Muda Waly, Teungku Salem Samadua dan murid-murid lainnya. Selesai belajar di Madrasah Khairiyah, Teungku Bilal Yatim melanjutkan ke Dayah Blangpidie yaitu Dayah Bustanul Huda yang dipimpin oleh Abu Syech Mahmud Blangpidie. 

Beberapa waktu di Dayah Bustanul Huda Blangpidie, kemudian Teungku Bilal Yatim melanjutkan pengajiannya ke daerah Panton Labu dibawah bimbingan Teungku Haji Ibrahim Arif di Dayah Samakurok. Salah satu ulama yang pernah belajar di Samakurok adalah Prof Teungku Ismail Jakub sebelum belajar ke Dayah Pucok Alue. Hampir sepuluh tahun beliau belajar dan mengajar di Samakurok sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang yang alim.

Pada tahun 1942 beliau kembali ke Aceh Barat Daya dan berkiprah di Suak Kecamatan Tangan-tangan dengan mendirikan sebuah dayah yang bernama Dayah Darul Huda. Selanjutnya Dayah ini diubah namanya setelah beliau pulang belajar dari Mekkah menjadi Dayah Darul Ulum Diniyah sebagai 'tafaul' dari nama Darul Ulum Diniyah Mekkah yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Yasin Padang. Rentang 1949 sampai akhir 1951 Teungku Bilal Yatim belajar di Mekkah kepada Syekh Muhammad Yasin Padang. 

Beliau memperoleh berbagai ijazah dalam ilmu keislaman hingga bertaraf "Syekh". Beliau memperoleh Ijazah hadits, Qira'at Tujuh, Ilmu Falak dan Ilmu-ilmu lainnya. Adapun Ijazah Kemursyidan Naqsyabandiyah beliau peroleh dari Syekh Ibrahim bin Kutab al Mandaily, ulama Medan yang telah lama menetap, yang lama bermukim di Jabal Abu Qubais Mekkah. 

Sepulangnya dari Mekkah, kiprah keulamaan Syekh Bilal Yatim al Khalidy semakin bersinar, sehingga masyarakat bahu-membahu untuk memajukan dayah yang telah dibangun dahulu dengan nama Darul Huda menjadi Darul Ulumudiniyah. Sebagai seorang ulama, Teungku Syekh Bilal Yatim juga mengkader banyak para ulama dan pimpinan dayah yang bertebaran di seluruh Aceh, dan di antara pewaris ilmu dan kemursyidan setelah wafatnya beliau adalah anaknya yang juga seorang ulama Tarekat yaitu Abuya Abdussalam. 

Syekh Muhammad Bilal Yatim dengan Dayahnya Darul Ulum Diniyah telah berkontribusi secara positif dalam pencerdasan umat. Setelah kiprah yang luas tersebut, pada tahun 1987 dalam usia 80 tahun wafatlah Syekh Haji Muhammad Yatim Al Khalidy. 

Ditulis Oleh :

Biografi Abu Tumin Blang BlahDeh


"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"

Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah adalah ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah. Semenjak kecil Abu Tumin telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama yang paripurna. Mengawali pengembaraan ilmunya, Abu Tumin pernah mengecap pendidikan umum pada masa Belanda selama tiga tahun. 

Setelah kemerdekaan, Abu Tumin dalam usianya 12 tahun dimasukkan ke Sekolah SRI, sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sambil bersekolah di SRI, Abu Tumin juga belajar langsung pada ayahnya ilmu-ilmu keislaman, terutama dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Selama lebih kurang tiga tahun Abu Tumin belajar dengan sungguh-sungguh kepada ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah yang juga ulama, telah memberikan bekal ilmu yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Pada usianya 15 tahun, mulailah Abu Tumin belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di Labuhan Haji Darussalam dengan gurunya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tumin pernah belajar beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunieb yang dipimpin oleh Abu Muhammad Saleh yang merupakan ayah dari Abon Samalanga. Setelah beberapa bulan di Dayah Jeunieb, Abu Tumin kemudian melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian beliau belajar di Dayah Meuluem Samalanga selama satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudep yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Reudep selama tiga tahun sebelum ke Labuhan Haji. 

Maka dengan bekal ilmu yang memadai dari guru-guru itulah yang mengantarkan Abu Tumin muda dalam usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan pada tahun 1953. Selain Abu Tumin, di tahun 1953 beberapa ulama lainnya juga tiba di Labuhan Haji untuk belajar pada Abuya Syekh Muda Waly. Karena umumnya teungku-teungku yang belajar kepada Abuya, telah memiliki ilmu yang memadai sebelum belajar ke Abuya, sehingga bisa duduk di kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin. 

Di antara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah Tanoh Mirah yang kemudian mendirikan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah yang dikenal dengan kealimannya dalam bidang ushul fikih. 
Ulama lainnya adalah Abon Abdul Aziz Samalanga yang melanjutkan kepemimpinan Dayah MUDI Samalanga setelah wafat mertuanya Abu Haji Hanafiyah Abbas yang dikenal dengan Teungku Abi.

Abon Abdul Aziz Samalanga dikenal ahli dalam ilmu mantik atau ilmu logika. Sedangkan Abu Keumala datang lebih awal ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, dan Abu Keumala dikenal ahli dalam ilmu tauhid, mengabdikan ilmunya di Medan Sumatera Utara hingga wafatnya pada tahun 2004. Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibbudin Waly, sedangkan Syekh Muda Waly al-Khalidy mengajarkan kelas dewan guru. 

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. Sedangkan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk pulang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga pulang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah pulang di Tahun 1957. Umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 pulang di akhir tahun1959. Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya pulang di tahun 1956 seperti Abuya Aidarus dan Abu Syamsuddin Sangkalan.

Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Abu Tumin memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin. 

Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama. Abu Tumin juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan. 

Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam muzakarah para ulama Aceh, sehingga diskusi nampak ceria dan bersemangat. Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu. 

Dan di sebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya Abu Tumin juga ulama yang Syekhul Masyayikh. Bahkan Abu Daud Teupin Gajah atau Abu Daud al Yusufi yang merupakan ulama kharismatik Aceh Selatan juga termasuk murid yang lama belajar kepada Abu Tumin dimana sebelumnya beliau belajar kepada Abuya Haji Jailani Kota Fajar.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya. Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan terakhir, setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum.

Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua pula ilmunya".

Abu Tumin telah mempersembahkan segenap usianya untuk agama ini, dan telah pula mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Dan hari ini beliau telah kembali kehadhirat Allah SWT. 
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para Anbiya, Syuhada dan Shalihin.

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un. 
Selamat Jalan Guru Yang Mulia 

Di Tulis Oleh :