Memaparkan catatan dengan label Humoris. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Humoris. Papar semua catatan

Selasa, 24 Ogos 2021

Sibak Rukok Teuk.

Berseni, unik, memancing senyum terkulum (minimal geli hati), kreatif dan gratis, eh—sorry—maksud saya kreatif dan layak miliki. Ada di stand Kanot Bu, arena Piasan Seni, Taman Sari, Kota Banda Aceh.

Nyaris semua orang Aceh tahu apa nuansa dan makna yang diusung oleh kata-kata yang ada di logo oblong ini. Semoga tak ada pihak yang sakit hati. Semua kita—bukan hanya Anda, saya dan paramuda yang kreativitasnya tertuang di dada T-Shirt ini—ikut merasakan apa akibat thesis keramat itu.

Tapi itu telah menjadi masa lalu. Semuanya telah terbang dan melayang. Semuanya telah absurd. Anda tidak dapat menggenggam apa-apa lagi, kecuali—barangkali—hanya tersisa pada selembar kaus oblong berlambang rencong merokok dengan tulisan "Sibak Rukok Teuk" ini.

Ayo, mari kita miliki agar, walau kita dikenal dunia sebagai orang-orang yang suka berperang, namun tak sampai kehilangan jatidiri sebagai bangsa yang menghargai bakat humor yang tinggi.

Di tulis oleh Musmarwan Abdullah

Sabtu, 13 Januari 2018

Sudah Malas Membaca, Di Larang Lagi.

Pada akhir masa perang, tepatnya di hari penandatanganan Perjanjian Damai Perang Aceh-Jakarta di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, nun jauh di tengah belantara hutan Aceh, seorang tentara gerilyawan—dengan AK-47 masih siaga di tangan—bertanya pada komandannya:

“Maaf, Komandan. Apakah dengan ditekennya janji damai di Helsinki berarti perang kita dengan Jakarta telah selesai?”

Dengan gaya militer penuh, Sang Komandan—generasi pertama tamatan pendidikan militer Libya—menjawab dengan tegas dan nada tinggi:

“Memang betul! Pertempuran kita dengan Jakarta sudah selesai! Tetapi! Perjuangan kita memerangi rasa malas membaca bermacam-ragam kitab dan buku, masih berlanjut!”

“Bagaimana dengan kitab-kitab yang dilarang baca itu, Komandan?”

“Baca saja diam-diam! Jangan takut sesat! Nanti kalau sesat, saya yang luruskan kalian! Kenapa larang-larang membaca! Sudah rakyat malas membaca, dilarang-larang pula!”

“Siap, Komandan!” balas prajurit tentara gerilyawan itu sambil mengangkat tabik ke arah komandannya, kemudian balik kanan dan langsung berjalan dengan langkah-langkah tegap menuju Perpustakaan Gampong di desa kaki gunung terdekat.

Credit FB Musmarwan

Isnin, 11 Disember 2017

Efek Kopi, Dapat Melahirkan Pemberontak.


Membaca terus-menerus, bikin mengantuk. Lalu minum kopi. Setelah minum kopi, jadinya ingin membaca terus. Lalu, membaca terus-menerus bikin kantuk datang lagi. Kemudian minum kopi lagi. Jadinya, ingin terus membaca lagi.
Begitulah di hari Ahad itu, ia sudah terlalu banyak minum kopi sehingga sudah terlalu banyak membaca. Dan ketika Abu tiba di warung kopi tepian sawah itu, si anak muda bertanya:

“Abu, apa efek baik dari terlalu banyak minum kopi?”

“Efek baiknya: kamu cenderung berpikir tentang hal-hal yang bersifat radikal.”

“Lalu, apa efek buruk dari terlalu banyak minum kopi?”

“Efek buruknya: kamu cenderung radikal dengan pikiran-pikiranmu itu, sehingga akhirnya kamu cenderung menjadi pemberontak.”

Si pemuda membatin, “Jawaban Abu ternyata singkron dengan antara membaca dan minum kopi. Yakni, kalau banyak minum kopi, akan banyak membaca; kalau banyak membaca, akan menjadi manusia ‘pemberontak’.”
***
“Oya, Abu. Kenapa di Aceh banyak warung kopi?”

“Pertanyaanmu melangkahi urutan silogisme hipotesa. Ayo, bertanya secara sistematis.”

“Oh, sorry Abu. Baik, saya revisi: kenapa orang Aceh suka memberontak pada Pusat?”

“Karena di Aceh banyak warung kopi.”
Si pemuda membatin, “Jawaban Abu memang praduga yang bersifat humor. Tapi jangan-jangan ini malah sebuah hipotesis yang kuat.”
***
“Oya, Abu, kenapa di dataran tinggi Aceh, di Tanah Gayo khususnya, orang suka minum kopi asli?”

“Di sini berudara dingin; minum kopi asli pun tak bikin otak panas.”

“Lalu, kenapa di jalur Pantai Utara-Timur orang lebih cenderung minum kopi yang sudah dicampur dengan bahan-bahan lain seperti beras, jagung, gambir, pinang dan berbagai rempah?”

“Itu untuk menjinakkan zat kafein agar tidak terlalu merangsang psikoaktifmu. Ini hasil warisan pemikiran dan kearifan Indatu orang Aceh sejak zaman dahulu. Pantai Utara-Timur adalah jalur Aceh pesisir yang berudara panas. Di sini, minum kopi campuran saja namun begitu banyak muncul pemberontak. Bayangkan jika mereka tiap hari minum kopi arabica asli.”