Memaparkan catatan dengan label Opini. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Opini. Papar semua catatan

Isnin, 16 Ogos 2021

AKHIRNYA ISU KEBANGKITAN ISLAM KE II PUN REDUP DI INDONESIA

Di tulis oleh Nab Bahany

Kalau Anda pernah mengikuti isu kebangkitan Islam kedua di tahun-tahun 1990-an, yg saat itu diperkirakan Indonesia akan menjadi pelopor dari pusat kebangkitan Islam kedua mengawakili Asia Tenggara di dunia. 

Tentu Anda pasti tau, kenapa kemudian isu kebangkitan Islam kedua yang akan diperankan oleh umat Islam Indonesia ini jadi meredup, seiring dihembuskannya krisis moneter 1997, dan Indonesia saat itu menjadi negara terparah dari krisis moneter itu, hingga berujung pada jatuhnya Presiden Suharto.

Nah dalam tinjauan itulah, di tahun 1996-1997, saya menulis sebuah perjalanan sejarah pergumulan idiologi pembaharuan Islam di Indonesia. 

Karena utk sampai pada isu kebangkitan Islam kedua, yg diperkirakan saat itu umat Islam Indonesia akan menjadi pelopor dari kebangkitan Islam kedua ini, kita harus melihat lebihbdulu sejarah pembaharuan Islam yg terjadi di Indonesia.

Baik tokoh-tokoh dari gerakan pembaharuan Islam Indonesia, maupun pergumulan pemikiran permaharuan Islam yg pernah terjadi di Indonesia. Artinya, dgn melihat sejarah gerakan pembaharuan Islam di Indonesia itu, apakah umat Islam Indonesia berkepampuan utk memimpin kebangkitan Islam kedua sebagaimana yg diisukan waktu itu.

Jawaban atas pertanyaan itu ada dalam tulisan ini. Meskipun tulisan ini saya buat di tahun 1996, namun tulisan ini baru saya publikasikan pd tahun 2012 di "Harian Aceh", yg dimuat dua hari berturut-turut secara bersambung satu halaman penuh setiap pemuatannya. 

Dan yg dimuat di Harian Aceh ini, telah saya sarikan dari kesuluruhan  naskah yg saya tulis sebanyak 68 halaman ketikan. Karena ini menyangkut sejarah pergumulan pemikiran idiologi  gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, insya Allah bila ada Rezki dan Allah mengizinkan, naskah ini akan saya cetak utk jadi buku.

MENGAPA HARUS REVOLUSI MENTAL ?

Di tulis Oleh Nab Bahany
Apa yang salah dengan mental bangsa ini? Sehingga, Presiden Jokowi pada awal periode pertama 2014  memimpin Indonesia, harus menyerukan revolusi mental bagi bangsa Indonesia. 

Apakah mental kita sebagai bangsa Indonesia sudah demikian bobrok? Kalau memang itu kenyataan dalam kita berbangsa dan bernegara, yang tak lagi taat pada aturan, tak lagi menjunjung tinggi nilai moral dan etika.

Maka, mungkin revolusi mental yang diserukan Presiden Jokowi di awal jilid pertama kepemimpinannya dulu, harus menjadi program dari pembangunan manusia Indonesia yang sudah lama sekali terabaikan.

Merevolusikan mental bangsa--bila dianggap sudah demikian bobrok--bukanlah sebuah slogan harapan kosong. Rakyat menunggu perubahan, untuk keluar dari kejunuhan dan sikap apatisnya terhadap penyelenggaraan negara yang solit dan berwibawa.

Maka revolusi mental bagi sebuah bangsa bukan retorika, tapi sebuah gerakan nyata yang memerlukan konsep dan strategi kebudayaan, yang mengarah pada penyadaran seluruh komponen bangsa, untuk kembali ke dasar tujuan berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri republik ini.

Demikian inti dari tulisan yang saya buat tahun 2015, dalam mengkritisi "program revolusi mental" bangsa, yang diserukan Presiden Jokowi di awal jilid pertama kepemimpinannya dulu. Lalu apakah gerakan revolusi mental yang diserukan presiden Jokowi saat itu sudah berhasil atau tidak, semua itu terpulang kepada publik untuk menilainya.
--------------------------

Dan tulisan ini telah disiarkan di Mingguan "Pikiran Merdeka", edisi 99, 23-29 Novemver 2015.

Ahad, 15 Ogos 2021

16 Tahun Perdamaian Aceh

Selamat  16 Tahun Hari Damai Aceh, 15 Agustus 2005 - 15 Agustus 2021.

Hari ini enam belas tahun yang lalu, setelah 30 tahun lebih Aceh berkonflik politik dan bersenjata dgn Republik Indonesia.

Entah berapa ribu nyawa menjadi syuhada. Kita ingat peristiwa demi peristiwa. Bagaimana sungai Arakundoe berubah merah dgn daerah, Simpang KKA nembabi buta, rumah gedung Arun juga tak pernah lupa, desa Cet Keng  Bandardua menjadi desa janda. Bantaqiah Beutong Ateuh disiram dgn senjata.

Kenapa kita mudah lupa. Seakan hari ini tak pernah tejadi apa-apa. Sehingga terkesan berfoya-foya di atas darah syuhada. Semestinya di hari damai tiap 15 Agustus sejak 2005, adalah hari berlangsungkawa bagi syuhada-syuhada yg telah tiada.

Benar, pejuangan selalu menuntut pengorbanan. Dan mereka telah memberikannya. Bukan hanya cinta, tangis, dan air mata. Nyawa telah dikorbankan utk masa depan anak negeri. Namun harapan cinta rangkaian janji, tangis dan air mata berubah jadi hampa.

Duhai Aceh, enam belas tahun hari ini engkau berdamai, kenapa engkau termiskin di Sumatera? Padahal sudah 60 triliun  dana Otsus dari Jakarta engkau kelola. Siapa yg berfoya-foya tega mengalih pembangunan rumah dhu'afa.

Aceh, hari ini 16 tahun sudah engkau ikrarkan damai, membangun anak negeri, yatim piatu dan perempuan-perempuan janda di gampong-gampong dan desa-desa, yang ayah-suaminya telah syuhada. Saat jam malam mendera, saat DOM membabi buta, engkau tak bedaya membela sesama saudara.

Maka biarlah semua luka nestapa itu tercatat dalam sejarah. Siapa yang benar dan salah dalam setiap perjuangan akan  terbukti di kemudian hari.

Di Tulis Oleh Nab Bahany

Sabtu, 13 Januari 2018

Buku Tak Pernah Sombong

Setiap manusia normal tentu merasa risih dan tidak nyaman saat berhadapan dengan sosok-sosok manusia sombong. Dan bahkan manusia sombong sekali pun pada hakikatnya juga sangat membenci kesombongan yang dipraktikkan di hadapannya, meskipun ia sendiri tetap kekal dengan kesombongannya.

Sebab-sebab kesombongan itu sendiri beragam rupa. Sebagian orang sombong karena kelebihan fisiknya, sehingga merasa ganteng, cantik, manis, mancung, putih dan lentik. Sementara sebagian yang lain, sombong sebab kelebihan otaknya sehingga merasa pandai, ahli, teliti dan telaten. Selain unsur dari dalam, kesombongan juga disebabkan oleh kelebihan yang datang dari luar dirinya, semisal kekayaan dan jabatan.

Jadi, kesombongan muncul akibat “merasa lebih” dari orang lain, baik lebih parasnya, lebih otaknya, lebih hartanya atau pun lebih jabatannya. Singkatnya, manusia-manusia sombong adalah mereka-mereka yang takluk pada perasaannya yang belum tentu benar. Artinya, seorang yang sombong sebab merasa cantik misalnya, belum tentu dia benar-benar cantik. Demikian pula mereka yang sombong karena merasa pandai pun belum tentu ia benar-benar pandai.

Ada banyak cara bisa digunakan untuk mengobati diri dari kesombongan. Salah satunya dengan belajar pada buku-buku. Kita bisa menyaksikan bagaimana buku-buku berbaris rapi dalam rak tanpa saling menyombongkan diri. Mereka saling mengisi dan saling melengkapi.

Buku hasil karangan seorang doktor terkenal lulusan Harvard dengan judul “Money Politik” bisa saja mengambil posisi di samping buku “Cara Caleg Bagi-Bagi Uang”, karya anak kuliahan yang sudah tiga kali terancam drop out. Demikian pula dengan buku karangan seorang perdana menteri yang berjudul “Cinta Para Raja” bisa saja hidup bertetangga dengan buku “Manisnya Selingkuh” karangan sanstrawan jalanan. Buku-buku itu senantiasa terlihat setara dalam rak dan lemari-lemari kaca.

Jika membangun komunikasi dengan manusia-manusia sombong itu terlihat sulit, maka segera beralih pada buku-buku, sebab buku tidak pernah sombong. Buku Samuel P. Huntington misalnya tidak mesti dibaca oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai pakar politik internasional, tapi bisa saja diselami oleh “anak-anak OSIS.” Demikian pula dengan buku “Demokrasi untuk Indonesia” karya Hasan Tiro pun tidak hanya menjadi bacaan kader Gerakan Aceh Merdeka atau alumnus UII, tapi ia tetap nikmat dilahap oleh siapa pun yang mengklaim diri sebagai “Tirois.”

Mulai hari ini, jika saudara-saudara anda sombong, rekan-rekan anda sombong dan atasan-atasan anda sombong, maka segeralah beralih pada buku-buku, sebab buku tidak pernah sombong. Buku-buku, sehebat apa pun dan setinggi apa pun isinya, ia tetap membuka dirinya untuk dibaca oleh siapa pun, tak peduli latar belakang pendidikan dan gelar akademik yang disandang oleh pembacanya.

By Khairil Miswar

Sudah Malas Membaca, Di Larang Lagi.

Pada akhir masa perang, tepatnya di hari penandatanganan Perjanjian Damai Perang Aceh-Jakarta di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005, nun jauh di tengah belantara hutan Aceh, seorang tentara gerilyawan—dengan AK-47 masih siaga di tangan—bertanya pada komandannya:

“Maaf, Komandan. Apakah dengan ditekennya janji damai di Helsinki berarti perang kita dengan Jakarta telah selesai?”

Dengan gaya militer penuh, Sang Komandan—generasi pertama tamatan pendidikan militer Libya—menjawab dengan tegas dan nada tinggi:

“Memang betul! Pertempuran kita dengan Jakarta sudah selesai! Tetapi! Perjuangan kita memerangi rasa malas membaca bermacam-ragam kitab dan buku, masih berlanjut!”

“Bagaimana dengan kitab-kitab yang dilarang baca itu, Komandan?”

“Baca saja diam-diam! Jangan takut sesat! Nanti kalau sesat, saya yang luruskan kalian! Kenapa larang-larang membaca! Sudah rakyat malas membaca, dilarang-larang pula!”

“Siap, Komandan!” balas prajurit tentara gerilyawan itu sambil mengangkat tabik ke arah komandannya, kemudian balik kanan dan langsung berjalan dengan langkah-langkah tegap menuju Perpustakaan Gampong di desa kaki gunung terdekat.

Credit FB Musmarwan