Memaparkan catatan dengan label ulama aceh. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ulama aceh. Papar semua catatan

Khamis, 13 Februari 2025

Ulama Kharismatik Aceh Meninggal Dunia


Aceh kembali berduka atas berpulangnya Abu H. Usman Bin Ali, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Kuta Krueng, seorang ulama kharismatik yang dihormati karena kezuhudan dan kebijaksanaannya.

Beliau wafat pada malam Kamis, 13 Februari 2025, pukul 04.30 WIB dinihari di RSUZA Banda Aceh. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam, terutama para santri dan masyarakat yang selama ini menjadikannya tempat bertanya dan mengambil berkah dari ilmu serta nasihatnya.

"Sejak muda, Abu telah dikenal dengan keistiqamahannya dalam beribadah, kelembutan hati, dan keteguhan dalam menuntut ilmu. Meski tidak banyak bicara, setiap nasihat yang beliau sampaikan selalu menjadi penawar hati dan sumber inspirasi bagi banyak orang. Banyak masyarakat rela menempuh perjalanan jauh demi mendengarkan petuah beliau, yang kerap disertai ayat suci, doa, dan zikir penuh keberkahan," ujar Tgk. H. Umar Rafsanjani, Lc, MA, pimpinan Dayah Mini Banda Aceh sekaligus Ketua Komisi C MPU Kota Banda Aceh.

Kezuhudan yang beliau anut bukan sekadar pilihan hidup, melainkan cerminan dari kedalaman ilmunya dan keikhlasan dalam beramal. Warisan terbesarnya bukan hanya ilmu yang beliau bagikan, tetapi juga keteladanan dalam akhlak dan kehidupan spiritual yang terus menginspirasi generasi penerus.

Pada hari yang sama di bagian barat-selatan Aceh. Kepergian Abu Lamno meninggalkan luka bagi umat. Aba H. Asnawi memang lebih dikenal dengan panggilan Abu Lamno. Beliau memimpin sebuah lembaga pendidikan islam bernama Dayah Bahrul 'Ulum berlokasi di Lamno, Aceh Jaya.

“Semoga diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosanya dan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT, Aamiin Ya Rabbal A’lamiin.”

Khamis, 29 September 2022

Sanad Keilmuan Ulama Besar Aceh


Dalam foto ini ada empat ulama besar Aceh dalam sebuah acara di Ruhul Fata Seulimuem. Mereka adalah Abuya Muhibbuddin Waly, Abu Tumin Blang Blahdeh, Abon Seulimuem, Abu Kuta Krueng. 

Bila diuraikan, ternyata semua sanad para ulama Aceh mengkerucut kepada Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, melalui jalur Syekh Abu Bakar Syattha pengarang Kitab Hasyiah I'anah Thalibin ulasan untuk Kitab Fathul Mu'in.

Sanad ulama Aceh hampir semuanya dari jalur Syekh Ali bin Husen al Maliki, Syekh Sayyid Ahmad bin Abu Bakar Syatta dari Syekh Abu Bakar Syatta ke Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan hingga ke Imam Besar Imam Muhammad Bin Idris Syafi'i. 

Jalur ulama Aceh yang dimaksudkan, Abuya Muhibbuddin Waly mengambil sanad dari Abuya Syekh Muda Waly. Dan Abuya Syekh Muda Waly mengambil sanad dari Syekh Ali Bin Husein al Maliki, Syekh Ali Maliki mengambil sanad ke Syekh Sayyid Abu Bakar Syatta ke Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. 

Adapun Abu Tumin Blang Blahdeh mengambil sanad kepada Abu Krueng Kalee. Abu Krueng Kalee mengambil sanad kepada Syekh Sayyid Ahmad Bin Abu Bakar Syatta, kepada Syekh Abu Bakar Syatta kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. 

Selanjutnya Abon Seulimuem mengambil sanad dari Abon Samalanga. Abon Samalanga mengambil sanad kepada Abuya Syekh Muda Waly, sanad Abuya sampai ke Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. 

Selanjutnya Abu Kuta Krueng mengambil sanad dari Abi Hanafiyah Abbas, Abu Hanafiyah mengambil sanad dari Syekh Sayyid Ahmad Abu Bakar Syatta. Sayyid Ahmad Syattha mengambil dari Sayyid Abu Bakar Syatta. Sayyid Abu Bakar kepada Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan hingga ke Imam Syafi'i. 

Jadi hampir semua ulama Aceh sanadnya bermuara kepada Syekh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dari jalur Syekh Sayyid Bakri Syatta Pengarang Kitab I'anah Thalibin. Demikian sekilas.

Jumaat, 13 Mei 2022

Sejarah Dan Biografi Syaikhul Islam Abuya Syekh Muhammad Muda Waly Al Khalidi.


* Disarikan oleh Tgk Tarmizi Thaib 

Abuya Muda Waly adalah seorang Ulama Kharismatik, Waliyullah yang sangat dihormati lagi dicintai, khususnya oleh masyarakat Aceh. Beliau bernama lengkap Syekh H. Muhammad Waly bin Teungku Syekh H. Muhammad Salim bin Teungku Malem Palito, berasal dari Batu Sangkar, Sumatera Barat.
Sedangkan Ibunda beliau bernama Janadat binti Keuchik Nyak Ujud, berasal dari Kota Palak kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Abuya Muda Waly lahir di desa Blang Poroh, kecamatan Labuhan Haji, kabupaten Aceh Selatan pada tahun 1917 M. Menurut anak kandung beliau yakni Abuya Prof. Dr. H. Muhibuddin Waly, didalam bukunya yang berjudul “Maulana Teungku Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidy”,  tidak seorang pun dari famili yang tahu persis tentang hari, tanggal dan bulan kelahiran sang Ayahanda.

Dimasa kecilnya Abuya Mudawaly sering dipanggil dengan sebutan Angku Mudo atau Muda atau Muhammad Waly. Santri dan masyarakat pada umumnya memanggil beliau dengan sebutan Abuya atau Buya, yang berarti Guru atau Maha guru. Adapun panggilan yang paling masyhur lagi ma’ruf terdengar dari masyarakat Aceh  hingga sampai saat ini adalah Abuya Mudawaly.

Abuya Muda Waly rahimahullah  berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 28 maret 1961 M/11 Syawal 1381 H hari selasa jam 15.30 WIB dalam usia 44 tahun, dan dimakamkan ditengah komplek Dayah Darussalam.

Hingga sampai saat ini makam beliau tidak pernah sepi dari para penziarah, baik dari kalangan Ulama, santri maupun masyarakat umum. Beliau meninggalkan 19 orang anak dan lima isteri, salah seorang diantaranya cerai sebelum menikahi isteri yang kelima.

Riwayat Pendidikan

Abuya sering berpindah dari satu dayah ke dayah lainnya untuk menuntut ilmu. Sebelum menyelesaikan Vervold School di Kuta Trieng, beliau juga belajar di pesantren Jami’ah Al-Khairiyah, satu-satunya pesantren di Labuhan Haji saat itu.

Lalu melanjutkan pendidikannya di Ponpes Bustanul Huda Blang Pidie yang diasuh oleh seorang Ulama besar bernama Syekh H. M. Mahmud, atau lebih dikenal dengan panggilan Abu Syekh Mud. Tiga tahun setelahnya, Abuya berangkat ke Kuta Raja -sekarang Banda Aceh- untuk melanjutkan pendidikannya di Dayah Abu Krueng Kalee dan Abu Hasballah Indrapuri, Aceh Besar sekitar tahun 1933 M.
Selanjutnya Abuya Muda Waly dikirm ke Normal Islam di Padang oleh Aceh Study Fond saat itu. Namun beliau bertahan di sekolah tersebut hanya sekitar 3 bulan saja, karena terjadi perbedaan paham dengan pimpinan Normal Islam yang saat itu dijabat oleh H. Mahmud Yunus.

Akhirnya beliau melanglang buana dengan berdakwah keliling dan belajar di pesantren lainnya, seperti Dayah Syekh Mohd. Jamil Jaho di Padang Panjang, serta berguru thariqat kepada Syekh Abdul Ghani Kampary, di Batu Basurek, Bangkinang, Riau.

Kemudian Abuya sempat melanjutkan pendidikannya di Mekkah Mukarramah, berguru kepada Syekh Ali Maliki pengarang kitab Hasyiah Asybah wan-Nadhair karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan kepada Ulama lainnya yang beliau jumpai disana. Lalu beliau kembali ke Sumatera Barat, kemudian ke tanah kelahirannya, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Abuya Muda Waly adalah Ulama yang sangat teguh lagi Konsisten dalam mengimplementasikan Iman, Islam dan Ihsan sesuai dengan sunah Nabi. Yakni menyangkut dengan ‘ubudiyah/bidang syari’at beliau berpedoman kepada mazhab Syafi’I, dalam masalah aqidah berpedoman kepada Ahlussunnah wal jama’ah, serta istiqamah mengamalkan thariqat Naqsyabandiyah dalam bidang tasawuf/kesufian.

Kekukuhan pendirian beliau ini membuatnya sidak sungkan-sungkan menulis namanya dengan sebutan Tgk. Syech H. Muda Waly Asy-Syafi’I Al-Asy’ari Al-Khalidy. Dengan maksud, Syekh Mudawaly adalah penganut mazhab Syafi’I dan paham Ahlussunnah wal jama’ah dengan berthariqat Al-Khalidiyyah Naqsyabandiyyah.

Kiprahnya Untuk Agama, Bangsa dan Negara

Kemenonjolan Abuya Muda Waly bukan hanya dalam bidang agama saja, melainkan juga dalam bidang politik dan ideologi Negara. Dalam bidang politik beliau memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi.

Indikasinya, selain sebagai pelopor Partai Islam (PI) Persatuan Tarbiyah Islamiah (PERTI) yang pernah menang dalam pemilu di pantai Barat Selatan. Sebab PERTI sejak saat itu identik dengan amaliah dan aqidah Ahlussunnah wal jama’ah.
Demikian pula ketika meletusnya pemberontakan DI/TII yang dicetuskan oleh mantan Gubernur Aceh, Langkat dan Tanah karo, Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tahun 1953, Abuya Mudawaly termasuk salah seorang Ulama yang menentangnya. Meski beliau terkadang kurang setuju dengan kebijakan pemerintahan Orde Lama.

Dalam rangka menghadapi kebrutalan pasukan DI/TII yang saat itu kebanyakan mereka menggunakan senjata api, Abuya terpaksa membentuk pasukan khusus yang diberi nama pasukan Peudeung Panyang (Pedang Panjang) yang didalamnya terdiri dari orang-orang sakti.

Bahkan beliau pernah diundang ke Cipanas, Bogor tahun 1955 oleh Menteri Agama yang saat itu dijabat oleh KH. Masykur untuk menghadiri rapat akbar Ulama se-Indonesia, dan beliau setuju memberi gelar Ulil Amri kepada Presiden Soekarno dengan syarat harus ditambah dengan adh-dharuriy bisy-syaukah.

Abuya Muda Waly tidak hanya berkiprah melalui dakwah dan seminar, akan tetapi beliau juga aktif berdakwah secara langsung atau yang disebut dengan dakwah bil-hal. Beliau tidak segan-segan untuk turun tangan secara langsung dalam memberantas kesyirikan, kemaksiatan, khurafat dan lain sebagainya.

Beliau senantiasa menentang pemujaan-pemujaan. Bahkan beliau pernah memecah batu besar yang telah lama dipuja sebahagian penduduk di daerah singkil, dan juga menebang sebatang pohon kayu raksasa yang telah dipuja sebagian penduduk Aceh Barat bertahun-tahun lamanya, yang mana sebelumnya tak ada orang yang berani menebangnya termasuk paranormal hebat sekalipun, karena takut kepada kekuatan ghaib.

Karya-karya Abuya Muda Waly diantaranya: Al-Fatawa (beberapa fatwa agama), Tanwirul Anwar (Aqidah), Tuhfatul Muhtaj (fiqh) serta beberapa kitab tashawwuf lainnya.

Sepulangnya dari Mekah, Abuya mendalami ilmu thariqat ke daerah Riau, beliau berguru kepada Syekh H. Abdul Ghani al-Kamfari. Setelah menamatkan suluknya dan mendapatkan ijazah thariqat, barulah Abuya kembali ke Padang dan mendirikan pesantren di Padang  yang bernama Busthanul Muhaqqiqin di daerah Lubuk Bagalung Padang.
Murid-murid yang belajar di pesantren itu cukup banyak. Bahkan banyak yang berdatangan dari Aceh. Tetapi ketika Jepang masuk ke Padang, yang diduga mempunyai niat tidak baik terhadap Ulama yang berpengaruh di Sumatera Barat, maka Abuya mengambil keputusan untuk kembali ke Aceh, karena di Aceh beliau merasa tenang dan aman untuk mengamalkan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan yang beliau pelajari.

Beliau kembali ke Aceh Selatan sekitar akhir tahun 1939 dengan naik perahu layar dari padang ke Aceh di kecamatan Labuhan Haji. Setelah beberapa hari berada didesa kelahirannya, Abuya Mudawaly mendirikan sebuah pesantren yang diberi nama Dayah darussalam alwaliyah . Sedikit demi sedikit pesantren tersebut semakin berkembang, sehingga para pelajar dari luar daerah pun berdatangan untuk nyantri disana.

Dari didikan Abuya Muda Waly lahirlah banyak tokoh Ulama yang terkemuka. Yang kemudian juga mendirikan pesantren di daerah mereka masing-masing yang tersebar keseluruh penjuru Aceh, bahkan sampai keluar negeri seperti di Thailand, Malaysia dan lain-lain.

Demikian sekilas mengenai sejarah Ulama Kharismatik asal Aceh yang namanya masih sangat harum hingga saat ini, yang sangat berjasa bagi Agama Islam dan Bangsa Indonesia terkhusus bagi bangsa Aceh sendiri.

Semoga Allah SWT senantiasa mengampunkan dosa-dosa beliau dan kita semuanya, dan semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan ilmu Abuya Mudawaly kepada kita semua. Hingga kelak kita semua dikumpulkan di Syurga-Nya bersama para Nabi, Para Wali Allah, Shiddiqin, Abuya dan para Kekasih Allah Ta’ala yang lainnya. wallahua’lambisshawab!

(Disarikan dari buku Al-Fatawa yang diterjemahkan oleh Abuya Habibie Muhibbuddin Waly, S.Th, pada lampiran “Biografi Abuya Syeikh H. Muda Waly al-Khalidy”. Dan sebahagiannya dari buku  “Maulana Teungku Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy” yang disusun oleh Abuya Prof. Dr. H. Teungku Muhibuddin Waly)

Rabu, 11 Mei 2022

Abu Muhammad Ali Lampisang, Guru Syekh Muda Waly yang Hidup Bersahaja.


Nama beliau sering disebutkan bergandengan dengan nama Abu Kruengkalee, Abu Syech Mud Blangpidie, Abu Indrapuri, sebagai guru dari Abuya Syekh Muda Waly. Nama asli beliau adalah Teungku Muhammad Ali yang berasal dari Siem Aceh Besar. Namun karena lama belajar di Lampisang, sehingga dilekatkan dengan namanya Teungku Muhammad Ali Lampisang.

Beliau lahir di Siem pada tahun 1894, dan ibunya adik kakak dengan ibu dari Abu Hasan Kruengkalee. Melihat dari tahun kelahiran Abu Muhammad Ali Lampisang, beliau lebih muda dari Abu Kruengkalee yang lahir tahun 1886 dan lebih tua dari Abu Syech Mud yang lahir 1889.

Namun, ketiga ulama tersebut hampir memiliki kesamaan dalam prinsip dan cara mengajarkan ilmu keislaman. Bahkan Abu Kruengkalee yang merekomendasikan Abu Ali Lampisang dan Abu Syekh Mud untuk dikirim ke Aceh Selatan, menjadi ulama yang mengayomi pemahaman keagamaan masyarakat di Labuhan Haji Aceh Selatan dan Blangpidie Abdya, karena dahulunya Blangpidie merupakan pemecahan wilayah setelah pemekaran Aceh Selatan dan Abdiya.

Mengawali masa belajarnya, Abu Muhammad Ali belajar di Kemukiman Siem tepatnya di Dayah Teungku Chik Keubok yang dipimpin oleh Teungku Musannif, dan di dayah inipula Abu Kruengkalee belajar. Selain itu di Siem juga ada Dayah Meunasah Blang yang juga dipimpin masih oleh pamannya Abu Muhammad Ali dan Abu Kruengkalee.

Setelah memiliki ilmu-ilmu dasar keislaman dan menguasai kitab-kitab pertengahan, beliau kemudian belajar ke Lampisang, belajar kepada Teungku Chik Muhammad Said anak dari Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, ulama dan Teungku Chik di Dayah Tanoh Abee. Tidak diketahui berapa lama beliau di Lampisang, sehingga beliau kemudian dikenal dengan Teungku di Lampisang.

Walaupun telah menjadi seorang alim yang diperhitungkan, Teungku Muhammad Ali Lampisang kemudian melanjutkan pengajian tingkat tingginya ke Negeri Jiran Malaysia, tepatnya di Yan Kedah. Di sana beliau belajar kepada para ulama yang hijrah dalam perang Aceh yaitu Teungku Chik Muhammad Arsyad di Yan, Teungku Chik Oemar Diyan dan Teungku Muhammad Saleh yang dikenal dengan Abu Lambhuk.

Di Yan Kedah, Abu Muhammad Ali Lampisang mematangkan karier keilmuannya, sehingga menjadi ulama yang mendalam ilmunya. Beliau adalah kakak kelas dari ulama besar Lhoknga Abu Syech Mud yang belajar di Yan rentang waktu 1920-1926.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Yan Kedah, Abu Lampisang kemudian pulang dan mengabdikan ilmunya di daerah Kruengkalee, Siem, dan menjadi guru di beberapa dayah yang ada di Kemukiman Siem Aceh Besar. Bahkan, disebutkan Abu Lampisang adalah tangan kanan Abu Kruengkalee dalam mengajarkan di Dayah Manyang Kruengkalee.

Tepatnya tahun 1921, Abu Lampisang diutus ke Labuhan Haji Aceh Selatan atas rekomendasi ulama bangsawan Tuwanku Raja Keumala, sepengetahuan Abu Hasan Kruengkalee, Sesampainya di Labuhan Haji, beliau kemudian membuka lembaga pendidikan yang dikenal dengan Jam’iyyah Khairiyah.

Dalam rentang kepemimpinan beliau di Dayah te tersebut 1921-1930, banyak berdatangan para santri yang belajar kepada beliau dan umumnya mereka menjadi ulama kharismatik Aceh seperti Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy, Abu Adnan Mahmud Bakongan dan Syekh Bilal Yatim Suak. Bahkan, Abuya Syekh Muda Waly belajar secara mendalam kepada beliau, sehingga fase berikutnya belajar pula kepada Abu Syech Mud Blangpidie di Dayah Bustanul Huda.

Karena Dayah Bustanul Huda di bangun pada tahun 1928 setelah selesainya belajar Abu Syech Mud di Yan Keudah, diminta oleh Teuku Sabi Uleebalang Kuta Bate Blangpidie untuk menjadi ulama di Blangpidie setelah Pemberontakan Teungku Peukan Blangpidie terhadap Belanda, untuk menggantikan posisi Teungku Yunus Lhoong dengan Dayahnya Jami’ah Islamiyah.

Pada tahun 1930 Jam’iyah Khairiah Abu Lampisang ditutup dan beliau pun kembali ke Siem Aceh Besar. Tidak diketahui alasan yang pasti, namun disebutkan bahwa ditutupnya Dayah tersebut karena kekhawatiran Belanda terhadap semangat jihad para pejuang yang banyak bertebaran di Aceh Selatan seperti Teuku Raja Angkasah dan Teuku Cut Ali.

Sekembalinya ke Siem, Abu Lampisang tetap dengan aktivitas beliau sebagai ulama yang mengayomi ummat dan aktif mengajar di berbagai tempat. Disebutkan, beliau adalah seorang ulama yang tawadhu’, rendah hati dan bersahaja dalam hidupnya. Setelah pengabdian yang tulus dan panjang, wafatlah ulama kharismatik ini di tahun 1960. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Ditulis Oleh:
Dr. Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary, Lc (Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama)

Sabtu, 12 Jun 2021

Ulama Aceh Yang Telah Pergi Dalam 2 Tahun Ini (2020-2021)


1). Tgl. 10 Jan 2020 - Abu H. Hanafi bin Syubramah (Abu Matang Keh) Murid Abuya Muda Waly

2). Tgl. 13 Jan 2020 - Abu Najimuddin Abdullah (Abu Najib Lamlo)

3.) Tgl. 25 Jan 2020 - Tgk. H. Azharuddin (Waled Idi Cut)

4.) Tgl. 28 Jan 2020 - Abon H. M. Hasbi Nyak Diwa (Abon Kota Fajar) Murid Abuya Muda Waly

5). Tgl. 28 Jan 2020 - Tgk. H. Ridwan bin Jalil (Abon Takengon)

6). Tgl. 16 Mar 2020 - Abu H. Bukhari bin Abu Hasan (Ayah Leuge) Alumni Mudi Samalanga

7). Tgl. 17 Mar 2020 - Tgk. H. Abdul Wahab bin Ali (Abu Di Balee) Pimpinan Dayah Kampong Aree

8). Tgl. 17 Jan 2020 - Abuya H. Hamid Laduni

9). Tgl. 24 Agt 2020 - Abi Syarifuddin bin Tgk. Abdul Jalil (Abi Bidok) Alumni Dayah Lam Ateuk. Syaikhuna

10). Tgl. 05 Sep 2020 - Waled Nasir Buloh Blang Ara

11). Tgl. 11 Sep 2020 - Abon H. Marzuki bin Abu Abdullah (Anak Abu Tanoh Merah) 

12). Tgl. 23 Sep 2020 - Abi Masykur bin Tgk Abd. Rasyid (Alumni Darul Huda)

13). Tgl. 31 Okt 2020 - Abu H. Muhammad Abduh bin Hasan Shaleh (Abu Laga Baro) Alumni Mudi Samalanga

14). Tgl. 16 Des 2020 - Abu H. Mustafa bin Tgk. Ahmad (Abu Paloh Gadeng) Murid Abu Tumin Blang Blahdeh.

15). Tgl. 22 Des 2020 - Abu H. Hamdan Mustafa (Abu Gurah) di Banda Aceh

16). Tgl. 18 Jan 2021 - Habib Muhammad bin Ahmad Alathas di Simpang Ulim Kab. Aceh Timur

17). Tgl. 12 Mar 2021 - Tgk. H. Subki bin Tgk Abdul Jalil (Guru Senior Dayah Kruet Lintang)

18). Tgl. 16 Mar 2021 - Abu H. Muhammad Daud bin Zamzami (Abu MPU Aceh) Murid Abuya Muda Waly 

19). Tgl. 16 Mar 2021 - Abu H. Ibrahim Gasni (Abu Nek Nagan Raya) Murid Abuya Muda Waly

20). Tgl. 2 Mei 2021 - Abati Syukri bin Tgk. Adam (Abati Mampre) Murid Abu Tumin Blang Blahdeh

21). Tgl. 5 Mei 2021 - Abu H. Abdullah bin Tgk. Abdul Rasyid (Abu Kruet Lintang) Murid Abu Sulaiman Lhoksukon

21). Tgl. 7 Mei 2021 - Abu H. Abdul Wahab bin Tgk. Hasan (Abu Matang Perlak) Murid Abuya Muda Waly 

22). Tgl. 7 Mei 2021 - Abu H. Ishaq Salam di Meulaboh Kab. Aceh Barat 

23). Tgl. 22 Mei 2021 - Waled H. Ibrahim Usman (Waled Ulee Titi) Pimpinan Dayah Putri Ulee Titi

24). Tgl. 23 Mei 2021 - Abu H. Mahdi Lam Ateuk, Pimpinan Dayah Istiqamatuddin Darussalam)

25). Tgl. 3 Juni 2021 - Abati H. Ramli Ben Cut (Abati Babah Buloh) Alumni Tanoh Mirah. Syikhuna

Sumber Pendukung : 

Jumaat, 12 Februari 2021

Abuya Muhibuddin wali Ulama Karismatik Aceh.


(Alm) Prof. Dr. Tengku H. Muhibuddin Waly Al-Khalidy, akrab disapa Abuya Muhibuddin (lahir di Aceh, 17 Desember 1936 – meninggal di Banda Aceh, 7 Maret 2012 pada umur 75 tahun) adalah seorang ulama Nanggro Aceh Darussalam(NAD). Beliau merupakan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh. Abuya pernah mengajar sebagai Guru Besar di Universitas Islam Internasional Malaysia.

Mursyiduna Naqsyabandiyah Al Waliyah Al Khalidiyah.

2. ABATI BABAH BULOH


(Alm)Tgk. H. Ramli Ben cut atau lebih dikenal dengan Abati Babah Buloh,.beliau lahir diDesa Reuleut Timu Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara, pada bulan Maret 1945. Beliau kerap di sapa dengan Abati Babah Buloh karena memang beliau memimpin sebuah Dayah yang bernama Dayah Nurul Islam di Desa Babah Buloh Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini ane pernah "Teungeut² Jaga" lebih kurang 6 bulan.

3. Abu Kutakrueng

TGK H USMAN BIN TGK ALI, Lahir di Kuta Krueng Pidie Jaya pada tanggal 31 Desember 1940 dengan nama lengkap Tgk H Usman bin Tgk Ali. Dengan beliau kami pernah mengambil tarekat yasin, ayat al qursy dan dalail khairat. 

Pendiri Dayah Darul Munawarah, Kuta Krueng, Pidie Jaya, Nanggro Aceh Darussalam. 

5. Abu Mustafa

(Alm)Abu Paloh Gadèng, dng nama asli Teungku(ust) Haji Mustafa Ahmad(Almarhum). Dengan abu kami hanya pernah bertemu dan juga mempunyai talo warèh ikut jalur umi.

Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Darul Huda di Gampong Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

6. Abi Bidok

(Alm)Abi bidok, dng nama asli Tgk/Ust H Syarifuddin bin Abdul Jalil(Almarhum). 

Pimpinan Dayah Daruzzahidin Al-Istiqamatuddin Gampong Bidok, Ulim, Nanggro Aceh Darussalam. Di dayah ini kami pernah basuh² kolah lebih kurang 3 bulan. 🤭

اللهم اغفرلهم وارحمهم