Memaparkan catatan dengan label Sejarah Kerjaan Aceh. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sejarah Kerjaan Aceh. Papar semua catatan

Sabtu, 5 Jun 2021

Daftar Irigasi Di Aceh Yang Di Bina oleh Belanda.

                   Foto Irigasi Kreung Peusangan

Keterangan keterangan lengkap mengenai pekerjaan irigasi dalam daerah Aceh,baik yang telah dikerjakan maupun yang diusulkan pelaksanaannya itu dapat dijumpai dalam nota 
yang ditulis oleh Ir.Berkhout berjudul “Het nut van irrigatie voor Atjeh” (kegunaan irigasi untuk daerah Aceh) yang telah disiapkan dalam Desember 1930.

dengan rencana pembuatan pekerjaan irigasi baru dan mau melaksanakan pekerjaan itu dengan menuruti petunjuk petunjuk kami dalam bentuk yang lebih banyak tidak dibayar.

Mengetahui hasil-hasil selanjutnya dipersilahkan memperhatikan daftar terlampir:

I. Pekerjaan irigasi pemerintah yang dikerjakan selama masa 1929-1932: 

1) Pembuatan bendungan baru di Krueng Idi Rayeuk dekat Jambo Reuhat (diotorisasi dengan Surat Keputusan 
Pemerintah Pusat tanggal 14 Mei 1928 Nomor 11, siap dikerjakan bulan Desember 1929 dengan biaya 
(dibulatkan) f108.395,00).

2) Perbaikan-perbaikan berat bendungan Krueng Bakongan (diotorisasi dengan Surat Keputusan Direktur Pekerjaan 
Umum tanggal 2 juli 1929 Nomor E 15/4/22, praktis selesai dikerjakan bulan Desember 1929).

3) Perbaikan pengaliran air Krueng Peusangan sebelah kiri (diotorisasi dengan Surat Keputusan Direktur Pekerjaan Umum tanggal 25 september 1930 Nomor E 15/5/12, siap dikerjakan bulan Desember 1931 dengan biaya 
(dibulatkan) f 41.665,00). 

4) Pembuatan pembagian air untuk mukim mukim Nicah dan Tanjong (diotorisasi dengan Surat Keputusan 
Direktur Pekerjaan Umum tanggal 9 November 1931 Nomor E 15/5/8-9, belum siap dikerjakan dengan biaya 
f3.000,00). 

II. Pekerjaan irigasi pemerintah yang telah diajukan rencana pelaksanaannya kepada Direktur Pekerjaan Umum selama tahun 1929-1932, akan tetapi belum diotorisasi berhubung dengan penghematan.

1) Bagian pertama untuk pengaliran detail Krueng Idi Rayeuk (dilanjutkan pada tanggal 20 Oktober 1930; 
rencana biaya f 85.700,00).

2) Perbaikan pemasukan dan pengeluaran air Paya Rubee (diajukan pada tanggal 14 Setember 1931; rencana biaya f 59.000,00).

III. Pekerjaan-pekerjaan irigasi yang sebagian besar sudah selesai dikerjakan, akan tetapi, berhubung dengan keadaan 
masanya, tidak diajukan.

1) Perbaikan pengaliran air Krueng Geupeu dekat Leupung (diusahakan agar sebagiannya dapat dikerjakan dengan 
pekerjaan rodi, sementara sebagiannya lagi dengan bantuan “dana-dana perawatan biasa”; kerajinan dan 
animo rakyat sangat berkurang,sehingga setelah dipertimbangkan masak masak oleh Imuem Teuku Mansur Leupung – telah diputuskan untuk dihentikan
seluruh pekerjaan itu). 

2) Perbaikan pembuangan air di dan sekeliling Kutaraja(Ketua Dana Kota Kutaraja mempertimbangkan untuk 
melaksanakan sebagian dari pekerjaan itu dengan biayabiaya dana tersebut).

3) Pembaruan akuaduk di Lueng Pangwa, wilayah Mereudu.

IV. Pekerjaan-pekerjaan irigasi yang selama masa 1929-1932 baik seluruhnya maupun sebagian besarnya 
dilaksanakan oleh penduduk sendiri tetapi dipimpin atau dengan bantuan Dinas Pekerjaan Umum.

1) Pembuatan bendungan kasur (=matrassendam) di Krueng Geupeu dekat Leupung, wilayah Lhok Nga.

2) Perluasan pengaliran air Krueng Jeulanga dan Krueng Kiran dekat Jangka Buya, wilayah Bireuen.

3) Perbaikan pengaliran air Paya Laot di Peudada, Kenegerian Samalanga, wilayah Bireuen.

4) Pembuatan tanggul penahan air asin dekat Alue Buya, wilayah Bireuen.
5) Perbaikan pengaliran air Paya Kareueng dekat Bireuen,wilayah Bireuen.

6) Perbaikan pengaliran air Alue Bobo sebelah kanan Krueng Peusangan,wilayah Bireuen.

7) Perbaikan pembuangan air Paya Seunudōn, wilayah Lhoksukōn.

V. Pekerjaan-pekerjaan irigasi yang selama masa 1929-1932dilaksanakan oleh penduduk, akan tetapi dengan 
mengikuti petunjuk petunjuk Dinas Pekerjaan Umum. 

1) Perluasan pengaliran air sebelah kanan Krueng Samalanga,wilayah Bireuen.

2) Perbaikan pengaliran air Krueng Leubu, wilayah Bireuen.

VI. Pekerjaan-pekerjaan irigasi yang telah diperiksa luasnya selama masa 1929-1932 akan tetapi belum selesai 
diperbuat rencananya:

1) Perluasan pengaliran air Krueng Langkareung, wilayah Seulimeum; tidak akan dilaksanakan.

2) Pelaksanaan pengaliran air Krueng Lam Panaih, wilayah Selimuem.

3) Pelaksanaan pengaliran air waduk Cot Amut, wilayah Sigli, yang akan dibuat lagi.

4) Pelaksanaan pengaliran air dari dua buah waduk dalam kenegerian Panteraja, wilayah Meuredu; tidak akan dilaksanakan.

5) Pelaksanaan pengaliran air Krueng Nalam, wilayah Bireuen .

6) Perbaikan pengaliran air Krueng Peudada, wilayah Bireuen.

7) Perbaikan pengaliran air waduk-waduk Sikamòh dan si 
Jaloh di Peudada, wilayah Bireuen.

8) Perbaikan pengaliran air Paya Geudubang dan Paya Jagat, 
dekat Bireuen.

9) Perbaikan pengaliran air Paya Minyeuk dan Paya Lipah serta perluasan pengaliran air Krueng Peusangan, wilayah Bireuen.

10) Pelaksanaan pengaliran air Krueng Leumut dan Krueng Tuan dalam kenegerian Sawang, wilayah Lhokseumawe.

11) Pelaksanaan pengaliran air yang baik dari Krueng Pase, wilayah Lhokseumawe dan Lhok Sukon.

12) Perbaikan pembuangan air areal sawah dekat Simpang Ulim, wilayah Idi.

13) Perluasan daerah pengaliran air krueng Julok Cut, wilayah Idi.

14) Pelaksanaan pengaliran air krueng Julok Rayeuk, wilayah Idi.

15) Pelaksanaan pengaliran air Krueng Idi Cut, wilayah Idi.

16) Pelaksanaan pengairan air Alue Buya, wilayah Langsa.
17) Perbaikan pengaliran air Krueng Bakongan, wilayah kenegerian bagian selatan Aceh.

18) Pelaksanaan pengaliran air Krueng Luas dalam kenegerian Bakongan, wilayah kenegerian kenegerian 
bagian selatan Aceh.

Perhatian: Dalam daftar ini tidak dicantumkan dua buah kelompok pekerjaan, yaitu:

1) Pekerjaan irigasi yang telah dilaksanakan oleh penduduk 
tanpa campur tangan Dinas Pekerjaan Umum atau sekurang-kurangnya dengan nasihat Dinas Pekerjaan Umum;

2) Pekerjaan-pekerjaan irigasi yang telah dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum kenegerian tanpa campur tangan Dinas Pekerjaan Umum atau sekurang-kurangnya dengan nasihat Dinas Pekerjaan Umum (terutama dalam daerah Kebupatian Aceh timur).

Sumber Tulisan Adi Fa

HARI PENOBATAN SULTAN ISKANDAR MUDA


Pagi itu, Rabu, 16 Zulhijah 1015 Hijriah, bertepatan 10 Februari 1607 Masehi. Sejak subuh, seiring terbitnya sang fajar hingga matahari memancarkan sinarnya menerangi bumi. Di istana darud dunia kerajaan Aceh Darussalam telah dibunyikan 101 letusan meriam, sebagai pertanda hari itu adalah hari penobatan Sri Paduka Yang Mulia Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam sebagai Sultan kerajaan Aceh ke 20, dari 40 Sultan/Sultanah yg pernah memerintah kerajaan di kerajaan Aceh, terhitung dari Sultan Johan Syah (1205-1255 M) sebagai Sultan Aceh pertama, hingga Sultan Muhammad Daud Syah (1884-1907 M) sebagai Sultan Aceh terakhir.

Dalam pengobatan Iskandar Muda sebagai Sultan yg akan memimpin kerajaan Aceh ketika itu, Syekhul Islam atau lebih dikenal Qadhi Malikul Adil saat memberikan sumpah penobatan kepada Sultan Iskandar Muda mengatakan:

"Rakyat menyembah raja dlm Zahir, tapi raja juga harus menyembah rakyat dlm batin. Sebab karena adanya rakyat barulah adanya raja. Sebesar-besar dosa bagi raja bila memerintah tidak adil. Maka rajalah yg menanggung jawab di hadapan Tuhan kita Yang Esa pada hari kiamat nanti. Karena itu, pimpinlah rakyat dgn sempurna danadil, supaya tdk menyimpang ke garis yg salah. Pergunakan segala hukum dan ilmu yg telah diatur dlm kitabullah, dan ikuti segala petunjuk Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabatnya serta empat imamnya. Tunjukilah sekalian rakyat yg gelap atau bebal kepada jalan yg terang dan cerdas," kata Qadhi Malikul Adil ketika melantik Sultan Iskandar Muda di atas batu tabal (batu Kramat) sebagai Sultan kerajaan Aceh Darussalam.

Usai pemberian sumpah oleh Qadhi Malikul Adil, Sri Sultan Iskandar Muda dgn gagah dan penuh wibawa dlm usianya 18 tahun berpidato di atas batu tabal (patu penyumpahan) sebagai ikrar mahkota (pidato pertamanya) di depan para hadirin yg hadir dlm upacara penobatannya sebagai Sultan yg akan memimpin kerajaan Aceh Darussalam. Lalu Sultan Iskandar Muda memulai ikrar mahkota pidatonya:

"Ampun...! Ampun Tuhanku. Ya Tuhanku, aku akan mengikuti segala titah dan suruhan-Mu. Ampunilah segala dosa ku. Jauhkanlah diriku dari segala pekerjaan yg mungkar. Tunjukkanlah oleh-Mu akan daku segala jalan yg tepat dan benar, dan lindungilah daku dari segala marabahaya-Mu. Hari ini hamba-Mu sekalian telah menabalkan daku akan menjadi badak khalifah-Mu untuk menjalankan titah dan suruh Rasul-Mu Nabi Muhammad SAW. Berat terasa oleh ku beban ini yg dipikirkan atas pundak ku. Oleh sebab itu, karuniakanlah kemurahan-Mu kepada ku dgn jalan yg  memberikan daku badan yg sehat, pikiran yg segar dan nyaman, supaya daku akan dapat memimpin rakyatku dgn Ridha-Mu.

Ya Tuhanku, lindungilah sekalian rakyatku dari pada marabahaya-Mu. Berikanlah akan mereka itu tenaga yg sehat, serta pikiran yg nyaman, supaya rakyatku dapat berbuat bakti kepada-Mu.

Ya Tuhanku, lindungilah oleh-Mu akan segala para ulama sebagai pelita alam ini dari segala marabahaya-Mu. Terangkanlah hati mereka itu, supaya dpt menuntun segala ilmu-Mu, dan jernihkan pikiran mereka itu, supaya jelas penunjukannya bagi semua rakyatku di dunia dan di akhirat kelak.

Wahai...sekalian rakyatku, aku telah bersumpah pada Tuhan-ku akan mengikuti segala titah suruhan itu kepadamu. Aku telah menerima tabalanmu dgn hati yg gembira. Aku berterimakasih kpd sekalian akan keridhaan dan kepercayaan akan daku yg tulus dan ikhlas. Akan tetapi, oleh karena kekhawatiran akan diriku yg bermata dua, bertelinga dua,  bertangan dua, berkaki dua, dan sifat-sifat keadaan badanku seperti keadaan manusia lainnya juga. Maka aku jelaskan sifat tubuhku seperti mata aneuh geulunjong daruet (seperti mata bebas berparuh belalang) utk menyempurnakannya.

Aku perlu mempunyai bantuan dari para ulama dan orang-orang besar dlm  negeriku. Mereka itu akan menjadi mata telinga dan kaki tanganku. Seperti yg engkau lihat sekalian, di kananku berdiri seorang yg memegang Quran kitabullah, itulah yg memelihara segala hukum Tuhan kita, dan diriku orang yg memegang pedang, itulah yg memelihara segala adat dan negeri kita. Terutama sekali kpd pemangku-pemangkunya dan pengikut-pengikutnya aku serahkan kepercayaan ku utk dpt menjalankan titahku dgn sempurna.

Ikutilah segala perintahnya yg benar dan tegahkanlah pekerjaannya yg karut dimana perlunya (benar ta ikot karot tateugah). Aku akan melindungi engkau sekalian wahai rakyatku dari pada kezaliman orang-orang besar dan hulubalang-hulubalangku. Akan tetapi, engkau sekalian wahai rakyatku juga harus menghormati mereka seperti engkau sekalian menghormatiku.

Demikianlah ucapan dan pesanku kpd sekalian yg hadir, mudah-mudahan pesan ini dpt disampaikan pula kpd seluruh rakyatku yg tdk dapat hadir dlm penobatanku pd hari ini.

Wahai sekalian para ulama, para Wazir perdana, orang-orang besar dan para hulubalangku, pimpinlah rakyatku akan jalan kebijakan dan perintahkan mereka dgn sempurna dan adil.

Ya Tuhanku, lindungilah kami sekalian dari pekerjaan yg mungkar, dan dari segala marabahaya-Mu". "Amiiiiiiin....", sahut hadirin dan seluruh tamu undangan saat Sultan Iskandar Muda mengakhiri pidato ikrar mahkota penobatannya sebagai Sultan kerajaan Aceh Darussalam ketika itu.

Repost from Are Lando