Memaparkan catatan dengan label Sejarah Islam Aceh. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sejarah Islam Aceh. Papar semua catatan

Sabtu, 5 Jun 2021

HARI PENOBATAN SULTAN ISKANDAR MUDA


Pagi itu, Rabu, 16 Zulhijah 1015 Hijriah, bertepatan 10 Februari 1607 Masehi. Sejak subuh, seiring terbitnya sang fajar hingga matahari memancarkan sinarnya menerangi bumi. Di istana darud dunia kerajaan Aceh Darussalam telah dibunyikan 101 letusan meriam, sebagai pertanda hari itu adalah hari penobatan Sri Paduka Yang Mulia Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam sebagai Sultan kerajaan Aceh ke 20, dari 40 Sultan/Sultanah yg pernah memerintah kerajaan di kerajaan Aceh, terhitung dari Sultan Johan Syah (1205-1255 M) sebagai Sultan Aceh pertama, hingga Sultan Muhammad Daud Syah (1884-1907 M) sebagai Sultan Aceh terakhir.

Dalam pengobatan Iskandar Muda sebagai Sultan yg akan memimpin kerajaan Aceh ketika itu, Syekhul Islam atau lebih dikenal Qadhi Malikul Adil saat memberikan sumpah penobatan kepada Sultan Iskandar Muda mengatakan:

"Rakyat menyembah raja dlm Zahir, tapi raja juga harus menyembah rakyat dlm batin. Sebab karena adanya rakyat barulah adanya raja. Sebesar-besar dosa bagi raja bila memerintah tidak adil. Maka rajalah yg menanggung jawab di hadapan Tuhan kita Yang Esa pada hari kiamat nanti. Karena itu, pimpinlah rakyat dgn sempurna danadil, supaya tdk menyimpang ke garis yg salah. Pergunakan segala hukum dan ilmu yg telah diatur dlm kitabullah, dan ikuti segala petunjuk Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabatnya serta empat imamnya. Tunjukilah sekalian rakyat yg gelap atau bebal kepada jalan yg terang dan cerdas," kata Qadhi Malikul Adil ketika melantik Sultan Iskandar Muda di atas batu tabal (batu Kramat) sebagai Sultan kerajaan Aceh Darussalam.

Usai pemberian sumpah oleh Qadhi Malikul Adil, Sri Sultan Iskandar Muda dgn gagah dan penuh wibawa dlm usianya 18 tahun berpidato di atas batu tabal (patu penyumpahan) sebagai ikrar mahkota (pidato pertamanya) di depan para hadirin yg hadir dlm upacara penobatannya sebagai Sultan yg akan memimpin kerajaan Aceh Darussalam. Lalu Sultan Iskandar Muda memulai ikrar mahkota pidatonya:

"Ampun...! Ampun Tuhanku. Ya Tuhanku, aku akan mengikuti segala titah dan suruhan-Mu. Ampunilah segala dosa ku. Jauhkanlah diriku dari segala pekerjaan yg mungkar. Tunjukkanlah oleh-Mu akan daku segala jalan yg tepat dan benar, dan lindungilah daku dari segala marabahaya-Mu. Hari ini hamba-Mu sekalian telah menabalkan daku akan menjadi badak khalifah-Mu untuk menjalankan titah dan suruh Rasul-Mu Nabi Muhammad SAW. Berat terasa oleh ku beban ini yg dipikirkan atas pundak ku. Oleh sebab itu, karuniakanlah kemurahan-Mu kepada ku dgn jalan yg  memberikan daku badan yg sehat, pikiran yg segar dan nyaman, supaya daku akan dapat memimpin rakyatku dgn Ridha-Mu.

Ya Tuhanku, lindungilah sekalian rakyatku dari pada marabahaya-Mu. Berikanlah akan mereka itu tenaga yg sehat, serta pikiran yg nyaman, supaya rakyatku dapat berbuat bakti kepada-Mu.

Ya Tuhanku, lindungilah oleh-Mu akan segala para ulama sebagai pelita alam ini dari segala marabahaya-Mu. Terangkanlah hati mereka itu, supaya dpt menuntun segala ilmu-Mu, dan jernihkan pikiran mereka itu, supaya jelas penunjukannya bagi semua rakyatku di dunia dan di akhirat kelak.

Wahai...sekalian rakyatku, aku telah bersumpah pada Tuhan-ku akan mengikuti segala titah suruhan itu kepadamu. Aku telah menerima tabalanmu dgn hati yg gembira. Aku berterimakasih kpd sekalian akan keridhaan dan kepercayaan akan daku yg tulus dan ikhlas. Akan tetapi, oleh karena kekhawatiran akan diriku yg bermata dua, bertelinga dua,  bertangan dua, berkaki dua, dan sifat-sifat keadaan badanku seperti keadaan manusia lainnya juga. Maka aku jelaskan sifat tubuhku seperti mata aneuh geulunjong daruet (seperti mata bebas berparuh belalang) utk menyempurnakannya.

Aku perlu mempunyai bantuan dari para ulama dan orang-orang besar dlm  negeriku. Mereka itu akan menjadi mata telinga dan kaki tanganku. Seperti yg engkau lihat sekalian, di kananku berdiri seorang yg memegang Quran kitabullah, itulah yg memelihara segala hukum Tuhan kita, dan diriku orang yg memegang pedang, itulah yg memelihara segala adat dan negeri kita. Terutama sekali kpd pemangku-pemangkunya dan pengikut-pengikutnya aku serahkan kepercayaan ku utk dpt menjalankan titahku dgn sempurna.

Ikutilah segala perintahnya yg benar dan tegahkanlah pekerjaannya yg karut dimana perlunya (benar ta ikot karot tateugah). Aku akan melindungi engkau sekalian wahai rakyatku dari pada kezaliman orang-orang besar dan hulubalang-hulubalangku. Akan tetapi, engkau sekalian wahai rakyatku juga harus menghormati mereka seperti engkau sekalian menghormatiku.

Demikianlah ucapan dan pesanku kpd sekalian yg hadir, mudah-mudahan pesan ini dpt disampaikan pula kpd seluruh rakyatku yg tdk dapat hadir dlm penobatanku pd hari ini.

Wahai sekalian para ulama, para Wazir perdana, orang-orang besar dan para hulubalangku, pimpinlah rakyatku akan jalan kebijakan dan perintahkan mereka dgn sempurna dan adil.

Ya Tuhanku, lindungilah kami sekalian dari pekerjaan yg mungkar, dan dari segala marabahaya-Mu". "Amiiiiiiin....", sahut hadirin dan seluruh tamu undangan saat Sultan Iskandar Muda mengakhiri pidato ikrar mahkota penobatannya sebagai Sultan kerajaan Aceh Darussalam ketika itu.

Repost from Are Lando

Jumaat, 4 Jun 2021

Keumala Ibu Kota Kedua Aceh


Nama Ibukota Aceh menimbulkan masalah yang agak khusus. Biasanya Ibukota disebut Aceh saja, atau Banda Aceh (kota Aceh), bila perlu dibedakan antara negara secara keseluruhan dan Ibukota. Namun, Belanda, setelah menundukkannya pada tahun 1874, apa yang disebutnya -dan ini salah- kraton Sultan, baru kemudian mengerti bahwa orang Aceh menyebut istana kerajaan itu “Kutaradja” (benteng raja). Istilah kraton merupakan upaya kolonial Belanda yang hendak menyamakannya dengan istana kerajaan di Jawa. Belanda karena itu menggunakan “Kutaradja” sebagai nama kota itu. Namun pada 1963 nama itu secara resmi diubah kembali menjadi Banda Aceh.

KEJATUHAN ibukota kerajaan Aceh, Kutaradja (sekarang Banda Aceh), dan Dalam (istana raja), ditandai dengan keberhasilan kolonial Belanda merebut Masjid Raya Baiturrahman pada ekspedisi keduanya. Penyerbuan ini membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh kolonial Belanda, setelah sebelumnya mengalami kegagalan memalukan pada ekspedisi pertama yang ikut menewaskan Jenderal J.H.R. Kohler pada 14 April 1873. Tepatnya di sebuah pohon besar yang kelak dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) –pohon itu ditebang setelah kolonial Belanda berhasil menduduki Kutaradja. Masjid Raya, yang dipertahankan mati-matian oleh Tuanku Hasyim Banta Muda, jatuh pada 6 Januari 1874. Ekspedisi kedua kolonial Belanda ini dipimpin oleh Jenderal Van Swieten.

Setelah kejatuhan Masjid Raya, tak lama kemudian, Sultan Mahmud Syah yang masih muda mangkat pada 26 Januari 1874 akibat wabah kolera yang mengganas pada waktu itu. Kolonial Belanda bahkan kehilangan sebanyak 1.400 serdadu sebelum Van Swieten meninggalkan Aceh, yang kebanyakan disebabkan oleh wabah kolera tersebut. 

Situasi darurat ini memaksa para pemegang kewenangan penting dalam kerajaan Aceh mengambil kebijakan dengan memindahkan ibukota kerajaan ke pedalaman Aceh pada akhir 1879, yang berada jauh di wilayah hulu sungai Pidie, yang bernama Keumala. Kekosongan kekuasaan pasca-mangkatnya Sultan Mahmud Syah segera digantikan oleh sultan muda berikutnya yang bernama Tuanku Muhammad Daud, yang kelak dikenal sebagai Sultan Muhammad Daud Syah. Ia dinobatkan sebagai Sultan Aceh di Masjid Indrapuri (yang berada di Aceh Besar), sekaligus merupakan Sultan Aceh yang terakhir (ke-35).

Tuanku Hasyim dan Sultan muda resmi bermarkas di Keumala. Mereka tidak lama kemudian didampingi oleh para pemimpin perlawanan yang paling penting –Teuku Paya, putra Nyak Hasan, Imam Lueng Bata, dan Teungku Sheikh Saman dari Tiro atau Teungku Tiro (Teungku Chik Di Tiro). Sebagai akibat dari semangat Hasyim dan kemampuannya mengatur segala sesuatunya, maka Keumala berangsur-angsur diterima sebagai ibukota kedua Aceh. Dan, dari sebuah kampung kecil, Keumala berkembang menjadi pusat pertanian dan perdagangan setempat yang cukup besar.

Pada tahun 1878, Teungku Tiro (1836-1891) menyusun kekuatan gerilya secara khusus dan mendirikan markas besar di Keumala. Bahkan, Teungku Tiro mendapatkan penghargaan istimewa dari Sultan Muhammad Daud dengan wewenang yang diberikan melalui Cap Sikureueng (Cap Sembilan) sebagai pemimpin agama tertinggi Kerajaan Aceh. Kegunaan Cap Sikureueng menegaskan kedudukan Teungku Tiro, serta berguna untuk melindunginya dari iri hati kaum uleebalang yang telah kehilangan pengaruh karena dia. Di antara kaum ulama, ada ulama yang memiliki pengikut setempat yang kuat, tetapi tidak ada yang dapat menandingi Teungku Tiro dalam perannya sebagai ahli teori dan ahli strategi perang suci. (Ibid, h. 272-273)

Sebagai ibukota kerajaan Aceh, Keumala menjadi saksi dalam kancah diplomasi terakhir kerajaan. Pada Juni 1888, Tuanku Hasyim mengirimkan undangan khusus bagi sisa anggota diplomat Aceh di Penang (sekarang masuk wilayah Malaysia), untuk memberikan masukan kepada para pemimpin Aceh. Di antaranya adalah Sheikh Kassim dan Nyak Abas. Orang yang disebut terakhir berhasil mencapai Keumala pada bulan September 1888.

Hasil satu-satunya yang penting dari misi ini adalah bangkitnya semangat pihak istana Aceh yang kembali mempertimbangkan untuk mendapat bantuan dari pihak luar. Kassim dan Abas sebelumnya telah menghubungi Sultan Abubakar dari Johor, dan menyampaikan kepada Keumala tawaran dari Abubakar untuk menyampaikan pandangannya dan menjadi penengah. Pada saat itu, Kerajaan Ottoman (Turki) menempatkan seseorang yang bernama Sayyid Muhammad al-Sagoff di Singapura, yang berperan mengurus berbagai kepentingan keuangan Sultan Turki.

Namun, bagi orang Aceh kontak ini memiliki makna yang khusus. Karena al-Sagoff pada waktu itu dianggap sebagai wakil tidak resmi Turki. Selain itu, penduduk Muslim di Singapura sedang bergembira, karena kunjungan Ertogroul, kapal perang Turki yang sedang menuju ke Jepang untuk menyampaikan sebuah tanda penghargaan kepada Kaisar Jepang. Kehadiran Ertogroul menyalakan semangat baru bagi Keumala. Pihak Aceh menganggap bahwa kapal Ertogroul merupakan bukti “unjuk kekuatan” Turki di Asia.

Al-Sagoff menanggapi keinginan pihak Aceh dengan mengirimkan utusan pribadinya, Sultan Ismail dari Selangor ke Keumala. Setelah beberapa kali tertunda, Ismail tinggal selama lima hari pada bulan Juli 1892 untuk mengadakan pembicaraan dengan pihak Istana Aceh. Abubakar juga ambil bagian dalam misi tersebut. Keduanya menyatakan bahwa mereka semata-mata bertujuan hendak mewujudkan perdamaian antara Belanda dan Aceh. Misi ini mengalami jalan buntu. Apalagi Kerajaan Ottoman masa itu sedang dalam kondisi “kritis”, keuangannya berada pada titik nadir dan instabilitas politik pun bergejolak hebat di Istanbul (ibukota Kerajaan Ottoman), jelang keruntuhannya pada abad ke-20. Pihak Turki tidak akan mampu lagi membantu Aceh, sebagaimana di masa lalu, dengan mengirimkan armada tempur dan peralatan perang tatkala Aceh menggempur Portugis di Malaka.
Pihak Aceh belum patah semangat dalam menghadapi realita tersebut. Karena tidak mendapatkan kabar yang diharapkan dari Ismail dan Abubakar, pihak Aceh kemudian mengirimkan surat permohonan bantuan yang ditujukan langsung ke Istanbul. Nahas, surat ini jatuh ke tangan kolonial Belanda, bukan kepada penerima semestinya, Turki. Ismail dari Selangor adalah utusan asing terakhir yang berkunjung ke Istana Aceh. (Ibid, h. 280)

Keumala terletak tidak jauh dari tempat kolonial Belanda mendirikan markasnya, Lameulo (sekarang Kota Bakti). Geografis Keumala yang dikelilingi hutan, berbukit-bukit dan memiliki sungai yang mampu menyediakan kebutuhan dasar pertanian untuk bercocok tanam, memenuhi kriterianya sebagai “perisai” untuk membendung laju gempuran serdadu kolonial Belanda –walau tidak untuk selamanya.

Perang Aceh tetap berlanjut. Tidak ada gencatan senjata, apalagi perdamaian, setelah kunjungan utusan asing dari Selangor, Ismail. Bagi kolonial Belanda, perang Aceh bukanlah perang yang mudah, alih-alih menguntungkan. Perang itu adalah perang paling mahal daripada semua perang kolonial di Asia Tenggara, yang menelan 14.000 jiwa serdadu kolonial Belanda dan paling tidak 100.000 jiwa orang Aceh dalam periode selama 40 tahun. Jumlah korban dari masing-masing pihak merupakan angka yang sangat “banyak” pada waktu itu, bila dibandingkan dengan populasi penduduk Aceh dan jumlah keseluruhan serdadu kolonial Belanda.

Sebagai Ibukota kedua Kerajaan Aceh pada akhir 1879, Keumala, tetaplah menjadi “saksi bisu” di masa berakhirnya salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara pada masa lampau. Tidak ada sisa artefak peninggalan Kerajaan Aceh yang dapat ditelusuri di Keumala. Kecuali, bukti dari catatan-catatan literatur masa silam. Perang Aceh-Belanda tidak memberikan “peluang” bagi pihak Kerajaan Aceh untuk membangun infrastruktur yang layak bagi Ibukota keduanya, Keumala. Walau demikian, tanpa ide memindahkan Ibukota Kerajaan Aceh ke Keumala, maka sudah lama Kerajaan mengalami keruntuhannya. Keumala-lah yang kemudian berperan penting bagi eksistensi Kerajaan Aceh, walau tidak untuk waktu yang lama.*

SUMBER : Fb Malikul Mubin

(I) Reid, Antony. Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.

PASAR AL MAHIRAH DAN KANTOR PUPR DIBANGUN DIATAS MAKAM RAJA RAJA

Darud Donya Aceh kembali surati Walikota Banda Aceh atas kegiatan pemusnahan situs sejarah makam para Raja dan Ulama oleh Pemko Banda Aceh.

Surat ini bernomor 31/SP/V/2021, tanggal 24/5/2021, perihal Pelestarian Situs Sejarah Terkait Proyek-Proyek Pembangunan Pemerintah Kota Banda Aceh.

Dalam suratnya Darud Donya menyatakan bahwa, melihat perkembangan yang terjadi di Kota Banda Aceh, kegiatan pembangunan proyek-proyek yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh selama ini telah banyak menggusur, memusnahkan dan menghilangkan banyak situs-situs sejarah terutama situs-situs sejarah makam para Raja dan Ulama.

Hal ini jelas bertentangan dengan UU Cagar Budaya, dan bertentangan dengan Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pemeliharaan Situs Sejarah dan Cagar Budaya Dalam Perspektif Syari’at Islam.

Pemusnahan ini telah terjadi dalam banyak proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemko Banda Aceh. Apalagi ditambah dengan sangat minimnya kepedulian dan perhatian Pemko Banda Aceh terhadap pelestarian peninggalan pusaka situs-situs sejarah Islam di Kota Banda Aceh, yang membuat Pemko Banda Aceh menelantarkan dan membiarkan situs-situs sejarah Islam menjadi terbengkalai dan musnah. Padahal Kota Banda Aceh adalah Kota Pusaka Bersejarah.

Kegiatan pemusnahan situs-situs sejarah yang dilakukan Pemko Banda Aceh dalam pembangunan Kota Banda Aceh, telah menghilangkan jejak sejarah tamaddun Islam Asia Tenggara di Aceh.

Contohnya seperti yang terjadi dalam pembangunan kantor Dinas PUPR Kota Banda Aceh, yang mana terdapat situs-situs sejarah makam khas para Raja dan Ulama Kesultanan Aceh Darussalam. Nisan-nisan besar tersebut dicabut dan dicampakkan dibuang di pinggir jalan, kemudian makam langsung ditimbun dan dibangun kantor Dinas PUPR Kota Banda Aceh.

Sampai sekarang makam para Raja dan Ulama mulia itu masih berada di bawah kantor Dinas PUPR Kota Banda Aceh, dan setiap hari diinjak dan dilindas oleh pegawai kantor Dinas PUPR Kota Banda Aceh.

Demikian juga yang terjadi dalam proyek pembangunan Pasar Al Mahirah Lamdingin. Situs-situs sejarah makam khas para Raja dan Ulama disitu langsung ditimbun dan dibangun bangunan pasar diatasnya.

Sampai sekarang makam-makam para Raja dan Ulama mulia itu masih berada dibawah Pasar Al Mahirah, dan setiap hari diinjak-injak dan dilindas oleh aktivitas Pasar Al Mahirah.

Sementara sebaran pusaka situs-situs sejarah makam para Raja dan Ulama di samping dan sekitar Pasar Al Mahirah Lamdingin dibiarkan terbengkalai oleh Pemko, dan menunggu musnah atau dimusnahkan.

Hal yang sama juga terjadi dalam pembangunan proyek TPA Sampah Gampong Pande, IPLT Gampong Pande, dan IPAL Gampong Pande.

Proyek BORR (Banda Aceh Outer Ring Road) yang tengah dalam proses pelaksanaan, juga telah berencana memusnahkan situs-situs sejarah yang berada di sepanjang jalur pembangunan jalan BORR.

Setelah memusnahkan makam khas para Raja dan Ulama di kantor Dinas PUPR Kota Banda Aceh, dan juga memusnahkan makam khas para Raja dan Ulama di Pasar Al Mahirah Lamdingin, selanjutnya sesuai penjelasan pejabat Pemko merencanakan akan membongkar, menggusur dan memusnahkan situs-situs sejarah makam para Raja dan Ulama lainnya di seputaran Kota Banda Aceh.

Maka jadilah proyek pembangunan Kota Banda Aceh menjadi proyek pemusnahan massal situs sejarah Islam di Aceh, padahal situs sejarah makam-makam para Raja dan Ulama adalah merupakan rekam jejak tegaknya dakwah Islam di Asia tenggara, yang seharusnya dipelihara dan dilestarikan untuk anak cucu generasi masa depan Aceh, juga sangat penting bagi dunia melayu dan dunia islam.

Berangkat dari keprihatinan atas pemusnahan situs-situs sejarah di Kota Banda Aceh yang dilakukan oleh Pemko Banda Aceh, maka Darud Donya meminta kepada Walikota Banda Aceh agar dalam pelaksanaan pembangunan proyek-proyek Pemko Banda Aceh, hendaknya melestarikan seluruh situs-situs sejarah Islam termasuk situs makam para Raja dan Ulama di seluruh Kota Banda Aceh.

Darud Donya menghimbau agar Walikota Banda Aceh dapat sedikit mempelajari tentang sejarah kegemilangan Kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kejayaan Islam di Kota Banda Aceh, dan belajar arti penting melestarikan warisan pusaka situs sejarah di Kota Pusaka Banda Aceh.

Darud Donya meminta agar Walikota Banda Aceh berhenti melecehkan dan memusnahkan situs sejarah makam para Raja dan Ulama, dan agar Walikota Banda Aceh dapat menghormati jasa-jasa para indatu mulia yang telah menjayakan Islam di Bumi Serambi Mekkah.

Surat ini ditembuskan kepada Pimpinan DPRK Banda Aceh, Kepala Ombudsman Perwakilan Aceh, Kepala Dinas PUPR Kota banda Aceh, Pimpinan MPU Aceh, dan Pimpinan MPU Kota Banda Aceh.

Selengkapnya Klik Disini

Bait Bait Syair Sultan Andalusia

Batu nisan Sultan Zainal 'Abidin Bin Mahmud, Wafat pada hari Selasa, 18 Muharram 923 Hijriah (9 Februari 1517).
Gampong Meunasah Meucat, Blang Me, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Luapan Sejarah di Penghulu Hari (Jum'at, 11 Rajab 1438)

Nasehat bagi Para Raja

Dalam "Kalilah wa Dimnah" ada satu ungkapan hikmah. Saya terjemahkan beberapa baris buah pena Ibn Al-Muqaffa' ini semampu saya:
"Orang yang tidak pernah puas memiliki bagian yang mencukupinya dari dunia ini maka matanya selalu menyimpan gairah kepada yang lebih dari itu, dan ia tidak pernah merasa khawatir dengan akibat yang akan ditanggungnya. Dia persis seperti lalat yang tidak rela dan tidak pernah merasa puas dengan pepohonan buah dan kembang-kembang yang wangi, lantas memburu air yang mengalir dari telinga gajah. Tapi apa hendak dikata, gajah memukulinya dengan kipasan telinga, dan ia pun akhirnya mati binasa."

Ungkapan tersebut, saya memahaminya begini—semoga tidak keliru:
Nafsu atau keinginan pribadi yang telah mengalami mutasi dan berubah menjadi sesuatu yang seolah-olah merupakan kebutuhan, lantas demi meraihnya berbagai alasan Machiavellis diberikan, tentu saja suatu hari, itu akan berbuntut risiko yang mengenaskan. Manusia dapat kehilangan segala-galanya gara-gara secuil nafsu yang dituruti. Pengalaman ini sesungguhnya saban zaman berulang tapi manusia yang kalap atau dipanikkan oleh tekanan keinginan dan kerakusan luput menuai pelajaran.
Kekuasaan memiliki pesona yang amat memikat begitu pula harta kekayaan. Kilauannya menarik, menggiurkan, sangat menggoda!

"Aku seperti lebah singgah di bunga Nailafur," kata Shatarbeh dalam Kalila dan Dimna, "tertawan oleh harum bunga, namum ketika senja tiba dan bunga terkatup, lebah terperangkap di dalamnya. Ia terkejut, panik lalu mati."

Ya, di ujung pesona dunia dan kekuasaan, ada belati tersembunyi siap menikam jantung, ada racun mematikan mengendap di dasar gelas, dan ketika itulah buah penyesalan pun harus ditelan meski demikian pahitnya.

"Siapa saja yang sesat dalam kekuasaannya, niscaya menjadi rendah dalam kemegahannya," begitu petuah para raja masa lalu yang disalin Imam Al-Mawardi (W. 450 H/1057 M) dalam karyanya "Nashihatul Muluk" (Nasehat Kepada para Raja).

Dalam nasehatnya bagi para raja, Imam Al-Mawardi juga menukilkan nasehat seorang bijak kepada seorang penguasa:
"Hai raja, dunia ini sesungguhnya negeri amal dan akhirat adalah negeri balasan. Maka, barangsiapa tidak beramal, ia tidak akan memperoleh balasan. Karena itu, bawalah dirimu berlalu di hadapan kesenangan hidup dunia tanpa sekali pun menoleh dan membelalakkan matamu padanya. 

Camkanlah olehmu, hai raja, bahwa tali kekang keselamatan berada dalam genggaman bencana; leher kesentausaan terkapit di bawah sayap kepunahan; dan pintu ketentraman selalu dikawal oleh hal yang menakutkan. Karena itu, apabila engkau berada dalam keadaan selamat, sentausa dan tentram, janganlah pernah lupa memperkirakan lawan-lawannya, dan janganlah kautempatkan dirimu pada sasaran panah kehancuran. Waktu adalah lawan manusia, maka siagalah menghadapi lawanmu dengan banyak melakukan amal."
"Apabila itu engkau lakukan, sungguh engkau tidak perlu lagi apapun wejangan!" demikian orang bijak itu mengakhiri kalimatnya sebagaimana dinukilkan dalam Nashihatul Muluk.

Apabila itu engkau lakukan, engkau pasti tahu bahwa memakan harta anak yatim, menyalahgunakan harta umum, melakukan praktik korupsi, sogok-menyogok, dan apa pun harta yang diperoleh dari menipu, mencuri serta berbagai tindak kejahatan dan kebatilan lainnya, semua itu telah dinyatakan oleh Tuhan sebagai "Huban Kabiran"; sebuah dosa yang teramat besar. Dan, engkau juga pasti akan tahu bahwa Tuhan Yang Maha Adil tentu tidak akan membiarkan begitu saja suatu hal yang telah dinyatakan-Nya sebagai dosa yang besar. Andai kata engkau tak mau perduli, Tuhan-Mu juga tidak butuh kepedulianmu untuk menyatakan keadilan-Nya, dan Dia pun tidak akan mempedulikanmu ketika menjatuhkan hukuman-Nya.

Sabda Nabi Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam : "Orang yang tidak mau perduli dari mana ia memperoleh harta, maka Allah pun tidak peduli kepadanya ketika ia dicampakkan ke dalam neraka." (Hadits riwayat An-Nasa'i dan Al-Bukhari dalam bab "Buyu' [Jual Beli]")
Apabila itu engkau lakukan, engkau pasti akan tahu, hai raja, baik kecil maupun besar kerajaanmu, bahwa kepemerintahan dan kepemimpinan penghulu kita, Nabi Muhammad Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam serta para Khulafaurrasyidin sesudah beliau, adalah untuk memelihara agama Allah dan kemaslahatan kaum Muslimin. Kabarnya, engkau juga meyakini Nabi dan mencintai para sahabat beliau. Karena itu, timbang-timbanglah olehmu, hai tuan raja, apakah hal-hal yang engkau lakukan selama ini termasuk dalam memelihara agama Allah dan kemaslahatan Muslimin?!

Apabila itu engkau lakukan, kau pasti tahu, hai raja, bahwa rakyat akan mengikutimu, membelamu, mendukungmu, apabila hatimu bersama mereka, dalam suka dan duka mereka, dalam tawa dan tangis mereka, dalam canda dan murung mereka. Maka berusahalah untuk sedikit bertenggang rasa dengan hidup mereka yang bersahaja, dengan mimpi-mimpi mereka yang bersahaja.

Dunia pasti akan berlalu.
"Kekuasaanmu tidak akan abadi selamanya, wahai Sultan, tidak juga pikiran-pikiran Ar-Razi," ujar Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi (W. 606 H/1210 M) di suatu ketika kepada seorang pemimpin legendaris Islam, Sultan Syihabuddin Al-Ghuri (W. 602 H/1206 M).
"Kita semua akan kembali kepada-Nya," tegas Al-Imam Fakhuddin Ar-Raziy mengingatkan.

Ucapan itu, meski kerap didengar, namun tetap saja menggetarkan jiwa Sultan Al-Ghuriy yang bening. Sultan tak mampu membendung air matanya yang kemudian mengucur deras, dirasakan betapa kecil dan rendahnya ia di hadapan Tuhan sekalipun sejarah telah menyaksikan sepak terjangnya yang tidak mengenal lelah dalam mengembangkan dan meninggikan agama Allah di anak benua India yang luas.

Pesan serupa telah pula disampaikan oleh para pendahulu tanah bertuah ini kepada anak cucu mereka yang mungkin adalah kita—enggan rasanya untuk memastikan!

Pada batu-batu nisan para sultan Samudra Pasai terpahat indah bait-bait syair yang pernah diucapkan Al-Mu'tamid bin 'Abbad (wafat 488 H/1095), sultan Bani 'Abbad terakhir di Sevilla (barat daya Spanyol):
قال المعتمد بن عباد :
الموت باب كل الناس داخله فليت شعري بعد الباب ما الدار
الدار جنة عدن إن عملت بما يرضى الإله وإن خالفت فالنار
وقال :
هما محلان ما للناس غـيرهما فاختر لنفسـك أي الدار تختار
ما للعبيد سوى الفردوس إن عقلوا فإن هفوا هفوة فالـرب 
الغفار

 Kematian ibarat sebuah gerbang, setiap orang pasti memasukinya
Oh andai saja kutahu negeri apa yang akan kujelang setelah gerbang itu!

Negeri itu adalah syurga 'adnin apabila perbuatanku diperkenan Tuhan
Namun jika tidak, maka ke nerakalah aku dilontarkan.

Di sana hanya ada dua negeri, tak ada yang ketiga bagi orang-orang
Maka tiliklah wahai diri, negeri yang mana kaujatuhkan pilihan!

Tiada lain bagi para hamba selain syurga Firdaus apabila mereka berakal
Tapi jika mereka tergelincir, maka Tuhan adalah Maha Pengampun.

Bait-bait syair ini kerap dijumpai terpahat pada batu-batu nisan peninggalan sejarah di Aceh. Salah satunya adalah pada batu nisan Sultan Zainal 'Abidin Bin Mahmud yang wafat Kota Sumatra (Samudra Pasai), hari Selasa, 18 Muharram 923 Hijriah (9 Februari 1517).

Petikan Inskripsi:
الموت باب كل الناس داخله فليت شعري بعد الباب ما الدارالدار
 جنة عدن إن عملت بما يرضى الإله وإن خالفت فالنار 
Petikan Inskripsi:
هما محلان ما للناس غـيرهما فاختر لنفسـك أي الدار تختار
ما للعبيد سوى الفردوس إن عقلوا فإن هفوا هفوة فالـرب الغفار

***
Anakku!

Dengan hati patah, ayah terpaksa mengakui bahwa kalimat-kalimat tadi terkhusus hanya untukmu. Tidak untuk yang lain, hanya untukmu!

Ini musim di mana pohon-pohon kepercayaan rubuh.

Ini musim duniawi mengaburkan arah lurus.
Ini musim di mana kolam-kolam batin keruh. Hanya satu kata yang dikira baik untuk diucapkan dan dimengerti: fulus. Lain itu, ucapanmu akan dianggap membingungkan.
Namun dari dalam dunia yang kabur ini, ayah melihatmu di berbagai pelosok negeri. Sorot matamu bagai kembang matahari, berbinar, siap menyibak kabut kegelapan.

Suatu hari kelak, engkau akan memimpin negeri ini. Engkaulah raja di masa depan. Bawalah kalimat-kalimat tadi bersamamu apabila kau yakin kebenarannya. 

Persenjatailah dirimu dengan kesungguhan hati dan kesabaran, dan jangan pernah mengumbar omong besar, karena itu tidak berarti, dan di depan Tuhan kau diadili.
Apabila datang waktumu kelak, dan ayah masih diberkahi umur, engkau akan mendapati ayah berada dalam barisanmu.
***
Bitai, 11 Rajab 1438
Oleh: Musafir Zaman
Dikutip dari group Facebook Mapesa.

Khamis, 20 Mei 2021

Warisan Islam Dunia Yg Remehkan Indonesia.

(Memperingati Hari Warisan Dunia)

Dari 4 Warisan Dunia di Indonesia untuk kategori cagar budaya, satupun tidak ada warisan tinggalan Islam di dalamnya. Merujuk pembagian periode kebudayaan yang umumnya dipakai, yaitu Pra-Sejarah, Klasik Hindu/Buddha, Islam dan Kolonial, hanya warisan Islam yang sama sekali tidak ada. Ke-4 warisan yang masuk daftar Warisan Dunia tersebut ke-empatnya juga hanya berputar di wilayah Jawa dan Bali yaitu Situs Sangiran (Pra-Sejarah), Candi Borobudur (Buddha), Candi Prambanan (Hindu), dan Lanskap Kultur Provinsi Bali (Hindu). Sedangkan untuk di Sumatera baru beberapa tahun yang lalu, hanyalah tinggalan kolonial Belanda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia yaitu, Kota Tambang Sawah Lunto, di Sumatera Barat. Tidak adanya warisan tinggalan Islam yang masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO bukan karena tidak ada warisannya, tapi karena tidak ada kepedulian yang besar dari negara bekas jajahan Belanda ini.

Padahal di Pulau Sumatera ada warisan Islam yang menjadi salah satu mata rantai paling penting dalam Sejarah Islam Dunia. Tidak lain adalah Kota Sumatra, sebuah bandar (kota pelabuhan) di pantai timur bagian utara Aceh  yang menjadi pusat peradaban Islam sejak abad ke-13 sampai kuartal pertama abad ke-16. Yang menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera dan Asia Tenggara. Begitu pentingnya kota ini terlihat dari banyaknya catatan penjelajah dunia yang menuliskan laporan tentang Kota Sumatra. Contoh yang paling terkenal adalah catatan Ibnu Baththuthah, Marcopolo, Tome Pires, dan Sulaiman Al-Mahri. Belum lagi ditambah catatan dari negara lain saat itu. Bukan hanya itu, jejak warisannya sampai sekarang masih dapat di saksikan, berupa struktur-struktur bangunan yang tidak pernah serius diteliti, kanal-kanal kuno, artefak budaya dan perdagangan, serta yang paling utama adalah kompleks makam kuno.

Warisan sejarah Islam di Kota Sumatra yang paling penting adalah kompleks-kompleks makam kuno yang sangat banyak jumlahnya. Untuk melihat betapa pentingnya kompleks makam ini sebagai bukti kemasyhuran kota Sumatra akan kami cantumkan sedikit beberapa daftar kecil kompleks makam tersebut. 

Kompleks Makam Kesultanan Periode I Dari Daulah Shalihiyyah Sumatra

Kompleks ini terdapat dua makam yang memuat nama sultan, yang pertama adalah makam Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (w.696 H/1297 M) yang dicatat sebagai Sultan atau raja Islam pertama di Asia Tenggara. Makam kedua adalah makam putra beliau yang juga seorang sultan yaitu Sulthan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad (w. 726 H/1326 M) beliau tercatat sebagai raja yang bergelar syahid paling awal di Asia Tenggara. 

Kompleks Makam Kesultanan Periode II Dari Daulah Shalihiyyah Sumatra

Di kompleks ini dari puluhan pasang nisan yang memuat belasan nama tokoh penting, di antaranya ada 5 makam yang memuat nama penguasa (sultan) yaitu, Sulthan Zain Al-'Abidin (w.808 H/1406 M), Al-Malikah Al-Mu'azhzhamah Nahrasyiah (w.831 H/1428 M), Sulthan Zain Al-'Abidin II (w.841 H/1438 M), Khawaja Sulthan Al-'Adil Ahmad (w.868 H/1464 M), dan Sulthan Zain Al-'Abidin III (w.878/1474 M). Dalam kompleks ini memuat beberapa monumen makam (cenotaph) yang didatangkan khusus dari kota pelabuhan Khambhat (Cambay) di Gujarat, yang satu di antaranya diakui sebagai nisan paling indah di Asia Tenggara.

Kompleks Makam Kesultanan Periode III Dari Daulah Shalihiyyah Sumatra

Kompleks yang membujur panjang (timur ke barat) ini sangat luar biasa, karena terdapat ratusan pasang nisan dan memuat puluhan tokoh penting. Dari daftar tokoh yang dimakamkan di kompleks tersebut tidak kurang dari 11 nama sultan telah dipahat di dalamnya. Yang juga tercatat sebagai kompleks makam yang memuat daftar sultan paling banyak di Asia Tenggara. 

Kompleks Makam Shadrul Akabir 

Kompleks makam keluarga ini begitu luar biasa, karena telah memuat nama seorang dari tokoh penting dunia. Makam yang terbuat dari marmer yang didatangkan khusus dari Khambhat, Gujarat ini bernama 'Abdullah bin Muhammad (w.816 H/ 1416 M). Di Kota Sumatra Beliau menyandang gelar Shadrul Akabir yang bermakna Pemuka Pembesar, ia adalah keturunan lurus dari Al-Mustanshir bi-Llah Khalifah 'Abbasiyyah di Baghdad. Di sampingnya bersemayam makam istrinya yang adalah salah satu anak seorang tokoh yang digelari Raja Dipertuan Agung (Al-Malik Al-Mu'azhzham), dan makam putranya yang juga ikut mengekalkan gelar "Al-Mustanshir bi-Llah" pada nisannya.

Kompleks Makam Sayyid Syarif 

Dari beberapa nisan yang ada dalam komplek makam ini, dua diantaranya monumen makamnya juga telah didatangkan khusus dari Khambhat (Gujarat), salah satunya memuat nama Sayyid 'Imaduddin bin Sayyid 'Izzuddin bin Ishaq Al-Hasani Al-Husaini (w.827 H/1424 N). Berdasarkan gelar dan tahun wafatnya beliau tercatat sebagai ahlul bait keturunan Rasulullah S.A W. yang paling awal di Asia Tenggara berdasarkan bukti epigrafi.

Selain kompleks makam di atas ada pula Kompleks Makam Khawaja Tajuddin, Kompleks Makam Tajul Muluk, Kompleks Makam Na`ina Husamuddin, Kompleks Makam Raja Khan, Kompleks Makam Raja Kanayan dan masih banyak lagi kompleks makam penting lainnya, yang masing masing kompleks makam sebagian besar memuat banyak nama tokoh penting yang tidak mungkin dapat ditulis dalam catatan kecil ini.

Kompleks-kompleks makam di atas hanyalah daftar pendek dari banyaknya tinggalan sejarah Kota Sumatra yang tokoh-tokohnya terkoneksi dengan pusat-pusat Peradaban Islam di dunia. Daftar itu hanyalah dimaksudkan untuk memberi sedikit gambaran betapa pentingnya dan betapa layaknya Kota Sumatra menjadi Situs Warisan Dunia, yang selama ini terpinggirkan dalam ruang kebudayaan. Jangankan untuk dikenal masyarakat dunia atau kawasan regional Asia Tenggara, untuk kancah nasional bahkan untuk di wilayah Sumatra saja, kota Islam bersejarah ini tenggelam dan seperti sengaja ditenggelamkan.

Pikiran semacam itu tidak dapat dihindarkan, karena kenyataan yang terjadi memanglah demikian. Jika kita lihat daftar Warisan Dunia di atas tentulah akan menambah lagi suatu keterangan bahwa warisan kebudayaan Islam di negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia ini sama sekali belum mendapat tempat, atau sama sekali tidak ada tempat untuk ia dapat disejajarkan dengan kebudayaan lainnya seperti kebudayaan Hindu/Buddha misalnya. Wajah kebudayaan Indonesia masih kental sekali didominasi oleh kebudayaan tertentu, juga bahkan kebudayaan suku bangsa tertentu yang secara rakus telah melumat kebudayaan suku bangsa lainnya. Padahal doktrinasi tentang "Kebhinekaan" selalu keras dan lantang dikemukakan setiap waktu dalam seluruh ruang apapun.

Ketidak-adilan, atau pembagian porsi yang tidak seimbang dalam bernegara, terlebih bagi hal kebudayaan telah menimbulkan rasa kecewa bagi banyak anak bangsa. Karena keadilan adalah pokok dari konsensus kita dalam bernegara, sesuatu yang menciderainya tentunya akan menimbulkan banyak hal yang tidak kita inginkan. Seperti timbulnya pikiran dan sekaligus semangat; bahwa untuk dapat membangun wilayah dan agar dapat berdiri sejajar dengan wilayah lainnya, suatu bangsa layak untuk berdiri di kakinya sendiri, lepas dari organisasi besar masyarakat (negara) demi mencapai keadilan untuk masyarakat di wilayahnya. Tentunya kita tidak ingin hal ini terulang dan terjadi. Tapi, semangat-semangat demikian sulit pula untuk diheentikan ketika rasa keadilan terusik.

Pemimpin Yang Adil

Dalam seluruh sistem tata kelola komunitas apapun di dunia ini termasuk negara, jenis kepemimpinan paling ideal adalah pemimpin yang adil. Karena itu pula Indonesia menempatkan banyak kata "adil" dalam dasar negaranya. Walapun sayangnya, kata itu masih sebatas untuk meramaikan ruang-ruang seminar, penataran, dan bahkan kebanyakan baru sebatas terpajang usang ditembok-tembok bangunan publik. Padahal negara dapat bercermin pada sejarah Kota Sumatra, kata keadilan itu telah lama disematkan untuk pemimpin-pemimpin Islam masalalu. Para sultan telah digelari oleh masyarakatnya Al-Malik Al-Adil  (Raja Yang Adil) pada batu-batu nisannya. Dalam hal membangun perekonomian, khususnya kebijakan fiskal dan moneter, otoritas kesultanan selalu memuat tulisan "Al-Malik Al-'Adil" dalam koin-koinnya sebagai pengingat, untuk memaknai dan melaksanakan kepemimpinan berdasarkan keadilan yang tentunya dilandaskan atas teks-teks hukum tertinggi, yaitu kitab suci (Al-Quran) dan suri tauladan Nabi (Sunah), yang juga ditambah oleh konsesus ulama (Ijma'), serta dilengkapi dengan sumber hukum seperti Qiyas. 

Pada peringatan Hari Warisan Dunia ini, kami sekedar ingin mengingatkan kepada seluruh masyarakat, terutama kepada penguasa, dan para-para pemimpin. Negara kita memiliki warisan kebudayaan Islam yang sungguh luar biasa. Sebuah permata di jalur sutra bahari dunia, kota Islam yang masyhur dan sangat bersejarah. Kota beradab yang telah merubah wajah Asia Tenggara, dan yang menentukan identitas ratusan juta masyarakatnya. Jejak dan warisan itu sangat pantas untuk ikut berdiri sejajar dalam kesatuan identitas kebudayaan bangsa di kancah dunia. Kota Islam Sumatra yang karena keagungan, peran besar, dan pengaruhnya itu namanya telah diabadikan untuk menyebut salah satu pulau terbesar di dunia. Tapi kini wilayahnya menjadi daerah terpencil dan tersingkir di suatu negara merdeka, dan hanya pasrah menunggu keadilan. 

Karena keadilan yang ditunggu tidak pernah hadir, dan sampai kini tidak juga terlihat tanda-tanda akan hadir, sambil menunggu tanah negeri ini benar-benar mandiri dan berdiri di kakinya sendiri, biarlah kami yang akan terus memberinya makna dan nilai, biarlah hanya kami yang mendaulatnya sebagai Kota Warisan Dunia.

Penulis  :  Arya Purbaya